Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Terima Kasih, PKS

Terima Kasih, PKS

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Kampanye terbuka PKS di Gelora Bung Karno (GBK), Ahad (16/3). (Foto: viva..co.id)
Kampanye terbuka PKS di Gelora Bung Karno (GBK), Ahad (16/3). (Foto: viva..co.id)

dakwatuna.com Hidayah. Ada yang bilang ia bagaikan sebuah timun matang. Tanamannya yang menjalar di permukaan tanah, memudahkan siapa saja yang ingin memetiknya. Asalkan punya keinginan. Namun, ada juga yang bilang ia seperti sebuah mangga ranum. Letaknya tinggi di atas pohon nan menjulang. Butuh upaya gigih untuk dapat memetiknya.

Apapun itu, bagi saya yang dhaif, hidayah ibarat bintang jatuh. Ia begitu kemilau, di tengah kelamnya malam. Hidayah itu datang, saat ia menghantarkannya kepada saya di lima belas tahun yang lampau. Lima belas tahun yang lalu, saat gejolak usia muda masih ingin menampakkan keindahan ragawi, ia yang menginspirasi untuk menutupnya. Menutup aurat dengan rapat, agar terlindung dari mata yang menyimpan syahwat. Lima belas tahun yang lalu, saat jiwa ini masih berusaha mencari muaranya, ia yang membantu menunjukkan jalan itu. Menemukan sebuah gemintang yang tak lekang oleh zaman; Islam. Lima belas tahun yang lalu, saat diri ini masih tertatih menapaki dunia, ia yang menuntun untuk tegak berdiri. Meyakini satu makna, bahwa dunia bukan hanya seputar asa, tapi juga perihal sesama.

Lima belas tahun yang lalu benar-benar menjadi sebuah tonggak. Pelbagai keputusan dalam hidup bukan lagi perihal diri, tetapi juga untuk kebaikan orang lain. “Ya Allah, tempatkanlah aku di fakultas apapun, asalkan beri ladang dakwah yang besar untukku.” Doa itu yang terlontar kala hati berdebar menanti sebuah pengumuman ujian masuk universitas negeri. Dan, Allah menjawabnya dengan menempatkan saya di sebuah fakultas yang butuh totalitas dalam berjuang untuk dapat lulus dengan baik. “Ya Allah, pertemukanlah aku dengan seseorang yang dapat menguatkan perjuanganku dalam dakwah di jalan-Mu.” Dan, Allah menjawabnya dengan mempertemukan saya dengan teman hidup saya saat ini secara tak terduga. “Ya Allah, izinkanlah aku untuk dapat berdakwah hidup di ranah orang.” Dan, Allah menjawabnya dengan mengizinkan saya tinggal di Negeri Ginseng untuk beberapa waktu. Ah, sungguh sejatinya terlalu banyak episode dalam hidup saya yang tersebab karena ia.

Bertahun-tahun bersamanya, bukan berarti tiada pernah ada amarah. Ego manusia kerap hadir mewarnai. Rasa ingin menjauh acap menghinggap. Otak memberontak pun sering menghentak. Hingga akhirnya, saya menginsyafi, bahwa ia hanyalah kumpulan dari manusia yang telah diilhamkan Allah dengan sifat fujur serta taqwa. Kebaikan-kebaikan yang ada padanya, adalah dampak dari ikhtiar yang keras untuk dapat mengalahkan segala potensi keburukan. Adapun keburukan-keburukan itu timbul karena memang ada masanya keburukan itu dapat mengalahkan kebaikan.

Oleh karenanya, jika ada yang menjulukinya sebagai kumpulan manusia jahat, izinkanlah saya yang menjadi saksi, bagaimana ia benar-benar berusaha untuk selalu menjaga potensi kebaikan itu meraja dalam jiwa. Setiap delik ibadah saya harus dievaluasi secara rinci setiap pekannya. Ya, jika manusia tak mampu mengevaluasi diri sendiri, bagaimana mungkin mereka sanggup saat harus menghadapi hari evaluasi di hadapan Allah? Jika ada yang mencercanya sebagai penjual ayat Quran, izinkanlah saya yang menjadi saksi, bagaimana ia senantiasa menjadikan keduanya sebagai hukum yang utama. Setiap baris hafalan Quran harus senantiasa dilaporkan setiap pekannya. Ya, karena bagaimana mungkin mereka yang mengharap surga, tak memiliki interaksi yang kuat dengan firman Sang Khalik? Jika ada yang mencibirnya sebagai pengkhianat amanat rakyat, maka izinkanlah saya menjadi saksi, bagaimana ia menuntut sebuah ikrar yang hakiki hanya untuk Allah semata. Ya, apakah tiada yang lebih dikhawatirkan daripada mengingkari janji di hadapan Sang Pemilik Jiwa? Jika ada yang menuduhnya sebagai kumpulan orang-orang korup, izinkanlah saya yang menjadi saksi, bagaimana ia mampu menghimpun kekuatan ekonominya secara berdikari. Setiap bulan selain zakat yang utama, infaq pun dikeluarkan untuk mendukung kinerja dakwah. Ya, jika untuk kesenangan pribadi saja manusia tak segan untuk mengeluarkannya, begitu pula seharusnya untuk kebaikan di jalan Allah.

Sungguh, sejatinya belum banyak yang dapat saya perbuat untuk membalas segala kebaikannya. Akan suntikan semangatnya untuk mau ajeg mengejawantahkan nilai Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Akan motivasinya untuk giat berbuat tak hanya untuk akhirat, tetapi juga umat. Akan dukungannya saat lelah menyerbu dari segala arah. Meski kata ini tak akan cukup, izinkan saya berujar; Terima kasih, Cinta. Terima kasih, PKS.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Sekarang tinggal di Korea Selatan.

Lihat Juga

Sandiaga Uni - Mardani Ali Sera.  (PKSFoto/Julianto)

Mardani: Selain Anies, Ada Nama Lain yang Disiapkan