Home / Berita / Internasional / Eropa / Saling Tuduh dalam Sidang Luar Biasa DK-PBB tentang Ukraina

Saling Tuduh dalam Sidang Luar Biasa DK-PBB tentang Ukraina

Sidang luar biasa DK-PBB membahas krisis di Ukraina (aljazeera)
Sidang luar biasa DK-PBB membahas krisis di Ukraina (aljazeera)

dakwatuna.com – New York. Dewan Keamanan PBB, menggelar sidang luar biasa membahas perkembangan krisis yang kian memburuk di Ukraina, Ahad (13/4/2014). Di waktu yang sama, pasukan Rusia dalam jumlah besar dikerahkan ke perbatasan.

Hal itu menyusul ultimatum yang dikeluarkan pemerintah Ukraina di Kiev kepada kelompok bersenjata yang menguasai beberapa gedung pemerintahan di timur Ukraina. Ultimatum memaksa mereka untuk meletakkan senjata sebelum jam 6 pagi waktu Greenwich.

Diadakannya sidang luar biasa itu adalah atas permintaan Rusia yang merupakan anggota tetap Dewan Keamanan. Rusia meminta sidang dilakukan secara tertutup, namun negara-negara Barat terutama Amerika dan Inggris bersikeras sidang dilakukan secara terbuka dan menghadirkan duta besar Ukraina di PBB, Yuri Sergeyev.

Menurut koresponden Aljazeera, sidang tersebut menjadi ajang saling melempar kritikan antara Rusia dan negara-negara Barat. Rusia dituduh sebagai pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya kerusuhan di wilayah timur Ukraina. Tindakan Rusia itu diambil untuk menekan pemerintah Kiev agar tidak menggunakan kekerasan terhadap rakyat Ukraina.

Sebelumnya, departemen luar negeri Rusia menuduh Ukraina merencanakan sebuah kejahatan dengan menyiapkan pasukan militer untuk memadamkan aksi kelompok bersenjata di wilayah timur Ukraina yang mendukung bergabung dengan Rusia.

Ukraina sendiri menuduh Rusia telah mendukung dan mendanai gerakan separatisme di timur Ukraina, hingga mereka menguasai beberapa kantor pemerintahan. Hal itu ditambah dengan langkah Rusia mengerahkan puluhan ribu personil pasukannya di daerah dekat dengan perbatasan, seperti disampaikan duta besar Inggris di PBB, Mark Lyall.

Menurut Lyall, gambar dari satelit menunjukkan adanya sekitar-35-40 ribu pasukan Rusia telah berada di perbatasan, lengkap dengan pesawat tempur, tank dan peralatan tempur lainnya. Masih ditambah lagi dengan keberadaan 25 ribu pasukan Rusia yang secara ilegal berada di Semenanjung Krimea. (mas/dakwatuna/aljazeera)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Rusia dan Israel Sepakat Terkait Nuklir Iran