Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Mahasiswa Memilih Pemimpin

Mahasiswa Memilih Pemimpin

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: tribunnews.com)
Ilustrasi. (Foto: tribunnews.com)

dakwatuna.com – Beberapa hari yang lalu, ada enam mahasiswa yang datang ke rumah. Tujuan mereka untuk menjenguk saya yang sudah satu minggu tidak mengajar. Ada udzur sakit yang menjadikan hanya bisa berkirim materi kuliah tanpa tatap muka langsung dengan mahasiswa. Alhamdulillah, sewaktu mereka datang, kondisi badan sudah lumayan sehat. Sehingga bisa berdialog dengan mereka, lumayan lama.

Entah bagaimana awalnya, pembicaraan menjadi mengarah ke Pemilu. Namun wajar juga jika membicarakan masalah ini, karena tinggal menghitung hari pesta demokrasi itu akan segera digelar. Rina (bukan nama asli, red) berkata, “Bingung mau pilih siapa nanti? Pada tidak kenal dan juga tidak tahu program-programnya. Dipilih jangan-jangan malah korupsi ke depannya. Hem, bingung deh!” Tuturnya terbuka mengeluarkan unek-uneknya. Kelima temannya, tanpa ada komando langsung mengiyakan pertanda sepakat dengan pernyataan Rina.

Pemilih dari kalangan muda memang diharapkan bisa berkontribusi besar terhadap Pemilu kali ini. Tapi, sikap apatis dan enggan memikirkan kondisi bangsa sudah menggejala di kalangan mahasiswa. Tentunya, label mahasiswa sebagai agent of change bisa pudar dari pundak mereka, seiring sikap pragmatis dan tipisnya kepedulian mereka terhadap kondisi sekitar.

Saya pikir, inilah momen yang tepat untuk memberikan bekal ilmu kepada mahasiswa dalam menyalurkan aspirasi suaranya. Tidak boleh membiarkan mereka dalam kebingunan, begitulah pikir saya. Sebagai seorang Muslim, tentu pandangan nomer satu yang saya gunakan adalah pandangan Islam. Karena Islam tidak berisikan sholat saja. Tiga puluh juz ditambah hadist-hadist Nabi adalah pedoman hidup untuk umat Islam. Sebagai pedoman hidup, tentu tidak hanya ibadah yang ada dalam al-Quran, melainkan juga syariat (aturan Allah SWT) yang mengikat setiap individu Muslim. Dari tidur sampai tidur lagi harus selalu on kesadaran akan hubungannya dengan Allah swt dalam seluruh perbuatan.

Saya sampaikan kepada mereka, “Mencoblos adalah hak. Tidak mencoblos itu tidak menggunakan hak pilih. Baik mencoblos maupun tidak, sama–sama akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah swt.  Tidak boleh merasa benar sendiri. Mengapa? Soalnya setiap perbuatan hamba itu terikat dengan hukum syara’. Mencoblos akan bernilai pahala bila diniatkan karena Allah swt. Artinya, harus sesuai dengan kriteria pemimpin dalam Islam. Mencoblos seseorang yang jelas-jelas curang, berakhlak buruk dan menghina agama ini, jelaslah hal itu merupakan dosa. Demikian pula, mencoblos semata-mata karena uang atau kepentingan pribadi tanpa melihat kaidah Islam dalam memilih pemimpin. Hal itu juga merupakan suatu hal yang keliru bahkan bisa menghantarkan pada dosa”.

Keenam mahasiswa itu diam, mencoba menyerap apa yang mereka dengar.  Meraba arah pembicaraan, dan membayangkan siapa kira-kira yang sesuai dengan kriteria pemimpin dalam Islam. Selang beberapa menit, Anita (bukan nama asli,red) bertanya, “Terus, pemimpin yang layak dipilih yang mana Bu?” Pertanyaan singkat yang meminta jawaban to the point. Namun memberi jawaban langsung alias sebut merk orangnya bukanlah jawaban yang tepat. Pasalnya, yang paling penting adalah mereka memahami bahwa setiap perbuatan dan tindakan yang mereka lakukan harus dilandasi ilmu. Bukan semata mengekor kepada orang yang sekiranya dijadikan sebagai rujukan. Oleh karena itu ilmu memilih pemimpin inilah yang harus mereka pahami.

