Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Andaikan Umar bin Khaththab Menjadi Presiden Republik Indonesia (Sebuah Renungan Untuk Calon Presiden RI)

Andaikan Umar bin Khaththab Menjadi Presiden Republik Indonesia (Sebuah Renungan Untuk Calon Presiden RI)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Poster Film Umar. (inet)
Ilustrasi – Poster Film Umar. (inet)

dakwatuna.com Sepintas, judul tulisan ini terkesan tidak menggunakan logika yang lurus, tidak ada relevansi langsung antara variabel Umar bin Khaththab dengan masa depan Indonesia. Silogisme Aristotelespun tidak cukup memadai untuk memberikan interpretasi tentang tema tersebut, premis  yang digunakan cenderung berandai-andai sehingga konklusinyapun tidak pas. Satu-satunya metodologi yang mungkin bisa digunakan dalam memetakan judul itu secara baik adalah “Tafsir Imajener” ( Tafsir Hayali ). Artinya, jika saja prototipe kepemimpinan Umar Bin Khaththab hadir di tengah perhelatan pencalonan Presiden dewasa ini, maka ia layak jadi pemimpin dan memimpin Indonesia ke depan, atau dengan kata lain pimpinan Negara dengan prototipe seperti Umar bin Khaththab-lah yang akan mampu membawa negri Indonesia ini  ke arah perubahan secara spektakuler dan mendasar.

Statemen  itu tidak berlebihan. Sebab boleh jadi, karut marutnya bangsa Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini -baik hukum, sosial atau ekonomi dll-, di berbagai sektor, diakibatkan karena aktor-aktor elit yang jauh dari prototipe ideal seorang pemimpin seperti Umar bin Khaththab yang tegas, profesional, cerdas,  integritas yang tinggi,  berani mengambil resiko dan tangguh dalam penataan administrasi pemerintahan.  Tidak kalah pentingnya, beliau adalah seorang yang kuat komitmennya terhadap nilai (agama). Dengan karakter yang hampir sempurna itu, Presiden seperti Umar mampu membawa pemerintahan Islam memasuki babak baru yang lebih baik dan siap bersaing secara fair dengan negara-negara dan daerah-daerah lain pada zamannya (seperti Persia dan Romawi).

Keberhasilan Umar dalam memimpin pemerintahan mendapat justifikasi dari beberapa pengamat politik dunia.  Salah satunya, Michael Hart yang memberikan komentar,  “Jika saja tidak karena usaha yang dilakukan Umar bin Khaththab pada waktu itu, maka Islam tidak berkembang seperti yang sekarang ini.

Presiden Umar Bin Khaththab secara cemerlang telah berhasil melakukan  upaya-upaya mobilisasi internal dalam bentuk penataan administrasi kenegaraan dan berbagai penataan supra dan infrastrukutr sebagai upaya memberikan pelayanan maksimal bagi komunitas sosial waktu itu. Secara ekternal, dia juga  telah berhasil membangun image negara-negara adikuasa waktu itu (Persia dan Romawi) segan dan apresiatif terhadap negara yang dibangunnya. Presiden Umar telah berhasil membangun stabilitas politik dan kondisi sosial pada titik stabil yang paling ideal dalam sejarah politik awal Islam.

Negara dan kekuatan Islam yang berada di bawah pemerintahan  Umar telah memasuki era penting dalam sejarah. Dimana satu tata pemerintahan dan langkah politik serta penataan komunitas sosial tampil secara tegas dan jelas. Prinsip persamaan dan persaudaraaan serta keadilan  telah menjadi fenomena tersendiri pada masa Presiden Umar Bin Khaththab. Integrasi Umar yang hampir sempurna dalam menjalankan roda pemerintahan didukung oleh infrastruktur dan suprastruktur yang mapan, menjadi faktor dominan dalam menciptakan satu kestabilan politik dan sosial pada waktu itu.

Membangun Karakteristik Pemimipin

Potret buram dalam berbagai aspek bangsa Indonesia yang berlangsung hampir 10 tahun terakhir -entah kapan segera berakhir-, kekuatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) serta potensi-potensi lain yang luar biasa dimiliki Indonesia , sebenarnya cukup menjadi alasan untuk menempatnan Indonesia keluar dari berbagai keterpurukan. Dua variabel penting yang akan menjadi penentu wajah Indonesia baru ke depan adalah ‘Sistem dan Tipologi Pemimpin’. Memang, agak sulit memetakan mana yang harus didahulukan. Apakah sistem atau pemimpin yang kuat. Sebut saja kita kini berada pada titik nadzir dimana sistem dan tipe kepemimpinan kita kurang begitu menguntungkan bagi pembaharuan Indonesia. Andaikan saat ni kita berada dalam situasi itu, maka yang menjadi prioritas agenda dari dua pilihan tersebut adalah melahirkan pemimpin kuat yang dengan segala kekuatnnya akan mempunyai keberanian membangun sistem yang kuat pula.

