Home / Berita / Opini / Saatnya Poros Keumatan dan Kenegaraan Menentukan Arah Baru Indonesia

Saatnya Poros Keumatan dan Kenegaraan Menentukan Arah Baru Indonesia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pilpres 2014 - ilustrasi (Foto: beritadewan.com)
Pilpres 2014 – ilustrasi (Foto: beritadewan.com)

dakwatuna.com – Pengamat politik Islam dari Universitas Indonesia, Dr Yon Mahmudi memprediksi partai-partai politik yang berbasis keumatan (Islam) berpeluang membangun koalisi membangun pemerintahan yang kuat dengan memajukan pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden pada Pilpres 2014.[1]

Lebih jauh, Yon Machmudi mengatakan koalisi partai keumatan bisa menjadi salah satu alternatif koalisi karena memiliki kedekatan ideologis. Disamping itu, konstituen partai-partai ini cenderung mudah dimobilisasi karena adanya ikatan emosional dan ideologis dengan partai.

Mencermati koalisi yang akan terjadi, aspek-aspek teoritis pun wajib dicermati oleh beberapa partai politik pelaku koalisi. Menyandingkan aspek teoritis bersama latar belakang koalisi strategis tadi, akan membentuk koalisi yang kuat, bertahan lama dan berorientasi kepada kebijakan yang memihak rakyat. Menurut Arend Lijphart (1984:48-49) di Indonesia ada empat teori yang memungkinkan untuk diterapkan:

  1. 1.      Minimal Winning Coalitions. Prinsip dasar dari koalisi ini adalah maksimalisasi kekuasaan atau sebanyak mungkin memperoleh kursi di kabinet dan mengabaikan partai yang tidak perlu. Koalisi tersebut dibentuk tanpa terlalu mempedulikan posisi partai dalam spektrum ideologi (Cipto, 2000 : 25).
  2. 2.      Minimum Size Coalitions. Koalisi ini terbentuk bila suatu partai yang memperoleh suara terbanyak akan mencari partai yang lebih kecil untuk sekedar mencapai suara mayoritas (Cipto, 2000 : 25).
  3. 3.      Bargaining Propotion Coalitions. Prinsip koalisi ini adalah memudahkan proses negoisasi dan tawar menawar karena anggota atau rekanan koalisi hanya sedikit. Akan tetapi, jumlah rekanan koalisi yang sedikit bukan merupakan jaminan bahwa koalisi akan berjalan lancar tanpa gangguan (Cipto, 2000 : 26).
  4. 4.      Minimal Range Coalitions. Dasar dari koalisi ini adalah kedekatan pada kecenderungan ideologis yang memudahkan partai-partai berkoalisi membentuk kabinet (Cipto, 2000 : 26)[2]

Prediksi para pengamat, paling tidak ada tiga koalisi yang akan terbentuk pada Pilpres 2014 mendatang:

1. Koalisi Pertama: PDIP (19.0%) dan Gerindra (11,80%) atau Koalisi partai oposisi

2. Koalisi Kedua: Golkar (14,30%), Demokrat (9,60%) Hanura (5,50%) dan Nasdem (6,90%) atau Koalisi artai besar

3. Koalisi Ketiga yaitu PKS (6,90%), PKB (9,20%), PAN (7,50%) dan PPP (6,70%) atau Koalisi partai tengah (Poros Keumatan) *(Catatan: data perolehan suara sifatnya sementara yang bersumber dari detik.com (quick count) per 10 April 2014.)

Tiga bentuk koalisi ini sangat menarik dan proporsional jika berlanjut pada Pilpres mendatang karena didukung oleh Kandidat Capres masing-masing partai yang kredibel dan kuat. Koalisi partai oposisi memilki Jokowi dan Prabowo  yang sudah lama digadang-gadang. Koalisi partai besar memiliki Abu Rizal Bakrie, Dahlan Iskan, Wiranto dan Surya Paloh yang juga sudah diorbitkan sejak lama. Koalisi partai tengah tidak kalah kuatnya karena telah memiliki calon-calon Presiden yang tidak kalah populernya yaitu Anis Matta/Hidayat Nur Wahid/Ahmad Heryawan, Mahfudz MD dan Hatta Rajasa dan yang lainya.[3]

