Home / Narasi Islam / Life Skill / Kekuatan di Balik Kelemahan

Kekuatan di Balik Kelemahan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
kekuatan-kelemahan
kekuatan-kelemahan

dakwatuna.com – Tersebutlah tiga hewan yang senantiasa bermain dan melepas waktu bersama di hutan antah berantah yang terletak di pulau anonim.

Sang Kelinci berbulu putih yang tampak terawat bersih bulu-bulunya, dengan daun kuping memanjang menjadikannya memiliki kadar pendengaran tajam di atas rata-rata hewan pada umumnya. Si Merak lain lagi, dengan bulu warna-warni indah tampak mengundang decak kagum hewan lainnya untuk sekedar melihatnya. Apalagi si Merak dikaruniai kepiawaian dalam bernyanyi sehingga menyihir khalayak pendengarnya.

Keduanya tampak sempurna dan terlihat tidak kurang satu apapun dalam kehidupannya. Namun mereka berdua tampak berbeda bagai bumi dan langit dengan sahabat mereka Landak. Ia tidak memiliki bulu indah dan berwarna-warni seperti kedua sahabatnya. Tubuh Landak didominasi oleh warna kusam tidak cerah seperti tampak selalu basah dan lengket di sekujur tubuhnya. Hal inilah yang terkadang membuat minder si Landak bilamana mereka bertiga sedang bermain bersama.

Sampai suatu waktu, ketika mereka bertiga sedang bermain bersama di tepian danau, melalui indra pendengarannya yang tajam, Kelinci mendengar suara mencurigakan yang sedang mengintai mereka bertiga. Dalam kepanikannya, mereka dapati sekonyong-konyong seekor Serigala Pemangsa sudah berdiri di hadapan siap menerkam mereka bertiga.

Tanpa pikir panjang,  sang Kelinci dan si Merak mengambil langkah panjang meninggalkan lokasi terbuka tempat mereka bertiga bermain itu. Mereka berdua lari sekuat tenaga meninggalkan si Landak yang seperti meringkuk menahan takut terhadap Srigala Pemangsa yang kian mendekatinya.

Namun tak dinyana, di tengah kekalutan landak dalam ringkuknya, tiba-tiba saja ringkukan Landak itu berubah menjadi sebuah ringkukan duri-duri tajam yang siap menghunus siapa saja yang berada di dekatnya. Tiba-tiba saja, seekor hewan Landak yang peminder dan selalu tampak tidak percaya diri akan penampilannya itu berubah menjadi seperti monster dengan keseluruhan tubuhnya dibungkus duri-duri tajam terhunus.

Dan, dalam sekejap, Serigala yang sebelumnya siap memangsa korbannya berubah ciut menatap kosong penuh takut kepada segumpalan seperti bola yang penuh duri tajam dan terhunus dihadapannya. Sampai akhirnya, Serigala Pemangsa tersebut lari tunggang langgang dengan berulang kali menoleh ke belakang seolah tidak percaya akan adanya perubahan bentuk calon korbannya.

———————————

Teman…

Seringkali kita merasa seperti sang Landak dalam cerita di atas. Yang selalu apriori terhadap diri kita sendiri dan tidak percaya terhadap kemampuan yang kita punya. Kita seperti orang lemah dan loyo ketika dihadapkan kepada tantangan dan permasalahan hidup. Kita menyerah seketika dengan alasan karena kekurangan dan kelemahan yang melingkupi kita.

Padahal, kita sadari bahwa Allah Sang Pencipta menciptakan kita dalam kadar racikan yang paling sempurna dengan potensi kekuatan yang terselip sekaligus juga kekurangan atau kelemahan yang mengimbangi potensi kita. Seperti itulah hukum alam berjalan yang sengaja didesign oleh Sang Maha Menciptakan. Ada kuat ada lemah, ada tinggi ada pendek, ada pintar ada bodoh, ada siang ada malam dan seterusnya.

Namun, Sahabatku…

Sangat sedikit di antara kita yang fokus pada kekuatan guna mengembangkan potensi yang ada dalam diri. Dan dalam waktu bersamaan dapat menerima segala hal kekurangan dan kelemahan yang ada padanya. Namun sebaliknya, kebanyakan kita sangat fokus dan berkonsentrasi pada kekurangan dan kelemahan diri. Di lain pihak, ia abai terhadap kelebihannya sehingga potensinya tidak tergali secara sempurna.

Padahal, kekuatan dan kelemahan memang sengaja diciptakan-Nya dalam waktu yang sama untuk menjadi pelajaran hidup. Bagaimana kemudian kita dapat mensyukuri kekuatan dan fokus padanya sehingga tergalilah potensi-potensi yang ada pada diri secara sempurna. Dalam waktu yang sama, bagaimana kita dapat menerima apa adanya kekurangan, tanpa perlu mengutuk dan meratapinya.

Jadi…

Mulai saat ini, fokuslah pada kekuatan diri dan galilah terus potensi itu sampai pada titik terdalam. Terimalah apa adanya segala hal yang menjadi kekurangan dan kelemahan kita. Tanpa perlu meratap sedih akan hal itu.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 7,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Extraordinary person wanna be | Husband of Amazing Woman | Father of 3 Remarkable Sons | Love Travelling, Networking, Reading & Sport

Lihat Juga

Optimalisasi Potensi Indonesia Dalam Perkembangan Keuangan Syariah