Home / Narasi Islam / Dakwah / Beginilah Dai Sejati

Beginilah Dai Sejati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com Ketika itu, ada dua pemuda yang tengah berdakwah kepada kaum Kota. Jumlah mereka amat sedikit apabila dibandingkan dengan penduduk Kota itu sendiri. Tapi, mereka tidak peduli. Apapun bentuk dan seberapapun jumlah yang harus dihadapi, tiadalah berbanding dengan Mahabesarnya Allah sebagai tujuan segala perjuangannya.

Pun, sebagaimana banyak cerita orang. Menyeru, mengajak, apalagi kepada manusia, terlebih menyerunya adalah kepada kebenaran, bukanlah hal yang mudah. Senantiasa ada batu uji yang khas bagi setiap generasi. Allah telah menjanjikan ujian-ujian itu, baik berupa kesedihan, kemiskinan, kelaparan, bahkan ujian berupa buah-buahanpun Allah janjikan untuk dihadapi kaum beriman.

Adalah dua pemuda itu dikisahkan dalam permulaan surah Yaasiin. Diceritakan dua pemuda itu kemudian melancarkan dakwahnya kepada penduduk Kota. Tapi belum juga membuahkan hasil yang memuaskan. Bahkan, penduduk Kota justru mendustakan seruan dakwah itu. Sampai-sampai, Allah mengutus kembali seorang utusan untuk menguatkan dua orang pemuda yang pertama.

Bertambahnya kekuatan dalam barisan dakwah adalah keberkahan. Bertambahnya kekuatan kader dakwah adalah sebuah hadiah dari Allah untuk terus melipatgandakan cakupan-cakupan dakwah. Bertambahnya kekuatan adalah bukti betapa Allah mencintai hambaNya yang senantiasa menyebarkan risalah kebenaran.

Sampai kemudian, ketiganya berseru kepada penduduk Kota, “Sesungguhnya kami adalah utusan Allah…” Sebuah seruan yang tulus. Sebuah penyampaian yang apa adanya bahwa apa-apa yang dibawa oleh ketiganya bukanlah kreatifitas individu yang bisa sangat liar. Namun yang dibawa ketiganya adalah apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk disebarkan. Apa yang dibawa ketiganya adalah apa yang Allah berikan kepada manusia agar manusia berada dalam jalan keselamatan.

Tapi, apa jawaban penduduk kota terhadap seruan ini? Mereka menjawab, “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.” Siapa yang hatinya tak perih? Mencintai umat dengan menyampaikan risalah akhirat justru disematkan label pendusta belaka?

Ah, iya. Dahulu, Rasulullah bergelar Al-Amin -yang bisa dipercaya-, tapi pemuka Quraisy tetap banyak yang mendustakan risalah kenabiannya. Segala cacian dan makian tidak juga melunturkan semangat Rasulullah dalam menyebarkan risalah Islam. Begitu pula, ketiga pemuda dalam surat Yaasiin. Sematan ‘Pendusta Belaka’ bukanlah penilaian yang penting untuk difikirkan. Ada yang jauh lebih penting, yaitu penilaian Allah yang Mahatinggi.

Bahkan, kejujuran itu makin bertambah-tambah, ketiga pemuda itu mengatakan, “Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu, dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan perintah Allah dengan jelas.” Penyampaian visi dakwah telah jelas secara gamblang dan transparan. Bahwa sejatinya, berada di jalan dakwah bukanlah untuk yang lain kecuali hanya menyampaikan perintah Allah dengan jelas.

Berbicara kepada manusia, bahkan dengan bahasa kejujuranpun, yang nampak tetaplah kebencian. Ya. Kebencian yang diada-adakan. Penduduk Kota menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti menyeru kami, niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami!”

Apa kabar hati andai kitalah yang berada diposisi ketiga pemuda itu? Mundur? Takut? Mungkin, inilah yang disebut air susu dibalas dengan air tuba. Cinta dibalas dusta. Madu dibalas racun. Ketulusan berdakwah bukan saja disematkan label pendusta, tapi juga dianggap sebagai sumber kemalangan. Fitnah semakin menjadi ketika keberanian semakin meninggi. Ujian semakin berat ketika tekad semakin kuat terpatri dalam hati.

Dituduh sebagai pembawa kemalangan bukanlah sesuatu yang mudah. Dianggap pembawa kehancuran, pemecah persatuan umat dan lain sebagainya. Tapi Allah, melalui Al-Quran meyampaikan kepada kita bahwa ujian itu akan kita lewati. Dituduh sebagai pembawa kemalangan. Dan tidak berhenti sampai disitu. Bukan sekedar dianggap pembawa kehancuran, tetapi juga ancaman rajam yang berarti kematian. Ya, diancam!

Begitulah jalan dakwah itu. Banyak orang mencatatkan bahwa perjalanannya menanjak, penuh onak dan duri, bahkan banyak penentang, lagi sedikit orang yang mau melaluinya.

Tetapi ketiga pemuda tadi tidaklah berhenti. Keyakinan akan Allah yang telah menancap di hati-hati mereka kian kuat. Tidak mampu digoyahkan dengan ancaman rajam dari lisan-lisan yang pada akhirnya mereka tetap cintai sebab Allah, sehingga mereka menjawab, “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri, apakah jika kamu diberi peringatan kamu bernasib malang? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”

Bahkan, logika telah dimainkan dalam berdakwah. Bagaimana mungkin peringatan adalah nasib buruk? Bukankah justru ia termasuk ke dalam nasib baik? Sebab tidak semua orang mendapatkan peringatan hingga terjerumus masuk ke dalam kubangan dosa. Bahkan kali ini ada pemuda dari penduduk Kota yang lari tergopoh-gopoh dari ujung Kota menyampaikan kepada kaumnya, “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu..! Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu dan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” Kini, satu dari penduduk Kota yang telah memfitnah utusan Allah rupanya telah mendapatkan hidayah dariNya. Sampai ia-pun ikut menyeru kaumnya untuk mengikuti tiga utusan Allah itu. Bahkan, ia menutup dengan nada bertanya, “Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu semua dikembalikan?” Lagi-lagi, logika dimainkan.

Kemudian Ibnu Katsir dalam tafsirnya menuliskan ketiga pemuda utusan Allah itu dihabisi penduduk Kota yang tetap menolak dakwahnya. Tidak tanggung-tanggung, peristiwa itu menyebabkan ketiganya meninggal dunia. Duhai… Bahkan, setelah ada pengakuan iman dari salah satu penduduk Kotapun, ancaman bahkan ujian kematian tetap datang, dan Allah hadiahkan surga kepada ketiganya.

Hingga ketika mereka merasakan indahnya surga, bukan syukur yang mereka ucap. Bukan nikmatnya surga yang mereka wujudkan menjadi kata yang pertama kali mereka ucapkan. Tetapi yang pertama kali mereka ucapkan ketika menginjak surga adalah, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui… “(Yaasiin[36]: 26)

Sudah seperti apakah ujian dakwah kita, sampai kita berani berfikir tentang lelah dan kecewa?

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Yanuar Rizki Pahlevi
Mahasiswa program studi Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Saat ini sedang menjabat sebagai ketua BEM Fakultas Teknik UGM.

Lihat Juga

Ilustrasi - Aksi aktivis dakwah kampus dalam isu Timur Tengah. (Ary)

Kajian Core Competence Dakwah Kampus

Organization