Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Katakan Maaf Walaupun Terasa Berat

Katakan Maaf Walaupun Terasa Berat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Maafkanlah semua orang yang telah menyinggung Anda. Bukan untuk mereka. Tetapi untuk diri Anda sendiri. (Harriet Nelson)

Setiap manusia pasti melakukan kesalahan, oleh karena itu timbullah suatu kiasanmanusia tempatnya salah. Maka dari itu, muncullah sebuah kata maaf untuk mengobati kesalahan tersebut. Sebuah kata teramat singkat, namun memberikan efek yang luar biasa dalam perkembangan kejiwaan seseorang. Kata maaf, apabila dilakukan dengan keikhlasan mampu menghilangkan rasa dengki, kesalahpahaman, permusuhan atau hal lain yang dapat memicu konflik. Maka dari itu, seseorang yang memahami makna maaf yang sebenarnya, hidupnya akan menjadi lebih tenang dan damai.

Dalam kata maaf terkandung dua makna yang mengikutinya. Yakni meminta maaf dan memaafkan. Namun dalam praktiknya, dua hal tersebut bukanlah kata yang mudah untuk dipraktekkan. Masih banyak orang yang enggan untuk menerapkan keduanya dalam kehidupan. Cekcok, permusuhan, pertengkaran, saling menghasut dan lain sebagainya adalah contoh kecil yang kita temui ketika seseorang tidak mampu menerapkan konsep maaf.

Bagi sebagian orang, meminta maaf barangkali sesuatu hal yang susah untuk dilakukan. Bahkan, dalam kasus-kasus tertentu, kata maaf -meminta maaf- barangkali haram untuk dilakukan oleh sebagian orang karena gengsi. Padahal, meminta maaf menunjukkan bahwa kita menyadari dengan sepenuh hati setiap manusia pasti punya salah. Apalagi, tidak ada manusia yang bebas dari salah kecuali Rasulullah yang maksum. Dengan meminta maaf, berarti kita mampu melihat value hidup kita.

Hampir sama dengan meminta maaf, memberikan maaf kepada orang yang  menyakiti atau menyinggung kita terkadang bukan perkara yang mudah. Masih banyak orang yang belum mampu membukakan pintu maaf bagi orang lain. Memang, semua tergantung kadar kesalahan. Tapi, apakah kemudian pantas jika kita tidak mau memberikan maaf bagi orang lain? Padahal, Allah selalu memberikan pintu maaf dan taubat bagi hambanya yang mau meminta maaf (ampunan) dengan syarat tidak melakukan kesalahan tersebut berulang kali?

Mari tengok Surah An-Nur ayat 22, “ …. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” Lalu mengapa kita masih enggan memberikan maaf kepada orang lain?

Memberikan maaf bukan berarti kita menolerir dan mewajarkan kesalahan seseorang. Tetapi memberikan maaf bisa kita jadikan sebagai pelajaran kehidupan. Dengan memberikan maaf, berarti Anda memahami hakekat setiap manusia hendaknya bermanfaat untuk orang lain. Di sinilah letak utama kemuliaan dari orang pemaaf. Betapa tidak, memberikan maaf membukakan peluang bagi orang yang salah untuk memperbaiki diri.

Menjadi pribadi yang pemaaf berarti memberikan peluang bagi Anda untuk menaikkan derajat kemuliaan diri Anda. Seorang yang pemaaf bisa dipastikan dia adalah orang yang berani meminta maaf atas kesalahan. Mengapa kita tidak menjadi pribadi yang pemaaf, padahal kita tidak tahu esok seperti apa? Meminta maaf dan memberikan maaf mampu meleburkan dosa kita hari ini. Karena kita tidak tahu esok seperti apa, maka lakukan yang terbaik bagi diri Anda sendiri.

Tidak ada manusia yang sempurna, karena manusia tempatnya kesalahan. Jika antar sesama melakukan kesalahan, maka saling memaafkan adalah kuncinya. Allah saja mau memberikan maaf bagi setiap hamba-Nya, mengapa kita tidak?

Tidak masalah apakah orang yang telah menyakiti hati Anda pantas untuk dimaafkan atau tidak. Maaf adalah hadiah yang Anda berikan kepada diri sendiri. (Real Live Preacer)

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 5,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tama Yudhistira
Seorang pengajar tinggal di Surakarta yang senantiasa belajar memaknai hidup dan menuliskannya.

Lihat Juga

Peresmian Berbagi Air untuk Mewujudkan Sehatnya Keluarga Indonesia