Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Saat Zhann Kemenangan dan Kekalahan Bertarung

Saat Zhann Kemenangan dan Kekalahan Bertarung

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. (al-Hasyr: 2)

Hidup adalah perjuangan. Anda pasti selalu ingat kata-kata ini. Ini adalah kata-kata pembakar yang mendorong setiap orang untuk selalu berusaha menggapai yang terbaik dalam hidup ini. Suka tidak suka, apapun yang terjadi, the struggle must go on.

Dalam berjuang pasti ada dua kemungkinan; kalah atau menang. Namun, seringkali prasangka kalah atau menang muncul begitu saja dari alam pikiran kita. Bisa karena motivasi yang belum kokoh, atau karena provokasi pihak luar tentang kelemahan dan kekurangan kita. Padahal, yang menjadi tanggung jawab utama kita adalah selalu berusaha untuk menjadi pemenang. Atau memantaskan diri sebagai pemenang. Tidak boleh ada kata kalah terlintas dalam benak pikiran kita.

Sebab, sekali kata kalah terlintas dalam pikiran kita, maka ia ibarat virus yang akan mulai bekerja massif menggerogoti semua jaring-jaring ikhtiar kita untuk menduduki singgasana kemenangan. Kita akan semakin lemas dan melemah. Kita akan dipojokkan oleh persepsi negatif yang kita bangun sendiri. Sekali cita-cita menjadi pemenang dikibarkan, maka pantang untuk menurunkannya kembali.

Anda jangan membayangkan bahwa musuh dalam perjuangan mempunyai sikap setegar dan setegap Anda. Cobalah tengok kamp-kamp mereka. Lihatlah bagaimana kekhawatiran dan kecemasan menguasai setiap sudut mata dan pikiran mereka. Mereka juga dibayang-bayangi oleh prasangka (zhann) kalah, sekalipun prosentasenya mungkin tidak sebesar Anda. Itu terjadi karena menganggap bahwa ‘alat perang’ yang Anda miliki tidaklah secanggih mereka. Atau karena mereka mempunyai sumber finansial yang dahsyat.

Tapi, satu hal yang membedakan antara Anda dan mereka adalah, karena Anda didukung oleh Allah, para malaikat dan doanya orang-orang yang beriman. Sementara mereka hanya bersandar pada perangkat fisik, berupa uang, ‘alat perang’ dan tempat perlindungan.

Masih ingatkah Anda betapa heroiknya kisah deportasi Yahudi Bani Nazhir dari kota Madinah karena mengkhianati Rasulullah saw? Mereka  memiliki benteng yang kokoh, alat perang yang lebih mumpuni, pendukung yang loyal, begitu yakinnya bahwa mereka tidak akan terkalahkan. Ini adalah zhann kemenangan. Prasangka bahwa mereka pasti memenangkan pertarungan itu.

Sementara di lembah lain, pasukan Muslimin bersama Rasulullah saw masih digelayuti dengan selimut keraguan: Apakah mereka mampu menaklukkan benteng yang begitu tinggi dan kokoh? Dikarenakan kekurangan dan kelemahan yang mereka miliki. Sekilas, mereka tidak yakin akan memenangkan peperangan ini. Ini adalah wujud dari zhann kekalahan. Prasangka bahwa mereka sulit memenangkan pertarungan ini.

Tapi, realitanya justru yang runtuh dan hancur berantakan terlebih dahulu bukanlah benteng Yahudi Bani Nazhir. Tapi, yang luluh lantak adalah benteng hati dan perasaan mereka, yang tidak sabar dikepung oleh pasukan Islam, yang mengelilingi semua sisi benteng itu dengan penuh kesabaran. Maka, wajar saja jika Allah mengibaratkan dalam surat al-Hasyr ayat 2, yang artinya, “… Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka.”

Mereka tidak menyangka bahwa yang hancur berantakan terlebih dahulu adalah benteng hati mereka, bukan benteng fisik mereka. Mereka diliputi ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran luar biasa. Di pelupuk mata mereka telah tampil masa depan yang sangat suram, yang tidak lagi bisa dihindarkan. Dan seketika itu pula alur kisah antara kalah dan menang berubah 360 derajat. Zhann kemenangan kaum Yahudi Bani Nazhir sirna, tergantikan dengan kemenangan pasukan Islam yang tanpa diselimuti lagi dengan zhann.

Inilah rahmat Allah yang diturunkan kepada mereka yang sabar dan ikhlas dalam memperjuangkan kebenaran (al-haqq).

Akhirnya kita mengerti bahwa yang menjadi penentu akhir sebuah kemenangan adalah kristalisasi zhann. Ketika seseorang mampu mengelola, mengendalikan, memindahkan serta merubah zhann kekalahan tadi ke wilayah zhann kemenangan, maka akan menjadi sumber energi dahsyat untuk merebut kemenangan. Salah satu usaha nyata untuk melakukan perubahan zhann tersebut adalah dengan terus-menerus mengguyurnya dengan sejuta ikhtiar, dengan penuh kesabaran, serta fokus pada tujuan mulia. Sehingga, zhann kekalahan akan terpendam dalam-dalam dan tidak akan muncul kembali ke permukaan. Yang muncul hanyalah zhann kemenangan.

Salam Kemenangan Dakwah 2014.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 1,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
wakil direktur LPM Madani dan Pendiri Yayasan Insan Madani Sukoharjo. Aktiv mendampingi kelompok kajian di kampung-kampung dan di kampus. Juga aktiv menulis puluhan buku pencerahan agama di beberapa penerbit buku Islam.

Lihat Juga

Memperluas Jaringan Lembaga Dakwah