Kondisi paling mutahir bangsa Indonesia dihadapkan pada pilihan keharusan melahirkan seorang pemimpin yang tangguh, cerdas dan berani mengambil pilihan-pilihan strategis. Modal yang satu ini akan menjadi momentum paling menentukan masa depan Indonesia. Ketika supremasi hukum tidak menemukan elan vitalnya, penataan administrasi negara semrawut, keadilan tidak bisa di tegakkan, tingkat kerawanan sosial mengkhawatirkan dan pemerataan ekonomi mengalami disparitas yang luar biasa, diperparah lagi dengan pemikiran keagamaan masyarakat kita yang terjebak oleh imperialisme permisif (cenderung toleran pada hal-hal yang dianggap tabu) yang berdampak pada hilangnya keseimbangan dan krisis sosial,  maka tidak bisa tidak, model kepemimpinan Umar bin Khaththab harus menjadi alternatif teladan Presiden Republik Indonesia mendatang.

Paling tidak, ada tiga kata kunci yang menjadi kesuksesan Umar dalam membangun negara,

Pertama, Cinta kepada nilai integritas dan komitmen keagamaan yang begitu kuat. Sebuah penelitian yang dilakukan Sir Willian Muir, menunjukkan bahwa, “Faktor-faktor yang membawa kesuksesan Umar dalam mengemban tugas negara dan pemerintahan pada masanya adalah terletak pada motivasi internalnya dan  loyalitasnya  terhadap  ajaran Tuhan”.

Mengurus negara atau daerah, tidak semata didasarkan pada pilihan-pilihan politik yang profan tetapi merupakan pertaruhan misi suci di hadapan Sang Pencipta. Ini artinya, komitmen yang kuat pada nilai, akan sangat membantu seorang pemimpin menyelesaikan agenda-agenda besar negaranya. Indonesia sebuah negara yang begitu besar dengan berbagai agenda penting yang perlu penyelesaian tidak mungkin dapat diselesakan jika Presidennya  tidak memiliki komitmen yang kuat pada nilai keagamaan dan spiritualitas yang memadai.

Padahal, komitmen pada nilai sangat membantu seseorang merumuskan visi dan misinya secara jernih dalam merancang sebuah tugas besar seperti negara ataupun daerah. Tidak salah jika teori Spiritual Quotient membuat simplikasi bahwa seseorang yang memiliki kecerdasan  spiritual yang tinggi, akan mampu membedah dan melihat peluang untuk pemecahan masalah yang dihadapinya. Itulah sebabnya, mengapa Umar begitu kuat memegang nilai. Karena ternyata, hal itu pulalah yang menjadi motivator mengapa ia begitu tangguh dalam menata negaranya. Dalam pandangan Umar, komitmen pada nilai, akan sangat membantu menjernihkan pemikiran dan memperkaya inspirasi dalam mambangun negara, dan ini begitu penting maknanya bagi seorang pemegang kebijakan publik.

Komitmen pada nilai keagamaan akan melahirkan integritas, keikhlasan, kejujuran yang tinggi. Apabila ini dimiliki seorang Presiden, maka  akan sangat memperkuat kepercayaan publik. Tidak saja dalam internal negara tetapi juga dalam skala international. Dan hal itu, telah dibuktikan oleh Umar. Ketika dia memperoleh apresiasi begitu besar, bukan hanya dari kalangan rakyatnya tapi juga dari kalangan luar bahkan dari mereka yang berbeda ideloginya.

