Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Nabi Ya’qub AS dan Detik-Detik Terakhir Kematian

Nabi Ya’qub AS dan Detik-Detik Terakhir Kematian

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

﴿ أ َمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ﴾

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. (al-Baqarah [2]: 133)

Tergeletak di atas tikar maut, Nabi Ya’kub as tetap memikirkan keselamatan aqidah putra-putranya. Mulutnya tebata-bata menanyakan kiblat aqidah mana yang akan diikuti putra-putranya sepeninggalnya.

“Sepeninggalku, ke arah mana wajah aqidah kalian hadapkan? Tuhan seperti apa yang kalian sembah?” tanya Ya’kub as.

“Kiblat aqidah kami mengikuti nenek moyang; Ibrahim, Ismail dan Ishaq. Sembahan mereka itu juga sembahan kami,  Tuhan Yang Maha Esa.” Jawab mereka.

Nabi Ya’kub As tidak menanyakan label ketuhanan dari apa yang akan mereka sembah sepeninggalnya, tetapi dia menanyakan sifat-sifat seperti apa yang dimiliki Tuhan yang kelak mereka sembah.

Yah, wajar jika Ya’kub as menanyakan itu. Setibanya di Mesir, dia melihat aneka ragam aqidah. Ada yang menyembah api, patung dan hewan-hewan. Wajah-wajah ketuhanan itu yang menyebabkan dirinya prihatin terhadap keselamatan aqidah putra-putranya.

Aqidah masyarakat Mesir yang semu dipertuhankan, diabadikan dan dianugerahi sifat-sifat ketuhanan yang kekal. Masyarakat sosial yang terpuruk seperti ini wajib mendapatkan perhatian penuh dari orang tua.

Orang tua yang baik wajib memonitoring aqidah lingkungan masyarakat sekitar dan sejauh mana pengaruhnya terhadap anak. Bukankah tempat abadi orang tua di akhirat juga dipengaruhi oleh sejauh mana tanggung jawab didik orang tua terhadap anak? Bukankah ada orang tua yang sejengkal lagi kakinya akan melangkah masuk surga, tetapi ditarik oleh anaknya yang terjerumus ke neraka hanya karena orang tua ini melalaikan tanggung jawab didiknya terhadap anak?

Ya’qub as menyadari ini sepenuhnya sehingga iapun mewasiatkan aqidah ketauhidan di atas tikar mautnya untuk yang kesekian kalinya sebelum menutup mata dari pentas dunia.

Ya’qub di wasiat terakhirnya ini, seperti mendapat dua buah merpati cantik dalam sekali bidikan. Wasiat ini, selain bukti nyata kepedulian Ya’qub as terhadap tugas kenabian yang wajib mewariskan agama Islam yang bertauhid ke generasi-generasi Islam mendatang, iapun dengan sendirinya menyucikan dirinya dari dusta dan kebohongan orang-orang Yahudi yang mengklaim bahwa Ya’kub bagian dari mereka.

“Ya, Muhammad (penutup para nabi Allah)! Apakah Anda tidak tahu keyahudian Ya’kub? Apakah Anda lupa pesan keyahudian Ya’kub as yang terakhir kepada putra-putranya? Dia mewasiatkan aqidah Yahudi kepada mereka.” Ejek mereka.

“Wahai Muhammad! Ingatkan mereka dan ingatkan juga umatmu keislaman Ya’kub as dan putra-putranya. Yang diwasiatkan Ya’kub as bukanlah aqidah Yahudi. Tetapi Aqidah ketauhidan murni seperti yang diwariskan nabi-nabi Islam sebelumnya, sepeti Ibrahim, Ismail dan Ishaq.” Jawab al-Qur’an dengan lantang dan tegas.

Di samping itu, wasiat ketauhidan ini menegaskan keislaman para nabi Allah swt yang mendunia kebenarannya. Dari ayat 131-133 surat Al-Baqarah, kata Islam terulang 4 kali dengan variasi morfologi (perubahan makna yang mengikuti perubahan yang terjadi di kata dasar). Gaya bahasa seperti ini menegaskan hakikat kebenaran Islam sebagai agama yang diridhai Allah, tidak dibatasi waktu dan seperti cahaya yang setiap waktu siap memberi terang kepada siapa saja yang ingin menyinari diri dari kegelapan aqidah-aqidah yang tidak menuhankan Allah Yang Mahaesa.

Inilah kata-kata Islam yang digarisbawahi secara bervariasi dari koleksi ayat-ayat surat al-Baqarah sebagai salah satu bukti kemegahan Islam yang senantiasa memberi kecemerlangan hidup dari sudut pandang apapun atau dengan kaca mata waktu apa saja Anda melihatnya:

﴿إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ [٢:١٣١] وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ [٢:١٣٢]أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ﴾

Keempat kosa kata Islam dengan variasi bentuk masing-masing menyangkal aqidah arab jahiliah yang mengakar dalam adab ketuhanan mereka. Setiap kabilah arab punya agama masing-masing yang terhitung benar dan hak oleh mereka sendiri. Mereka mengaku sebagai umat beragama seperti aqidah agama Ibrahim dan Ya’kub as, meskipun mereka juga tetap menyembah berhala. Yahudi dan Kristen pun mengaku sebagai umat beragama yang mengikuti aqidah nabi-nabi Bani Israil, meskipun praktek aqidah dan ibadah mereka tiap harinya jauh dari kemurnian aqidah ketuhanan nabi-nabi mereka sendiri.

Di akhir penggalan kisah Ya’kub as, saya mengajak para pendamba husnul khatimah untuk memetik hikmah kehidupan seperti pesan kematian ayat di atas,

“Ingat dan ingatkan keturunan Anda tentang tauhid murni yang Mengesakan Allah Yang Tiada duanya. Di layar kehidupan Anda, Ya’qub as adalah teladan yang baik. Meskipun keturunannya dari nabi-nabi Allah, tetapi dia tetap mengingat tanggung jawabnya sebagai orang tua yang wajib mewasiatkan aqidah yang bertauhid sepeninggalnya.

Tanggungjawab, tetap tanggung jawab. Aqidah tauhid tetap aqidah tauhid. Jangan sepelekan tanggungjawab sebagai orang tua dan jangan pernah ingin melepaskan diri dari ikatan tauhid yang benar! Yang rugi, mereka yang menyepelekan tanggungjawab ketauhidan terhadap generasi umat mendatang.

Tutuplah lembaran terakhir layar kaca kehidupan dunia Anda dengan meminta putra-putri Anda untuk menigkuti kiblat nabi-nabi Allah swt yang mengesakan Allah swt dalam aqidah tauhid yang benar! Ikuti mereka dan jangan pandang sebelah mata!”

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (17 votes, average: 9,53 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.
Pensyarah antar-bangsa (Dosen) Fakulti Pengajian Alqur'an dan Sunnah, universiti Sains Islam Malaysia (USIM).Degree, Master, Phd: Universiti Al-Azhar, Cairo. Egypt

Lihat Juga

Ilustrasi. (Google Plus)

Memukul Anak Dalam Perspektif Pendidikan Islam

Organization