Saya katakan kepada mereka, setidaknya ada 7 kriteria  seseorang bisa mencalonkan dirinya sebagai pemimpin dan bisa dipilih oleh umat. Pertama. dia harus beragama Islam. Tidak boleh orang Islam memlih pemimpin (Presiden) dari kalangan non-Muslim. Kedua, berjenis kelamin laki-laki. Hal ini sesuai pesan Nabi saw bahwa tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan. Konteks pesan Nabi ini adalah larangan memilih wanita sebagai pemimpin suatu Negara. Ketiga, calon tersebut sudah baligh. Orang yang belum baligh, secara syar’i bukanlah seorang mukallaf. Sehingga, pada dirinya belum ada beban hukum (belum berkewajiban terikat dengan hukum syara’). Oleh karena itu, tidak boleh mengurusi atau mengelola berbagai urusan umat.

Keempat, berakal. Jadi bila mengetahui ada Capres yang stress atau gila, jangan dipilih. Akan hancur bangsa ini apabila pemimpinnya tidak waras. Kelima, orang tersebut bisa berbuat adil. Adil adalah orang tersebut bisa menegakkan mana yang haq dan menjauhi hal yang batil. Tentu, di sini diharapkan pemimpin itu faqih terhadap urusan agamanya. Keenam, merdeka alias bukan budak. Budak itu berbeda dengan pembantu rumah tangga. Budak itu tidak memiliki hak atas dirinya. Tapi dia milik tuannya. Dia bertindak sesuai keinginan tuannya. Orang yang demikian, tentu lebih tidak berwenang mengatur urusan orang lain apalagi urusan Negara. Ketujuh, pemimpin harus orang yang mampu. Tugas pemimpin Negara itu amat berat. Jika dipegang orang-orang yang lemah apakah itu lemah iman, lemah fisik, lemah akal dan lemah lainnya yang masih berhubungan dengan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pemimpin, maka akan sangat berbahaya. Jadi, mampu disini adalah mampu menjalankan amanah kepemimpinannya nanti.

Itulah tujuh kriteria yang harus melekat pada calon pemimpin. Dan sebagai pesan terakhir, kepada mahasiswa itu saya sampaikan, bahwa ketika memilih, ingatlah kemuliaan agama ini dan umat Islam. Jangan sampai pilihan saudara jatuh pada orang yang akan menghina dan melecehkan agama ini. Atau juga menjadikan umat Islam semakin hancur aqidahnya, rusak moralnya dan tersebarnya maksiat dimana-mana. Jadi, mencoblos bukan perkara ringan, harus benar-benar difikirkan. Bila perlu, istikhorohlah. Memohon petunjuk kepada Allah swt.

Demikianlah kutipan obrolan terbatas saya dengan mahasiswa yang sedang berkunjung ke rumah. Tentunya, nasehat ini bukan hanya untuk keenam mahasiswa saya itu. Tapi juga buat kita semua. Baik yang muda atau siapapun yang sebentar lagi akan bertemu dengan Pemilu untuk memilih anggota Legislatif dan Presiden. Semoga Allah swt selalu menunjuki kita ke jalan yang benar dan diistiqamahkan dalam keimanan dan ketaatan kepadaNya. Aamiin.. Wallahua’lam bis Showab.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 3,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Penulis adalah pribadi yang menyukai dunia pendidikan. Bentuk kecintaannya dengan pendidikan diwujudkannya dengan menjadi tenaga pengajar di lembaga formal maupun non formal. Selain di dunia pendidikan penulis juga menyukai kegiatan keislaman. Artinya bergerak bersama dengan lainnya untuk membangun dan memuliakan agama dan umat ini. Virus cinta Islam harus disebarkan sehingga umat ini menjadi umat terbaik. Inilah statemen yang menjadi pemicu untuk berbagi kebaikan lewat tulisan.

Lihat Juga

Ilustrasi. (dakwatuna.com / hdn)

Berpolitik itu Jejak Sikap

Organization