Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bingkai Cinta Dalam Islam

Bingkai Cinta Dalam Islam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Muslimin Inggris (moheet.com)
Muslimin Inggris (moheet.com)

dakwatuna.comOh, yang umatnya di beberapa negara dibantai itu?Kemudian di belahan negara lain sama melakukan aks?Berteriak-teriak di depan tempat yang hanya membisu dijaga ketat? Yang ada label mujahid? semacam berani terjun perang dan mati untuk agama? Yang banyak menganggapnya teroris itu? Yang terpecah-pecah di dalamnya, yang berbeda-beda hari rayanya dan bahkan pendapat tentang ibadahnya?”

“Ah, sayang sekali. Sempit sekali. Kenapa berpikir hanya sebatas itu? Terus menerus memblow up berita seperti itu?”

“Tidakkah sudah jelas Islam itu indah, dengan caranya? Coba saja lihat lagi dan persepsikan dari sudut yang berbeda.”

“Islam itu indah, Islam itu cinta, Islam itu ukhuwah.”

“Kenapa mereka berlelah-lelah (menghabiskan tenaga) untuk aksi (meski seperti tak didengarkan aspirasinya)? Karena mereka tak sanggup hanya diam jika saudaranya terluka atau tersakiti. Karena mereka cinta dan berukhuwah satu sama lain. Mereka berikrar, “Kami adalah milik kalian wahai saudara-saudara tercinta (Hasan Al Banna)”. Tidakkah indah, ketika yang tidak saling kenal itu memberikan segala yang dimampu (tangis, doa, harta, bahkan jiwa), karena simpati dan rasa sebagai satu?”

“Mujahid itu keistimewaannya. Ketika semua orang takut akan mati (karena bertumpuk dosa), maka Islam menawarkan cara yang berbeda. Mujahid itu tak pernah mati, dia hidup dalam hati saudara seimannya, dan dia hidup bahagia di sisi Allah. Kau lihat di ‘Negara Perang’ itu, jika satu keluarganya mati, maka yang lain ‘merayakannya’, bukan menangisinya. Maka bertambahlah kekuatan yang lainnya, termotivasi. Karena mereka bahagia, tempat yang layak sudah terjanjikan atasnya.”

“Dari hal kecil saja, membuatku bangga berislam, cinta akan Islam. Pernah kau lihat sampul buku Salim A. Fillah ‘Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim’? Itulah Islam, penuh kesederhanaan. Tidakkah begitu bangga menjadi salah satu orang yang bersama berbondong menuju satu tempat (masjid), kala adzan dikumandangkan? Merasakan segarnya air wudhu sembari mendengarkan tetesan air jatuh dari wudhu saudaranya. Kemudian berbaris rapi, rapat dalam shafnya? Mereka mungkin tak saling kenal, mereka menjadi satu menghadap Allah. Mereka tak pandang gelar, martabat, kepintaran, paras, dan hal duniawi lainnya, mereka berbaur bersampingan, karena saat itu derajatnya diukur dari keimanan dan ketaqwaan, maka rendahlah diri yang bisa bersombong tahta dan harta, namun miskin taqwa, maka ingatlah diri akan persinggahan abadi, di akhirat-Nya. Tidakkah itu begitu mengharukan? Islam itu indah.”
“Atau rasakan sejuknya satu bulan istimewa yang dihadiahkan bagi para pemeluknya. Bulan di mana mereka diharuskan bangun fajar untuk bersahur. Meski mereka berada di dalam kotak-kotak rumah yang berbeda, tapi satu waktu mereka bertemu. Bulan yang merehatkan, mengumpulkan satu keluarga, jika dalam bulan lain tak sempat waktu tuk makan bersama, maka di sinilah waktu merekatkan kehangatan keluarga. Bulan yang di mana-mana (tiba-tiba) bernuansa Islami. Tapi tidakkah kau rasakan cantiknya? Ketika yang dipertontonkan di televisi adalah cerita berhikmah, bukan cerita-cerita picisan yang membuat remaja kita menjadi lemah akan cinta, terbuai akan nafsu. Ketika yang diperdengarkan adalah murattal, senandung shalawat, dan diakhiri takbir yang menggema.Bukan lagu galau yang menghipnotis pendengarnya untuk lebih hafal dibanding Al-Quran. Ketika para wanitanya (terutama public figure) tetiba menutup rapi auratnya, membuat mata yang melihat jauh dari syahwat, ‘Ah cantik sekali…Andaikan itu diistiqamahkan’. Bulan ini juga mengajarkan cinta, rasa merasakan sesama. Yang biasanya mampu membeli makanan terlezat, sekarang diminta merasa yang dirasa saudaranya yang tak punya. Maka tersadarlah, nikmat yang diberi-Nya sangat melimpah ruah. Saat-saat indah berbagi meski hanya sesuap nasi untuk berbuka, disambut senyum tawa, dan tangis terima kasih dari para penerimanya. Bukankah itu hanya sedikit sekali dari penghasilan yang diterimanya? Maka teringatlah akan hak yang lain dalam hartanya. Indah sekali, bukan?”

“Itu hanya sedikit sekali kebanggaanku akan Islam. Itu hanya sedikit sekali yang membuatku cinta akan Islam. Lalu, jika berpikir (hanya) sedikit hal-hal indah ini saja bisa membuatmu merasa cinta, kenapa harus bersusah payah menebar benci?”

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Protes terhadap sikap rasis Trump. (aljazeera)

Kemenangan Trump dan Pengaruhnya Terhadap Mesir

Organization