Kedua, Kerja profesional dan inovatif. Tidak kurang dari sepuluh tahun masa pemerintah Presiden Umar, telah banyak melahirkan kebijakan-kebijakan starategis dalam pembaharuan sistem administrasi negara. Seorang Doktor bernama Abu Rawwas Qol’ah Jiy, telah melakukan riset spektakuler tentang autobiografi Umar. Beliau telah menemukan tidak kurang dari 200 kebijakan strategis Umar dalam memimpin bangsanya menuju perubahan paling mendasar. Mulai dari politik, ekonomi, militer, supremasi hukum dan administrasi negara. Umar dengan cermat telah menjalankan politik luar negerinya secara elegan. Terbukti, kawasan yang begitu luas dari mulai Syirya, Mesir, Iraq, Persia, Khuzistan, Armenia, Azerbaijan dan Balukhistan, telah berada di bawah kekuasaan Pemerintahan Umar dan tanpa gejolak politik yang berarti.

Pembentukan lembaga-lembaga penunjang kekuatan negara seperti Diwan (serupa Departemen Keuangnan), Amsar (Pusat-pusat militer yang kemudian berkembang menjadi kota-kota besar ), Qadhi (Semacam Lembaga Peradilan) dan lembaga penting lainnya. Salah satu prestasi besar Presiden Umar dalam membangun negara yang membentang dari kawasan Syiria sampai Azerbaijan ini menjadi indikator bahwa Umar memiliki tingkat profesionalisme dan inovasi yang kuat.

Negara Indonesa yang begitu luas membentang dari Sabang sampai Merauke dengan segala kompleksitas persoalan -dari mulai politik, ekonomi, sosial, budaya dan hukum-, mustahil akan bisa diselesaikan dengan hasil baik tanpa presiden yang mempunyai karakter penuh cinta, kerja dan harmoni yang profesional dan inovatif. Sebuah teori (yang terinspirasi dari hadits Rasul) mengemukakan, “Salah satu sebab runtuhnya kekuatan negara dan ambruknya bangsa karena dipimpin oleh Presiden yang tidak profesional dan tidak inovatif”. Dalam konteks kepentingan inilah kita merasa perlu menjaring calon-calon pemimipin Negara Indonesia  pilihan tiga yang profesional dan inovatif ini. Rakyat Indonesia pada umumnya sudah cermat dan selektif dalam melakukan pilihan itu. Walaupun, survei dan pemberitaan media yang selalu tidak sesusi dangan fakta yang ada.

Ketiga, Tegas dan Berani penuh Harmoni. Salah satu faktor yang ikut memberikan sumbangan terbesar bagi keruntuhan suatu bangsa adalah karena lemahnya supremasi hukum. Ketika Indonesai sedang dilanda krisis moral dalam bentuk meningkatnya angka kriminalitas dengan berbagai formulasinya, maka karakter Presiden yang memiliki sikap tegas dan berani mengambil resiko merupakan tuntutan paling mendesak. Yakni Presiden yang tidak terintervensi oleh kebijakan negara lain seperti Amerika atau Australia. Sebab, ambivalensi pemimipin dalam mengambil tindakan hukum akan semakin memperburuk potret Indonesia. Apalagi, Indonesia tengah diterpa musibah konflik sosial begitu rupa, dan fenomena sparatisme yang pasti akan mengancam keutuhan bangsa. Maka, sikap tegas dan berani mengambil keputusan menjadi satu-satunya pilihan.

Intervensi dan imperialisme asing yang seringkali kurang menguntungkan posisi Indonesia dalam berbagai bentuknya -mulai dari hukum, ekonomi politik dan budaya-, akan dapat diminimalisir  dengan sikap tegas dan keberanian mengambil sikap dari seorang Presiden. Hilangnya ketegasan dan keberanian akan berdampak pada terjebaknya Indonesia dan daerah kita pada ketergantungan yang berlebihan pada negara lain. Hal ini akan menciptakan iklim yang kurang kondusif bagi politik luar negri kita.

Di bidang penegakan hukum, apa yang pernah dilakukan Umar, cukup menjadi contoh ideal bagi Presiden, atau pemimpin-pemimpin daerah Indonesia. Baik Gubernur atau Bupati/Walikota masa depan. Umar telah membangun egalitarianisme dan persamaan hak di mata hukum begitu rupa. Persamaan perlakukan hukum dalam masyarakat waktu itu tidak terhalang oleh sekat sekat primodialisme bahkan persaudaraan sekalipun. Salah satu bukti historis misalnya, dengan tangannya sendiri Umar telah melakukan eksekusi pidana bagi anaknya sendiri yang kebetulan ditemukan melakukan pelanggaran berat. Umar juga berani melakukan  kebijakan penting dalam bidang hukum terhadap pengguna barang-barang terlarang (Khamar), dengan tingkat hukuman yang maksimal,  dan dampaknya sangat luar biasa: tingkat kriminalitas pada masa pemerintahan Umar menurun drastis.

