Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pilihlah yang Tangguh dan Amanah

Pilihlah yang Tangguh dan Amanah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi Kotak Suara (Foto: lipsus.kompas.com)
Ilustrasi Kotak Suara (Foto: lipsus.kompas.com)

dakwatuna.com Jika ada suatu perkumpulan, yang di sana mengedepankan terjaminnya moral, ukhuwah, ilmu, dan kedekatan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa maka siapalah yang tak ingin tertaut dengannya?

Jika ada suatu perjuangan yang tidak tawarkan uang, hanya memiliki cinta dan semangat dibalut dengan keikhlasan tanpa tekanan dan paksaan dari pihak manapun. Mereka yang jiwanya tertawan hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, siapakah yang tak ingin mendapatkannya?

Jika ada suatu majelis ilmu yang tidak pernah malu menyebut Tuhannya Yang Maha Esa dengan nama Allah, nama yang tiada banding dan sanding. Majelis yang selalu pekikkan takbir, maka hati mana yang tak ingin mendekapnya?

Dalam setiap perjalanan perjuangan tentu dibutuhkan orang-orang yang ikhlas. Tidak hanya itu, ia harus qawiyy (kuat) secara ruh keimanan yang mendidiknya menuju akhirat oriented, dan kuat ilmu strategi dunia untuk menggapai nilai keimanannya tersebut. Kekuatan iman dan ilmunya akan mendorongnya menjadi pribadi yang amanah. Maka siapalah yang tidak ingin dipimpin oleh pemimpin yang kuat lagi amanah?

Faktanya, negeri ini telah terjadikan objek percobaan para pemimpin yang tidak amanah. Banyak memang mereka yang kuat ilmu, tapi tidak dengan imannya. Maka ilmunya menjerumuskan.

Menghadapi situasi politik dan pemilu, kita sebagai insan yang berusaha kuat secara iman dan ilmu tentu bisa menimbang dan menilai. Dalam aspek kepemimpinan, urgensinya sangat tinggi. Islam mengajarkan bahkan jika bepergian walau cuma 2-3 orang, kita harus mengangkat 1 orang menjadi pemimpin kita.

Indonesia sedang menghadapi tahun pemilihan pemimpin. Wakil rakyat yang akan memperjuangkan kesejahteraan untuk bangsa seluruhnya dan seutuhnya. Namun banyak dari rakyat yang apatis dan kecewa terhadap para wakil rakyat sebelumnya. Sebagai umat islam dan orang beriman, ada baiknya kita simak beberapa nasihat dari tokoh dan ulama tanah air kita secara bijak.

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, MA., M.Phil (Ketua MIUMI) berkata, “Jika anda tidak mau ikut pemilu karena kecewa dengan pemerintah dan anggota DPR, atau parpol Islam, itu hak anda. Tapi ingat jika anda dan jutaan yang lain tidak ikut pemilu maka jutaan orang fasik, sekuler, liberal, atheis akan ikut pemilu untuk berkuasa dan menguasai kita. Niatlah berbuat baik meskipun hasilnya belum tentu sebaik yang engkau inginkan.”

Ustadz Yusuf Mansur (Pemimpin Darul Quran, Dai & Enterpreneur) berkata, “Jangan kita risaukan siapa yang akan memimpin negeri kita. Risaukanlah diri kita apa sudah pantas Allah berikan pemimpin yang baik buat kita sementara standar kita masih jelek?”

Ustadz Bachtiar Nasir (Sekjen MIUMI), mengungkapkan, “Pilih pemimpin yang Berketuhanan Yang Maha Esa. Kita harus saling bantu dan bersatu agar Islam tidak kalah. Berbeda itu biasa, jangan saling menghujat. Berlomba buktikan siapa yang paling ikhlas!! bukan siapa yang paling hebat di antara kita dalam medan juang”.

Bagi saya, saya teguh berpegang pada Al-Quran surat Ash-Shaff ayat 4. Allah lebih mencintai perjuangan yang bersatu, kokoh. Sesama muslim itu saling melengkapi. Seperti permainan bola. Ada yang bertugas menjadi keeper, ada pula yang striker.

Mari berlomba dalam keikhlasan bekerja untuk Islam. Lakukan yang terbaik, saling mendukung, jangan malah saling melemahkan. Mari sinergi, berbagi peran.

Perihal sikap politik. Mari tengok sebentar.

Bagaimana moral suatu lembaga, lihatlah bagaimana cara (adab) kampanyenya. Jika syahwat yang dijual, maka itulah yang ada di otak para kader simpatisan dan pemimpin-pemimpinnya.

Ingatlah, teko berisi kopi tak akan pernah bisa menuangkan susu, apalagi madu!

Maka, jika harus memilih pemimpin pilihlah yang paling dekat dan cinta pada agama kita. Islam.

Nasihat Buya Hamka. Kalau ia muslim yang jujur, agama yang dipeluknya itulah yang akan mempengaruhi sikap hidupnya. ia mencintainya. Ia akan memperjuangkan apa yang ia cintai. Begitulah dia kalau Islam, begitu pulalah apabila dia selain Islam.

Buya Hamka, Pak Hamid, Ustadz YM, UBN adalah guru, ayah sekaligus Kakanda Sejati saya. Saya memilih mereka yang jalan hidupnya mirip dengan Para Kanda Sejati saya tsb.

Kemenangan AKP di Turki yang dipimpin oleh Erdogan adalah kabar gembira bagi umat Islam dunia, semoga terulang di bumi kita tercinta.

Pilihlah mereka yang qawiyyun amiinun (QS. Al Qashshas: 26), pribadi yang kuat (tangguh) imannya, ilmunya dan amanah dalam memegang tanggung jawab rakyat, insya Allah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Agastya Harjunadhi
Alumni Universitas Al Azhar Indonesia | Sekjen Young Islamic Leaders | Presiden Aliansi Pemuda Islam Indonesia

Lihat Juga

Pemilihan Ulang Pilgub Maluku Utara (inet)

Karena Memilih Juga Ada Tuntunannya