Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tiga Langkah di Depan Isu

Tiga Langkah di Depan Isu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (shutterstock.com / Jezper)
Ilustrasi (shutterstock.com / Jezper)

dakwatuna.com – Sepekan terakhir menjelang pencoblosan, frekuensi seliweran isu menderas. Tak hanya di udara, namun juga berkarung-karung selebaran. Hitam maupun putih. Kertas-kertas putih yang isinya tetap sangat hitam.

Sepekan terakhir saat perhitungan suara belum lagi usai, kesabaran harus berkejaran dengan kejelian. Dalam sehari, bisa lebih dari dua digit pertanyaan tentang ini itu. Benarkah isu caleg non muslim? Juga isu syi’ah nun di sana? Apalagi itu, caleg yang minta kembali dana politik? Iyakah ada caleg PKS begitu? Pasti fitnah. Gara-gara berita ini ada teman saya dan keluarganya yang mau golput. Atau minimal, tidak bakal memilih PKS!

Bukan cuma soal isu, namun nomor telepon ketua DPD atau ketua advokasi, juga tanya soal transfer liqo atau komplain kelakuan binaan. Di saat-saat sedemikian, semua tanya -baik yang menanti jawaban dengan tabah maupun yang marah-marah berprasangka-, maka di-endchat atau left group BBM. Karena kesal!

Mungkin, sudah resiko. Bahwa humas dianggap tahu segalanya. Melalui posting ini, pada ustadz/ustadzah dan kawan-kawan yang bertanya, sekali lagi mohon maaf bila tak semua tanya bisa direspon.

***

Bukan sekedar klaim bahwa kader PKS rerata well-informed. Isu dan berita bersisian dengan minimal satu juz sehari plus mawad liqo. Menimbang gempuran selalu dan utamanya berhembus lewat isu, di sebuah forum, saya sempat usulkan agar literasi media menjadi salah satu bagian kurikulum tarbiyah.

Bayanat atau klarifikasi dalam tempo cepat tentu akan sangat membantu kader meneruskan isu-isu -khususnya yang negatif – ke siapapun yang bertanya. Namun, situasi tentu tak bisa selalu seideal itu. Klarifikasi tak selalu bisa diharap secepat updet-an web Piyungan.

Bijak Jawa, ‘Ojo kagetan, ojo gumunan.’ Penting untuk diadopsi. Apalagi mengingat pengalaman kader PKS yang sudah menghadapi isu-isu lain yang jauh lebih dahsyat.

Demikianlah, maka kader bukan hanya harus diajari bersabar menunggu klarifikasi. Namun sekaligus secara mandiri pandai menglasifikasi dan menyeleksi berita.

Terkejut dengan berita caleg divonis pidana karena money politic? Juga bersegera gembira membaca broadcast vonis bebas LHI? Atau misalnya kebiasaan ‘syahwatul broadcast’, dengan ceroboh setiap broadcast beranak pinak tanpa sebelumnya mencari tahu kebenarannya?

***

Berusaha meletakkan diri selalu berada di depan isu? Berikut tiga prinsip ringkas yang sebaiknya dilakukan setiap menerima berita.

Pertama, selalu kedepankan prinsip tabayyun. Tak sulit untuk mengetahui apakah sebuah isu hoax atau nyata. Senantiasalah mencari link beritanya. Dari mana berasal? Apakah sumbernya kredibel? Obyektif dan adil kepada siapapun -bahkan kepada lawan politik?

Kedua, jika sumbernya -dianggap- kredibel, perhatikan dan teliti ulang konten beritanya. Bagaimana konteks situasinya? Apakah pihak yang terberitakan diberi ruang jawab yang sama? Media massa yang dianggap kredibelpun masih punya peluang melakukan ‘kesalahan’. Ihwal pengambilan keputusan suatu berita tayang atau tidak di suatu media, bagaimana tone yang dipilih dan lebih luas lagi apa itu konsep framing (pembingkaian), dst, Semoga bisa kita diskusikan di kesempatan lain.

Singkatnya, sulit menemukan presume of innocence ditegakkan dalam pemberitaan (mohon saya dikoreksi). Seseorang bersalah sebelum terbukti tak bersalah. Terbukti tak bersalahpun, opini telanjur terbentuk negatif. Sebaliknya, Anda pun patut curiga bila seseorang -secara berlebihan- diberitakan dengan citra yang selalu positif.

Itulah salah satu prinsip literasi media: kritisi, jangan telan bulat-bulat. Katanya kader PKS well informed, masa’ tiap baca berita dengan judul provokatif yang didahulukan sikap mudah terprovokasinya?

Ketiga, mulailah berpikiran terbuka. Publik telanjur punya stempel PKS sebagai partai yang harus tanpa cela. It’s ok! Jika politik uang dilakukan partai lain, sekotor apapun, sekasar apapun. Tapi tidak boleh terjadi di PKS. PKS harus fairplay. Partai lain boleh unfair -dan tetap menang pemilu.

Mulailah berpikir terbuka bahwa kita dididik jadi orang baik. Tapi peluang salah menunjukkan bahwa kita masih manusia. Jika tidak puas berada di jamaah manusia yang mencoba baik ini, saya akan sangat senang jika antum bisa menunjukkan komunitas mana yang bisa menegakkan mekanisme baik-buruk, reward-punishment yang jauh lebih baik, sempurna melampaui standar manusia,  jika ada.

Untuk para ikhwan pun akhwat, berita-berita lain masih akan beterbangan di hadapan. Maafkan jika ada qiyadah yang tak selalu segera mampu menjawab isu demi isu. Setidaknya, upgrade diri menjadi lebih literatif.

Dan sebagaimana posting-posting naif sebelumnya, posting inipun sangat membuka diri pada dialog dan kritik. Afwan, atas keterbatasan.

Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. (Huud: 88)

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Detti Febrina
Berkhidmat di dunia literasi media, tinggal di Bandar Lampung

Lihat Juga

Cara AKP Apresiasi Kader