Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kurikulum Integrasi Membentuk Kecerdasan Universal

Kurikulum Integrasi Membentuk Kecerdasan Universal

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Untuk memiliki pandangan yang utuh tentang bentuk suatu benda, benda tersebut minimal dilihat dari empat arah pandang. Yaitu tampak depan, tampak belakang, tampak samping kanan, tampak samping kiri. Apabila dilihat dari satu arah pandang maka hanya akan diperoleh informasi pada satu arah pandang tersebut dan kita tidak akan mendapatkan pengetahuan apapun bentuk benda lagi karena tidak dilihat dari arah yang lain.

Sebagai contoh, apabila kita melihat gambar gajah dari tampak depan saja tanpa melihat bentuk tampak samping dan belakang maka tentu kita tidak akan dapat membayangkan bentuk gajah seutuhnya. Inilah yang dinamakan pandangan parsial. Sedangkan ketika kita telah melihat gajah dari segala arah sehingga dapat membayangkan bentuk gajah secarah utuh, inilah yang dinamakan pandangan universal (menyeluruh). Pandangan parsial dan pandangan universal ini merupakan satu bentuk perumpamaan tentang hasil pendidikan. Dan ini erat kaitannya dengan jenis kurikulum yang diterapkan dalam sebuah lembaga pendidikan.

Kecerdasan Parsial

Lembaga Pendidikan kita sekarang ini mengajarkan materi pelajaran secara parsial, ada mata pelajaran matematika, bahasa indonesia, fisika, agama dan lain-lain seperti yang termaktub dalam muatan kurikulum sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. Mata pelajaran tersebut diajarkan dalam lembaga pendidikan secara terpisah seolah-olah mata pelajaran tersebut dapat berdiri sendiri dalam kehidupan nyata tanpa membutuhkan peranan mata pelajaran yang lainnya. Pengajaran mata pelajaran secara terpisah tersebut akan menghasilkan output anak didik memiliki kecerdasan parsial. Ciri-ciri umum kecerdasan parsial adalah ketika anak didik tidak akan mampu menghubungkan kondisi satu dengan kondisi yang lainnya dengan matang, tidak akan memiliki kemampuan ekstra untuk mengemas permasalahan yang beragam dalam satu titik temu. Atau tidak memiliki pengetahuan luas untuk melihat, memikirkan dan menyelesaikan masalah dengan berbagai jalan dan cara.

Kecerdasan Universal

Contoh dalam kehidupan berkeluarga ketika menjalani kehidupan, sebuah keluarga harus memiliki banyak ilmu untuk tetap bertahan hidup dan beranak-pinak. Mereka harus memiliki ilmu Agama yang paling utama, ilmu sosial, terutama ilmu psikologi tentang berkeluarga, ilmu ekonomi untuk menghidupi keluarga, ilmu sosiologi untuk dapat bermasyarakat dengan baik. Juga harus memiliki ilmu eksak. Seperti ilmu arsitektur untuk mendesain tata letak interior rumah tempat tinggal, ilmu matematika untuk dapat menghitung tingkat kebutuhan hidup keluarga seiring dengan bertambahnya anggota keluarga, ilmu fisika untuk memahami kendaraan yang dipakai, ilmu biologi untuk mengetahui masa perkembangan anak dan seterusnya. Semua ilmu tersebut terintegrasikan dalam satu keluarga. Artinya ketika seseorang menjalani hidup, ilmu tersebut dipergunakan oleh seseorang secara terpadu, menyatu dan memiliki hubungan satu sama lain yang tidak mungkin berdiri sendiri. Apabila salah satunya tidak ada atau kurang, maka akan terjadi kepincangan dalam menjalani keutuhan dalam hidup berumah tangga. Demikian juga kurikulum dari suatu lembaga pendidikan diharapkan dapat menyatupadukan berbagai macam disiplin ilmu yang terkait dengan mata pelajaran yang diajarkan agar ilmu tersebut menjadi ilmu hidup. Agar anak didik mampu mengaplikasikan ilmu tersebut terpadu dalam kehidupan nyata. Inilah yang penulis istililahkan dengan Kurikulum Ilmu Hidup, atau disebut juga disebut Kurikulum Integrasi. Dengan Kurikulum Integrasi inilah akan mewujudkan output anak didik memiliki Kecerdasan Universal.

