Home / Narasi Islam / Sosial / Olah Indra, Olah Rasa

Olah Indra, Olah Rasa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: islam.ru)
Ilustrasi. (Foto: islam.ru)

dakwatuna.com – Ada dialog antara seorang ibu-ibu berhijab dengan seorang pemuda yang ia temui sewaktu berpapasan di jalan.

“Adik maksudnya apa? Memakai kaos bertuliskan huruf-huruf Arab tapi kok bertato dan pakai kalung salib? Mau melecehkan Islam?” Tanya sang Ibu.

“Ibu bisa baca bahasa Arab?” Tanya balik si pemuda tersebut

“Bisa, “

“Apa Ibu bisa membaca tulisan Arab di kaos saya dan tau artinya?”

Si Ibupun kebingungan melihat tulisan Arab melingkar itu karena yang nampak memang bukan tulisan Allah atau Muhammad. Melainkan ada huruf alif, ba dan nun,  tiga huruf itu saja yang bisa dibaca mata Ibu itu. Lantas si ibu terdiam dan pemuda itupun kemudian berlalu.

Hal yang tidak diketahui Ibu tersebut, bahwa sebenarnya tulisan Arab itu mengandung arti “Doa Bapa kami”, hanya saja dituliskan menggunakan bahasa Arab.

***

Sepenggal cerita tadi cukup mencerminkan betapa pentingnya kita mengolah informasi dalam melakukan justifikasi dari apapun yang dijumpai. Manusia  terlahir dalam keadaan bodoh. Oleh karena itu, Allah karuniakan penglihatan dan pendengaran serta indra lainnya. Manusia dikaruniai panca indra yang begitu sempurna jika dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya: hewan dan tumbuhan. Akan tetapi, justru yang terpenting adalah dikaruniakannya akal dan hati padanya. Inilah yang harus senantiasa kita syukuri, yakni menggunakannya sesuai dengan yang Allah inginkan.

Tidakkah kita mengingat firman Allah dalam surah Al Insan ayat 2, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat”

Allah karuniakan mata tentu untuk melihat, sedang telinga untuk mendengar. Belum cukup dengan dua hal itu saja, segala impuls yang telah diterima oleh reseptor pada sistem sensorik mata kita akan diteruskan ke otak (akal dan pikiran) untuk diolah. Lalu, penting juga menggunakan hati untuk menentukan: Apakah yang kita lihat dan dengar itu benar atau salah? Kenapa bisa begitu? Apa penyebabnya?

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. ( Al-A’raf [7]: 179)

Karunia mata dan telinga dari Allah tidak lain sebagai sarana agar manusia bisa menyerap informasi baik dalam bentuk ilmu fardu (agama, aqidah, dll)  maupun ilmu dunia (sains, sosial, bahasa, dll). Mata dan telinga kita disebut juga jendela informasi, maka penggunaannya harus disertai dengan akal dan hati.  Jika tidak, maka manusia ibarat akan mendengar dalam sepi dan melihat dalam gelap. Dia hanya akan menerima informasi secara mentah, tidak dapat mengolahnya menjadi sesuatu yang jelas akan benar dan salahnya. Pelibatan akal dan hati membuahkan rasa dan logika.

Pendengarankita pun demikian. Telinga menjadi gerbang selanjutnya dalam menerima informasi setelah penglihatan. Hati-hati dengan penampilan luar  (eksternal), tetaplah fokus kepada Allah niscaya tidak akan melihat apapaun selain keagungan dan kasih sayang Allah. Jangan sampai tertipu oleh ejekan orang karena kita hanya mendengar dan melihat. Sertakan akal maka apapun akan menjadi pelajaran dan senantiasa menjadi sarana untuk mencapai ahsanu ‘amala yakni membebaskan pikiran dan perasaan kita dengan mentadaburi dan mengambil ibroh dari setiap kejadian.

Jangan sampai kita menyampaikan dan menyebarluaskan informasi yang masih belum jelas benar atau salahnya. Ada satu bagian pada tubuh manusia yang jika baik bagian itu, maka baiklah seluruh badannya, lidah. Lidah merupakan indra pengecap, fungsi utamanya sebagai perasa dan membantu saat berbicara. Adab berbicara: sebaiknya segala apapun yang keluar itu bermakna. Diamnya seraya berdzikir sedang ucapanya mencerminkan kebenaran dan  keteladanan. Seperti dinukil dalam surat An-nisa [4]:114, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia……”

Sebagaimana pula disampaikan oleh Ustadz Syatori, “Barang siapa yang menyimpulkan sesuatu hanya dari pandangan mata semata, maka ia akan tertipu”. Oleh karena itu, mari tumbuhkan rasa pada mata, telinga dan lidah kita. Allahu a’lam bishshowab.

 

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ludiana Septi Susanti
Seorang pembelajar, aktiv di organisasi kepemudaan Fkapmepi DIY dan dunia kepenulisan di FLP wil. DIY. Tertarik dunia kependidikan, sosial-empowering dan praktisi ilmu biologi. Suka analisis, silent reader, more action.

Lihat Juga

Ilustrasi. (alaudeen313.deviantart.com)

Di Antara Dua Mata

Organization