Home / Berita / Internasional / Afrika / Jenderal Seleka: “Krisis Afrika Tengah Bisa Seperti Rwanda.”

Jenderal Seleka: “Krisis Afrika Tengah Bisa Seperti Rwanda.”

Pasukan pemelihara perdamaian di Afrika Tengah (anadolu)
Pasukan pemelihara perdamaian di Afrika Tengah (anadolu)

dakwatuna.com – Bangui. Seorang mantan jenderal dalam pasukan Seleka menyatakan keraguannya akan kemampuan pasukan pemelihara perdamaian PBB menghentikan aksi kekerasan dan menciptakan perdamaian di Afrika Tengah. Krisis di Afrika Tengah berpotensi untuk berkembang menjadi seperti krisis kemanusiaan di Rwanda. Seperti dilansir Anadolu, Senin (14/4/2014) kemarin.

Pada April 1994, suku Hutu yang merupakan penduduk mayoritas di Rwanda membantai suku Tutsi yang merupakan minoritas. Dalam pembantaian tersebut, lebih dari 800 ribu orang meninggal dunia, dan ratusan ribu wanita diperkosa. Krisis tersebut baru berhenti pada bulan Juli di tahun yang sama. Saat itu pasukan Front Nasional Rwanda yang dipimpin oleh seorang bersuku Tutsi berhasil menyingkirkan para ekstremis dan pemerintahan sementara yang mendukung pembantaian ke luar negeri.

Abdul Qadir Khalil, mantan jenderal Seleka yang beranggotan warga Muslim Afrika Tengah, menyatakan kepada Anadolu, “Jika pasukan PBB tidak bisa melindungi kota Bangui, bagaimana mungkin mereka bisa melindungi kota Priya yang berjarak 500 km dari ibukota? Telah terbukti mereka tidak bisa memberikan perlindungan kepada saudara-saudara kami di Kilometer 5 (distrik terpenting tempat domisili warga Muslim).”

Di kota Priya, puluhan orang berdemonstrasi menolak kedatangan pasukan Perancis. Untuk membubarkan demonstran, pasukan Perancis terpaksa menggunakan gas air mata. Jenderal Khalil mengatakan bahwa para demonstran berasal dari kalangan Muslim dan Kristen. Mereka semua menolak kedatangan pasukan Perancis.

Menurutnya, “Jiika pasukan Perancis datang ke sebuah tempat, maka pasti akan terjadi keributan antar warga. Warga Muslim dan Kristen sama-sama ingin menciptakan kedamaian, tapi pasukan PBB tidak bisa menundukkan milisi Kristen Anti- Balaka. Mereka telah menghancurkan lebih dari dua ribu rumah dan 75 masjid. Di waktu yang sama, tidak ada satu pun gereja yang menjadi korban. Apa yang bisa dilakukan lembaga internasional? Apa yang bisa dilakukan pasukan Uni Afrika menghadapi semua itu?”

Tentang keputusan PBB mengirimkan 10 ribu pasukan ke Afrika Tengah, Khalil mengatakan, “Keputusan ini sangat terlambat. Pengiriman pasukan baret biru bukan solusi. Misi mereka hanya seperti dagelan. Penyebaran pasukan bisa terealisir lima bulan mendatang, lalu siapa yang akan memberikan perlindungan hari-hari ini? Pasti ini adalah kesempatan untuk melakukan pembantaian sepuas-puasnya.” (mas/dakwatuna/anadolu)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Wakili Sikap PBB, Ban Ki Moon: Permukiman Yahudi Itu Ilegal