Kurikulum Integrasi Membentuk Kecerdasan Universal

Untuk membentuk kecerdasan universal yang paling signifikan secara global diraih dengan perpaduan dualisme ilmu : Agama dan Umum. Dimana selama ini, dua ilmu itu dalam masyarakat masih dianggap terpisah dan berbeda. Indonesia, negara yang kita cintai ini tidaklah bodoh dan tidaklah kekurangan orang cerdas. Akan tetapi sangat kurang orang yang memliki kecerdasan universal. Banyak orang cerdas di Indonesia yang miskin nilai-nilai agama. Banyak orang memiliki agama tetapi tidak memahami ilmu sosial politik ekonomi ataupun eksakta. Apabila hal ini dibiarkan terus, akan memberikan dampak buruk dalam perkembangan dan masa depan Indonesia. Akan tumbuh generasi penerus Indonesia yang cerdas tetapi tidak baik, dan yang baik tetapi tidak cerdas sehingga gampang dibodohi. Cerdas karena mampu menjadi anggota DPR, pejabat atau yang lainnya tetapi korupsi. Atau baik karena menjadi orang sholeh panutan masyarakat, tetapi tidak mengerti kebijakan politik yang akan mendukung kemaslahatan umat atau merusaknya sehingga gampang menurut atau mendukungnnya tanpa filter. Atau tidak mengerti IPTEK dan di kalangan pelajar banyak yang cerdas tetapi banyak juga yang tawuran, pergaulan bebas dan narkoba. Hanya ada satu solusi jitu dalam benak penulis untuk mengatasi permasalahan ini, yaitu bentuk kecerdasan universal.

Setelah kita memahami bahwa kecerdasan universal paling signifikan diraih dengan perpaduan ilmu Agama dengan ilmu umum, maka selayaknya dan seharusnya semua mata pelajaran diintegrasikan dengan ilmu Agama Islam.

Contoh Kurikulum Integrasi

Salah satu contoh Kurikulum Integrasi yang dapat membentuk kecerdasan universal yaitu perancangan materi pelajaran matematika yang dintegrasikan dengan Agama Islam di Sekolah SMP Terpadu Darussalam sebagai berikut :

Dalam Matematika kita mengenal Teorema Phytagoras. Untuk mengitegrasikan mata pelajaran ini, Guru menyuruh anak didik untuk membentuk kelompok guna membuat layang-layang. Berikan pada setiap kelompok  panjang benang yang telah diukur dan busur derajat. Ketika layang-layang telah mengapung di udara dengan panjang benang yang telah ditentukan, ukurlah sudut antara benang dan tanah (sudut A). Kemudian carilah ketinggian layang-layang dengan mengunakan sinus sudut tersebut dengan menganggap benang yang terbentang adalah lurus tidak melengkung atau membentuk kurva, yaitu y = r Sin A. Untuk mengukur jarak pangkal benang ke layang-layang secara horisontal dapat dihiting dengan menggunkan rumus phytagoras, yaitu x2 = r2-y2. Hal ini akan membiasakan anak berfikir realistis bagaimana rumus phytagoras dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu diintegrasikan dengan fisika, dengan menghitung besar gaya gesek angin pada layang-layang. Untuk mengetahui besar gaya gesek udara terhadap layang-layang, pangkal benang diikat dengan batu kecil. Apabila batu tersebut masih terbawa oleh gaya gesek angin pada layang-layang, gantilah dengan batu yang agak besar sampai ditemukan titik seimbang berat batu, yang hampir terbawa gaya gesek angin pada layang-layang. Tetapi jangan sampai terbawa. Lalu ukurlah berat batu tersebut. Maka ditemukanlah besar gaya gesek angin. Hal ini akan membiasakan anak berfikir numerikal. Bagaimana sesuatu yang tidak kelihatan yaitu gaya gesek angin pada layang-layang diterjemahkan dalam bentu angka. Demikian contoh bentuk integrasi, dari mata pelajaran matematika kita telah memadukan seperti satu kesatuan dengan mata pelajaran fisika dalam kehidupan nyata tanpa berpikir parsial.