Secara garis besar, hanya akan ada dua poros strategis yaitu Poros Keumatan dan Poros Nasionalis Sekuler. Pembentukan koalisi tidak ubahnya peristiwa lamar-melamar dalam proses pernikahan. Harus ada pelamar dan harus ada yang dilamar. Pelamar biasanya lebih aktif dan akan memimpin bahtera rumah tangga nantinya, sedangkan yang dilamar selalu dikondisikan pasif dan lebih banyak menunggu. Pelamar adalah sosok yang akan menjadi tulang punggung sedangkan yang dilamar akan menjadi tulang rusuk.

Selama ini, Poros Keumatan selalu digambarkan sebagai gadis cantik yang siap untuk dilamar oleh Poros Nasionalis Sekuler. Sehingga Poros Keumatan hanya dijadikan pendamping saja. Bila kurang diperlukan, dapat ditalak kapan saja. Fenomena ini dapat kita saksikan pada koalisi Poros Keumatan ketika Partai Demokrat memimipin setgab koalisi. Salah partai Poros Keumatan yang sangat kritis dan menyadari ini barulah PKS. Sehingga PKS menyatakan pada pilpres 2014 siap memimpin koalisi atau siap memimpin oposisi.

 

Poros Keumatan dan Kenegaraan Harus Menjadi Otak, Hati dan Tulang Pungung Indonesia

Indonesia adalah Negara yang majemuk. Negara besar dan mempunyai keanekaragaman potensi apabila bisa disatukan dalam satu barisan yang kuat dan stabil. Indonesia ini besar, tidak hanya bisa dipimpin oleh satu kelompok saja. Semua anak bangsa harus bergandengan tangan dan saling bekerjasama dengan rasa cinta, kerja cerdas dan keras dalam harmoni kebersamaan.

Kita adalah suatu bangsa yang bernama Indonesia. Bangsa ini telah melampaui identitas-identas kelokalannya memilih satu identitas bernama Indonesia. Kita sedang merancang nasib kita sendiri. Kita sedang menentukan peta jalan sejarah hidup kita sendiri. Indonesia saat ini harus bisa memberikan sumbangsih bagi peradaban dunia. Indonesia adalah salah satu dari sedikit  bangsa yang lahir dari klaim-klaim primordialnya. Karena beban berat tidak bisa kita pikul sendiri.

Pemilu 2014, secara umum semua partai tidak ada yang mendapatkan suara yang dominan. Rata-rata perolehan partai 7-15%, rata-rata merupakan partai menengah. Sehingga dalam pemilihan Presiden, mau tidak mau, partai-partai harus mengadakan koalisi dalam sistem Presidensial agar kuat di parlemen untuk menjalankan agenda-agenda pemerintahannya.

Selain itu, koalisi ini  harus mampu menghilangkan kegalauan Indonesia. Mengajak rakyat untuk tetap optimis, tidak menjual kecemasan walau masih banyak masalah yang belum kita selesaikan. Indonesia bukanlah Negara yang teramat miskin dan porak-poranda. Secara umum, kita telah menyelesaikan masalah kebutuhan hidup yang layak untuk rakyat kita. Indonesia adalah Negara menengah yang harus bisa melompat lebih tinggi yang akan membawakan kesejahteraan, mewujudkan keadilan dan kesejahteraan yang lebih luas dan merata.

Perkembangan dunia yang yang semakin flat (datar) dan pasar bebas, dengan diadakannya AFTA (ASEAN Community 2015) dalam waktu dekat ini, Indonesia harus bisa berperan dalam perkembangan peradaban dunia. Menentukan arah pertumbuhan ekonomi, memengaruhi dan menjadi teladan dalam mengatur aktivitas sosial politik dan kebudayaan serta ikut menjaga stabilitas keamanan dunia.

Intinya, Indonesia harus menjadi pemimpin negerinya sendiri dan berperan aktif dalam pergaulan dunia  baik Regional maupun Internasional. Indonesia harus bisa membagi berkah dan rahmah bagi dunia Internasional.

