Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Pemilu dan Generasi Muda

Pemilu dan Generasi Muda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: infopublik.org)
Ilustrasi. (Foto: infopublik.org)

dakwatuna.com – Indonesia di tahun 2014 ini sedang memasuki iklim politik yang efeknya dapat kita rasakan dan jumpai disejumlah media massa dan seluruh pelosok negeri. Iklan-iklan dari partai politik menghiasi jejaring sosial, televisi, maupun koran serta bersebarannya baliho-baliho dan stiker-stiker para caleg dalam menyambut pesta demokrasi. Yakni memilih calon legislatif yang kemudian disusul pemilihan orang nomor satu di Negeri Tercinta ini. Pesta demokrasi yang dijadwalkan jatuh pada 9 April 2014 itu merupakan panggilan dari Indonesia untuk seluruh elemen masyarakat dari orang tua bahkan pemuda, dari masyarakat kota sampai masyarakat desa untuk berpartisipasi memilih orang-orang yang akan mewakili rakyat Indonesia mewujudkan Indonesia yang sejahtera.

Nasib Indonesia 5 tahun ke depan dipertaruhkan melalui pemilu ini. Siapakah kelak yang akan menduduki kursi DPR, DPD, dan DPRD bergantung dari hasil suara nanti. Berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2012 menjelaskan mengenai pemilih adalah Warga Negara Indonesia yang telah genap berusia 17 tahun atau lebih atau sudah/pernah kawin. Ya, generasi muda telah diseru untuk memilih dan juga dilibatkan dalam penentuan nasib Indonesia dengan menggunakan hak pilihnya. Benarlah bahwa berbicara pemuda berarti berbicara masa depan dan kebangkitan sebuah negara. Tentu kita masih ingat dengan pidatonya Soekarno yang dengan semangatnya berujar, “Beri aku 1000 orang tua, akan kucabut semeru dari akarnya! Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!!”

Seorang pengamat politik UGM, Ari Dwipayana pada acara KPU Goes to Campus di Universitas Gadjah Mada, sesuai dengan yang dituliskan di solopos.com, “Kalau digabungkan, ada kekuatan sebesar 70% antara pemilih muda dan dewasa untuk menyukseskan Pemilu 2014. Maka tidak berlebihan bila anak-anak muda merupakan penentu kemenangan pada pemilu mendatang.”

See? Generasi muda menjadi penentu pada kesuksesan dan kemenangan pada pemilu kelak! Betapa pemuda memiliki peran strategis di mana pun. Sudah seharusnya generasi muda Indonesia memahami jati dirinya agar bangkit dan melawan belenggu kesia-siaan, mematangkan pengetahuan baik itu pengetahuan tentang kondisi Indonesia termasuk di dalamnya politik dan memiliki sikap atau aksi nyata untuk berperan dalam mewujudkan Indonesia yang sejahtera penuh berkah. Pemuda merupakan sosok yang memiliki idealisme tinggi, dinilai mampu memilah dan memilih caleg yang tidak hanya kompeten namun juga berakhlaq.

Di zaman yang serba ada dan canggih ini, ditambah kehadiran smartphone harus dijadikan jalan untuk memeroleh informasi seluas-luasnya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan politik dan pemilu mendatang. Tentu, kita sebagai generasi muda pewaris negeri tidak menginginkan nasib Indonesia semakin terpuruk dan tertinggal karena wakil rakyatnya hanya sibuk mengenyangkan perut masing-masing. Tetapi sebaliknya, Indonesia harus lebih baik lagi di semua lini dan menjadi negara yang mampu menyejahterakan rakyatnya dengan memanfaatkan sumber daya  alam Indonesia dengan bijaksana. Hal ini dapat terwujud bilamana wakil rakyatnya amanah, tidak khianat terhadap semua tugas yang diembannya. Maka dengan media apapun itu, cobalah untuk mengenali setiap parpol dan politisi yang diusungnya agar tidak asal dalam memilih.

Ingat, Indonesia sedang dipertaruhkan! Ayo kita melek politik, lihat rekam jejak atau kinerja parpol dan politisinya, prestasi dan kontribusinya yang diberikan untuk Indonesia dan data lainnya seperti parpol yang anti korupsi, dsb. Sebagai generasi muda yang cerdas tentu tidak menjadi pelaku apatis pemilu dan menolak segala bentuk kejahatan dan kecurangan yang menodai jelang pemilu dan pada saat pelaksanaan pemilu. Kita ingin Indonesia berbahagia dengan kehadiran partai politik serta orang-orang yang jujur dengan tidak main sogok, amanah, berakhlaq baik, kompeten, mengayomi rakyat dan anti korupsi. Yang paling penting adalah sosok penyambung lidah rakyat yang berasal dari partai-partai berbasis Islam yang berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.

Generasi muda muslim, tentu kita sama-sama sudah tahu bagaimana kondisi para caleg yang diusung masing-masing partai. Sebagai contoh agar kita meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi para ‘penyambung lidah rakyat’, tokoh JIL Zuhairi Miswari mengatakan, “Saya usulkan tokoh Syi’ah, Kang Jalal (Jalaluddin Rahmat/ed) jadi menteri Agama,  kelak kalau  PDIP berkuasa.” (beritanya bisa dilihat di dakwatuna.com pada rubrik Nasional dengan judul Zuhairi: Jika PDIP Berkuasa, Tokoh Syiah Jadi Menteri Agama)

Informasi bagi yang masih apatis terhadap pemilu ini, sila dicari tulisan berkaitan dengan pendapat ulama tentang memberikan suara dalam pemilu, atau fatwa-fatwa para ulama tentang pemilu.. Semoga Allah menggerakkan hati-hati kita.

Pemuda Keren Sekali, “NO GOLPUT..!”

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 6,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lina Mustaqimah S
Mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

Lihat Juga

Pernyataan Sikap BEM Kema Unpad Terkait Penganugerahaan Gelar Doktor Kehormatan Kepada Megawati Soekarnoputri