Nah, yang akan membentuk kecerdasan universal adalah kemampuan guru mengintegrasikan pelajaran umum di atas dengan ilmu Agama Islam. Yaitu dengan mengajak anak didik memikirkan bagaimana layang-layang bisa terbang? Anginlah yang menerbangkannya. Gambarkan sketsanya dalam bentuk segitiga siku-siku sehingga dapat dihitung menggunakan theorema phytagoras. Kaitkan dengan bagaimana fungsi angin dalam al-Qur’an. Mengapa perlu angin diciptakan dan mampu membuat gaya gesek pada sebuah benda? Untuk dapat menggerakan perahu layar, misalnya. Dari sisi penanaman aqidah ditanyakan kepada anak didik, untuk apa angin diciptakan? Apakah sebagai nikmat atau azab? Maka diberikanlah ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan tentang itu, seperti firman Allah swt,

Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya. Mudah-mudahan kamu bersyukur. (ar Rum: 46).

Lalu kita berikan pengertian kepada anak didik. Bagaimana sekiranya kalu angin itu diam tentu kapal-kapal layar tidak akan bisa berlayar, tumbuh-tumbuhan juga akan cepat membusuk, dan hujan tidak akan bisa turun dan lain sebagainya. Jadi bertiupnya angin itu sebuah nikmat. Karenanya ada pergerakan udara. Udara pun menjadi bersih dan jernih. Berbagai penyakit hilang dan berbagai nikmat, kebaikan dan manfaat besar pun datang. Semua itu karena angin yang diatur oleh Allah.

Angin sebagai Azab

Dalam kisah yang Allah tuturkan dalam al-Qur’an, pada saat angin adzab datang, saat pertama kali mengetahui hal tersebut, kaum ‘Aad beranggapan bahwa angin tersebut membawa awan yang akan menurunkan hujan. Mereka anggap bahwa angin tersebut adalah angin pembawa nikmat dan kabar gembira.

Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan Itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya. Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa. (al Ahqof :24-25).

Kesimpulan

Dari penjelasan contoh Rancangan Materi Kurikulum Integrasi di atas akan memberi manfaat besar kepada anak didik untuk memiliki kecerdasan universal. Hanya dari permainan layang-layang yang mengasikkan timbul analisis materi yang mendalam dari segala segi. Dari teori matematika, fisika, juga semua berada dalam koridor agama dan tidak boleh lepas darinya. Anak didik akan terbiasa memandang satu hal dengan pandangan luas dari berbagai arah, dan kalau demikian adanya kurikulum integrasi yang dirancang dalam lembaga pendidikan, penulis yakin terbentuklah anak didik yang memiliki kecerdasan universal, yang intelek sekaligus berakhlak, yang politikus ulung sekaligus tulus memperjuangkan kemaslahatan bangsa, yang pedagang sekaligus jujur, yang kaya sekaligus dermawan, dan seterusnya dua sisi nilai kebaikan itu tidak terpisah. Inilah bentuk kecerdasan universal yang terbentuk dari kurikulum integrasi, dengan memadukan Ilmu Agama dengan Ilmu Umum. Wallahu’alam bishshowab.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 6,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Kepala SMA Terpadu Darussalam (Mahasiswa S2 IAID Ciamis Jawa Barat).

Lihat Juga

Ilustrasi. (playbuzz.com)

Kenali Intervensi Pihak Ketiga