Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Maka Aku Berusaha Memandang Adil Tentang Poligami

Maka Aku Berusaha Memandang Adil Tentang Poligami

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Poligami (inet)
Poligami (inet)

dakwatuna.com – Sudah cukup. Mari kita berdamai. Berdamai dengan syariat Tuhan yang nyatanya memang bisa menjadi pintu jawaban dari keresahan kehidupan kita. Walaupun, aku tegaskan, hanya sekali ini aku umumkan tentang satu hal yang telah bertahun-tahun aku tak adil terhadapnya. Hanya hari ini, esok bahkan sampai ajal menjemput, akan kuhindari tentang perdebatan ini, tak akan lagi kulayani kau yang mencoba-coba memancing taring dan tandukku bermunculan, sebab tak hanya satu dua tanduk , tapi sekujur badanku akan dipenuhi tanduk jika kau sengaja memancingku dengan persoalan ini. Jangan salahkan aku jika tandukku ini akan menusukmu sampai mati.

Bermula pada kau yang menembakku dengan perkataan, “Elo ga fair Za. Lo udah punya suami dan 3 anak. Mereka belum. Lo ga bisa memaksa mereka untuk menjadi kuat. Karena Lo ga bisa jadi contoh. Lo udah punya.” Sambil menyetir, kau tanpa ragu berkata seperti itu.

“Tapi kan Lo juga ga bisa dong, bilang gw lebih bahagia dari mereka hanya karena gw udah punya suami dan anak-anak. Lo pikir parameter kebahagiaan cuma dari situ? Trus, dimana konsep syukur nikmat yang selama ini didoktrinkan kepada kita? Masa iya, mereka ga bisa bersyukur dengan keadaan sekarang yang mungkin malah lebih-lebih daripada gw yang trus berjibaku menyambung hidup.”

“Zahra..Zahra… tetap, Lo punya apa yang mereka belum punya.” Sambil berkata seperti itu, sampailah kami pada sebuah tempat di mana seorang kawan perempuan yang sedang melaksanakan resepsi pernikahan.

Siapa mereka? Sebelum menjawab siapa mereka, ada baiknya aku utarakan apa yang menjadi pemikiranku tentang persoalan hidup nan pelik ini. Tentang genderang penolakan secara sadar yang kutabuhkan terhadap poligami. Ya, lagi – lagi tentang poligami. Maaf jika kau menjadi bosan.

Aku menjadi sangat ekstrim tentang persoalan ini. Menyerang dengan membuta. Persis para feminis liberal. Tanpa mau bertindak bijak apalagi adil. Apa sebenarnya yang membuatku kejam seperti itu? Menolak kenyataan bahwa poligami adalah halal dan menjadi pintu? Tentu saja karena budaya patriakal yang menghegemoni masyarakat kita. Dimana perempuan tak jua mendapatkan kebebasan untuk memilih jalan Tuhan yang banyak tersedia. Dia harus menurut pada kemauan laki-laki, termasuk soal poligami. Sudah harus menurut, tak diberikan pilihan dengan bebas, ditambah lagi dengan sikap canda dan guyonan tentang poligami. Yang sama sekali tidak lucu bahkan menjadikan kaum perempuan benar-benar menjadi objek yang bagus sekali untuk diinjak, untuk dianiaya.

Maka, akupun semakin menjadi-jadi, aku kobarkan api permusuhan terhadap persoalan ini, kukatakan pada para perempuan yang berada di lingkunganku agar mandiri dan memiliki posisi tawar dalam hidup. Harus kuat. Harus mampu berdiri di atas kaki sendiri. Tanpa sadar, bahwa aku melupakan sesuatu. Bahwa aku sendiri memiliki suami dan anak-anak, sedang yang aku serukan, belum sama sekali. Benar: ini tidak fair!

Bahwa aku terus memupuk diri dan bersiap jika suatu saat aku akan kembali sendiri itu memang benar. Tapi suka tidak suka, bahwa suamikulah yang sangat berperan besar dalam pembangunan itu. Seorang laki-laki, yang tanpanya dan tanpa se izin-Nya, aku tak akan bisa seperti ini.

Ya, mereka adalah para muslimah sholihat yang terus berusaha menyempurnakan ketakwaan. Aku ditempatkan pada posisi dimana mau tidak mau juga harus bertanggungjawab dengan kelangsungan hidup saudari-saudari muslimah yang lain. Tuhan menempatkan aku sebagai median dimana mata harus terbuka bahwa kondisi menjadi begitu timpang. Dimana banyak para muslimah sholihat dengan kesiapan menikah, begitu mapan dibarengi dengan generasi laki-laki yang notabene adalah anak-anak kandung gerakan dakwah yang begitu pengecut dengan pilihan menikah. Ini riil. Sangat nyata.

Dan para lelaki sholih bertanggungjawab itu sangat sedikit. Dibandingkan mereka, saudari-saudariku. Lantas bagaimana?

Jangan kau kira dengan begini aku dengan mudah menginginkan suamiku menikah dengan para saudari-saudariku itu. Walaupun suamiku adalah orang yang sangat cakap dan bertanggungjawab, tetap saja; aku bisa memilih dengan bebas. Aku berkuasa pada diriku sendiri, manakah Jalan Tuhan yang hendak dipilih. Sesuai dengan kesiapan hati dan keikhlasan jiwa. Ini yang pada akhirnya aku doktrinkan pada diri sendiri dan pada tiga anak perempuanku nanti. Berpikir dan bertindak secara adil dan merdeka.

Bertemulah aku pada adik perempuan seorang kawan yang sedang melaksanakan resepsi pernikahan itu. Kawanku juga. Seorang perempuan yang selalu berdzikir dan memiliki mimpi-mimpi besar. Tak terkecuali, mimpi membangun keluarga sakinah. Dan dengan sangat santai aku berkata, “Semoga kamu juga disegerakan.” Ada perubahan pada air mukanya, yang membuat nuraniku teriris pedih. Hingga mengatupkan lisanku agar tidak berkata, “Yang sabar ya…” Sebab hal itu hanya akan membuatnya semakin resah.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ketua Umum Bidang Pemberdayaan Perempuan Presidium Nasional KAMMI. Ketua Umum Gerakan Perempuan Indonesia (Genesia).
  • Ra

    Kaum perempuan protes, mereka tidak setuju dengan poligami. Yeah, gw rasa semua begitu. Wajar. Padahal kaum laki2 nggak pernah protes loh: kenapa sih Syurga yang kenikmatannya tidak akan pernah terbayangkan itu harus berada dibawah telapak kaki ibu(perempuan)? Dibawah telapak kaki! Wuih. Apa jangan2 Tuhan yang Maha Adil itu ternyata nggak adil, ya? :D

Lihat Juga

Sunnah Fitrah, Ladang Pahala yang Sering Terabaikan