Poros Koalisi Keummatan dan Kenegaraan ini harus mampu menjadi otak, hati  dan tulang punggung Indonesia. Kita perlu memiliki mimpi besar dan menulis peristiwa besar dalam sejarah kebangsaan kita. Maka poros inilah yang akan menulis, menentukan sejarah dan masa depan Indonesia serta bertanggungjawab mengeksekusinya. Koalisi inilah yang akan bergandengan tangan dan memikul beban berat keindonesiaan bagi kontribusi kebaikan dunia.

Syarat-syarat Terbentuknya Poros Keumatan dan Kenegaraan yang Kuat

Ada beberapa persyaratan yang harus dipunyai poros ini agar menjadi otak, hati dan tulang punggungnya Indonesia:

  1. lapang dada untuk menentukan tokoh yang akan diusung menjadi calon Presiden dan Wakil Presiden.
  2. ada minoritas kreatif di parlemen.
  3. pandai membangun hubungan dengan kelompok kepentingan (corparatist group relations) aktor ekonomi, buruh, pebisnis, pengambil kebijakan.
  4. memberikan ruang perbedaan untuk kompetisi antar kelompok kepentingan (pluralist interest group relations)[4]
  5. mempunyai basis massa yang jelas, mudah dimobilisasi sesuai dengan bahasa zaman dan tuntutannya.

Geopolitik Partai-partai di Indonesia

Pemilu 2004 telah mengikis kuatnya polarisasi  politik aliran di Indonesia. Polarisasi  politik berdasarkan ideologi tidak lagi menyebabkan ketegangan di Indonesia. Karena hampir seluruh partai di Indonesia berbasis umat Islam. Jadi ketegangan antara Islam, Modernitas dan ke-Indonesiaan telah selesai.

Partai-partai semuanya menjadi lebih terbuka. Partai berbasis Islam menjadi lebih terbuka dan partai berbasis nasionalis selalu mempunyai sayap keislaman. Secara umum, geopolitik partai di Indonesia dibagi dalam tiga alur saja. Ada tiga kelompok kekuatan politik. Masih seperti di orde baru yaitu kelompok Sayap Kiri (Bantengis) Kelompok Sayap Kanan (Bintangis) dan Kelompok Menengah (Beringinis).

Sayap  Kiri mempunyai sifat psikologis yang selalu was-was terhadap potensi munculnya perbedaan berdasarkan latar belakang agama atau peletakan posisi agama khususnya agama Islam dalam tatanan konstitusional Negara. Derivasi dari kelompok ini adalah PDIP,  Gerindra, Nasdem dan PKPI. Atau jamak disebut Nasionalis Sekuler.

Sayap Kanan mempunyai sifat psikologis menilai kekuatan politik menyatakan bahwa agama merupakan bagian tidak terpisahkan dari roh dan semangat kebangsaan Indonesia, maka harus menjadi pondasi konstitusional Negara. Derivasi dari sayap kanan ini adalah PPP,PKS, PBB, PAN, dan PKB.

Sedangkan Sayap Menengah mempunyai sifat psikologis kekuatan politik dan agama merupakan bagian tak terpisahkan yang diperlukan adalah negosiasi antara politik dan agama dalam membangun pondasi konstitusional Negara. Derivasi sayap menengah ini adalah Golkar dan Hanura.

Sayap Kanan dan Menengah ini biasa disebut dengan Nasionalis Religius. Sayap Kanan dan Menengah inilah yang berpotensi membentuk koalisi Poros Keumatan dan Kenegaraan.

Sifat alamiah psikologis partai-partai ini secara spesifik bisa kita jelaskan sebagai berikut:

  1. Golkar dengan jargon Golkar barunya sudah sangat berubah dengan sifat psikologis Golkar di zaman orde baru.
  2. PKB merupakan intelektual muslim yang terfilter dari basis massa NU.
  3. PAN merupakan intelektual muslim yang terfilter dari basis massanya Muhammadiyah.
  4. PKS adalah anak biologis dan anak ideologis reformasi 1998. (anak kandung reformasi)
  5. PBB adalah basis massa dari partai masyumi modern yang mempunyai ide-ide yang brilian mengenai Islam dan kebangsaan.
  6. Hanura adalah Inti dari hati nurani Golkar.