Demi kepentingan negara di masa depan, Umar seringkali cukup berani mengambil kebijakan-kebijakan kontroversial di tengah publik. Misalnya berkaitan dengan retribusi pajak bagi kalangan pemilik tanah, penahanan harta rampasan perang guna pembiayaan negara, penggajian pegawai negara, angkatan perang militer dan veteran yang disesuaikan dengan tingkat keahlian dan masa pengabdiannya pada negara. Bahkan, keberaniannya memecat panglima perang yang diduga menyalahi perintah negara.

Indonesia masa depan, bagaimanapun tidak bisa diserahkan pada pemimpin yang lemah. Pemimpin Indonesia masa depan harus tangguh, professional, inovatif penuh dengan karakter cinta, kerja dan harmoni. Yang terpenting adalah komitmen dan integritasnya pada nilai yang kuat.

Karakteristik pemimipin seperti itupula yang dibutuhkan oleh Republik ini ke depannya. Semoga saja, prosesi politik Pileg & Pilpres yang akan segera berlangsung di Indonesia tercinta ini tidak hanya merupakan pilihan-pilhan politik ansich -yang cenderung profan-, tapi lebih dari itu, sebagai upaya pencerahan untuk melahirkan pemimpin baru yang membawa misi Indonesia lebih baik dan sebuah amanah sakral dari Tuhan. Aamiin

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (21 votes, average: 9,29 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ketua Yayasan Pendididkan Latifah Ciwaringin, Cirebon.
  • Kami Rindu akan Sosok Pemimpin yg Seperti itu :(

  • BramSonata

    Perlu dipahami, Sahabat Umar bin Khatab ra, termasuk salah satu dari sekian manusia terbaik pada generasi awal Islam. Untuk saat/masa kini, manusia yg sekualitas manusia generasi awal Islam, boleh dikatakan sudah punah atau kalau ada, hanya satu dua yg susah menemuinya.
    Mengenai munculnya pemimpin negeri ini yg dimimpikan seperti sahabat Rasulallah saw, saya mengatakan TIDAK MUNGKIN, sebab hampir sebagian (besar) umat Islam di negeri ini, tidak steril dari kemusrikan/kesirikan/munafik.

  • Bambang Setiono

    Berdo’alah pada Allah utk dapatkan pimpinan spt Umar bin Khatab ra….karena bagi Allah tidak ada yg tdk mungkin

  • Dwi Widiansyah

    mustahil selama masih banyak org yang munafik, yakni milih golput tapi menuntut negri harus baik, pemimpin harus baik,.. nasip harus baik,.. sementera “mereka” hanya mencela tanpa bekerja/memilih pemimpin yang mrk inginkan. dan yang sangat disayangkan yang sok golput adalah yang “sok baik”

  • Paga Nagari

    Klau boleh berandai2 saya lebih suka dipimpin oleh rasulullah saw langsung

  • Lisa Kusumawati

    apakah kualitas masyarakat indonesia sudah bisa disamakan dengan masyarakat madinah, sehingga pantas dipimpin manusia sehebat Umar?

  • Hari Rustandi

    Seorang sahabat bertanya kepada Sayyidina Ali.
    Kenapa di zaman Sayyidina Abu Bakar,Umar,Utsman pemerintahannya aman tentram, tetapi di zaman Sayyidina Ali pemerintahannya kacau.
    jawab Sayyidina Ali :
    kalo zaman Sayyidina Abu Bakar, Umar, Utsman, Rakyatnya seperti-ku (Sayyidina Ali), tetapi di zamanku (Sayyidina Ali), Rakyat nya sepertimu. ( menunjuk ke sahabat itu ).

    Bagaimana di zaman sekarang ?

  • Saleh Bin Yusuf

    moga bangsa ini kedepan di pimpin oleh seorang mu’min sejati

  • Edi Scofield

    kita tidak seperti beliau dan kita tidak perlu menjadi beliau, kita adalah kita
    kita harus menentukan jalan kita dengan cara kita dengan baik dan benar untuk menuntun negara ini dengan norma2 yg sudah di ajarkan pendahulu kita dan kita tetap berpegang teguh terhadap AL-QUR’AN dan ALLAH SWT

Lihat Juga

Meretas Cinta Jalan Kepahlawanan