 

Analisis Rekomposisi Koalisi Poros Keummatan dan Kenegaraan

Pertama, Poros Keummatan dan Kenegaraan yang ideal. Golkar, PKB, PAN, PKS PBB, Hanura dan PBB.  Sekitar 70% suara.

Kedua, PKS, PPP,PAN,PKB dan PBB sekitar 32%

Ketiga, Golkar, PKS  dan Hanura sekitar 30%.

Formasi di atas adalah konfigurasi pendekatan ideal terbentuknya Poros Keumatan dan Kenegaraan. Selain kemungkinan, ini masih ada kemungkinan formasi lain yaitu tidak terkutubnya koalisi yang akan terjadi.

Epilog

Indonesia sekarang ini harus menjemput takdirnya untuk menjadi lokomotif peradaban dunia. Kepentingan bangsa, umat dan Negara diatas segalanya. Poros Koalisi Keumatan dan Kenegaraan ini harus bisa berdiri di atas segala golongan. Tidak hanya menjadi payung, tenda besar tapi harus menjadi rumah besar bagi seluruh rakyat Indonesia. Politik adalah lapangan untuk bermain bukan untuk saling memerangi antar anak bangsa. Kekuatan riil politik sekarang ini bertumpu pada pelayanan kepada rakyat.

Hal yang menarik dari kemenangan meyakinkan dari AKP (Turki) yang meraih 49% pada Pemilu 30 Maret 2014 lalu, adalah para pejabat publiknya yang berlomba-lomba menunjukkan kekonsistenan pelaksanaan kebijakannya selama memimpin, bukan sekadar menjalankan program yang sifatnya temporer menjelang pemilu saja. Contohnya adalah walikota Ankara, ibukota Turki, yang konsisten membangun metro sehingga saat ini terdapat 3 jalur metro selama masa  kepemimpinannya. Istanbul bahkan memiliki 5 jalur.

Ketidakkonsistenan pejabat publik akan dimanfaatkan dengan cepat oleh lawan politiknya, bukan untuk dijatuhkan namanya, namun untuk dipraktekkan di daerah kepemimpinannya. Di sinilah terlihat, kompetisi dalam demokrasi membawa hikmah bagi masyarakat.

Salah satu partai yang sangat mungkin menjadi perekat dalam poros Koalisi Keumatan dan Kenegaraan ini adalah PKS. Alasannya, mereka adalah kelompok yang sangat berlapang dada dan terbukti mampu bertahan di tengah badai. Kepemimpinan ke depan memerlukan orang-orang yang teruji dalam kesulitan lalu mereka bisa melaluinya dengan baik. Mereka senantiasa memberikan berkah dan rahmat kepada semua orang. Mereka tidak besar. Karena peradaban besar tidak dibangun oleh banyak orang tapi oleh sedikit orang. Arnold Toynbee menyebutnya “Minoritas Kreatif”. [5]

Esensi dari politik persis seperti yang dijalankan  PKS,  masuk ke bidang politik atau demokrasi adalah semata-mata menjadi pelayan masyarakat untuk meraih ridho Allah, insyaa Allah. Dan saat ini, dengan meratanya kekuatan partai politik, kartu truf pilpres RI ada di tangan PKS. Karena ketika menghadapi badai rekayasa politik, PKS berdiri sendirian. Sehingga saat seperti sekarang ini bagi PKS adalah masa yang paling tidak memiliki beban psikologis apapun untuk menentukan langkah ke depan. Bisa fokus amar ma’ruf nahi munkar di oposisi, namun jika kader terbaik PKS diajukan sebagai Capres  untuk membentuk koalisi, platform PKS yang menekankan AYTKTM (Apapun Yang Terjadi Kami Tetap melayani) sebagai harga mati, mutlak untuk di-bargain-kan baik ke luar maupun ke dalam.[6]

 

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
KH. Sofyan Siroj Abdul Wahab, Lc, MM
Direktur Utama Qolbu Re-engineering (QR) Foundation. Ketua Yayasan Wakaf al-Ihsan Riau ( YWIR)

Lihat Juga

Pesan PKS kepada Peserta Aksi: Jaga Kebersihan dan Keindahan Taman Kota