Home / Berita / Nasional / Negosiasi, Hukum Qishash Satinah Diundur Usai Pemilu

Negosiasi, Hukum Qishash Satinah Diundur Usai Pemilu

Aksi unjuk rasa menuntut pembebasan Satinah dari hukum Qishash - Foto: pekanbaru.co
Aksi unjuk rasa menuntut pembebasan Satinah dari hukum Qishash – Foto: pekanbaru.co

dakatuna.com – Jakarta.  Hari ini, Kamis (3/4/2014), merupakan batas akhir bagi Satinah binti Jumadi untuk pembayaran diyat agar terbebas dari hukuman qishash.

Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, membenarkan jika pembayaran diyat Satinah jatuh tempo hari ini. TKW asal Ungaran, Jawa Tengah, itu wajib membayar diyat jika ingin bebas dari hukuman qishash.

Namun, menurut Anis, berdasarkan informasi yang ia terima dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, dipastikan Satinah tidak akan di eksekusi mati hari ini.

“Tadi malam saya dengar dari Kemenlu, negosiasi masih berlangsung. Kabarnya diundur sampai setelah Pemilu,” kata Anis.

Satinah divonis qishash atau pancung oleh Pengadilan Arab Saudi pada 13 September 2011. Dia dihukum atas pembunuhan dan pencurian barang milik majikannya, Nura al-Garib, pada 2007.

Jika ingin dimaafkan, Satinah harus membayar diyat atau uang darah sebesar 7 juta riyal atau Rp 21 miliar hingga 3 April 2014.

Selain memperpanjang waktu pembayaran, keluarga bekas majikan Satinah juga menurunkan besaran uang darah dari Rp21 miliar menjadi Rp12 miliar. Belakangan, dikabarkan diyat kembali turun hingga Rp7 miliar. (trk/okezone/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Rio Erismen

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.
  • Sejuki

    Ane hingga saat ini masih bingung nih. Emang latar belakang Satinah membunuh dan mencuri itu apa dulu sih? Apa karena terpaksa atau karena lainnya? Ada yg bisa ngasih penjelasan gak?

  • BramSonata

    Seorang muslim yg tulen dan sejati, justru hukuman mati baginya merupakan karunai Allah yg tiada taranya dan dia mempunyai kesempatan untuk bertobat dengan sesungguhnya tobat, dan saat menjelang dipancung/dirajam dia sudah pasrah kepada Tuhan-nya, karena DIA lah yg menetapkan hukuman mati ini.
    Saya punya keyakinan yg amat luar biasa besarnya, kalau Satinah memahami tentang mengapa dia harus dihukum mati/dipancung, dan apa yg harus dia lakukan saat menjelang pelaksanaannya, dia pasti –insya Allah– sangat GUSAR ada pihak pihak yg membebaskannya dari hukuman pancung.
    Pertobatan Satinah yg sesungguh-sugguhnya TOBAT, saat leher terputus, RIBUAN Malaikat surga sudah berbaris rapih menyambut ROHnya dan diantar dihadapan Tuhan dilanagit yg tinggi.
    Diyat itu harus dibayar dari sumber yg HALAL dan iklas 100% dan TIDAK TERCEMAR oleh kepentingan sesuatu apapun, baik dari dirinya sendiri atau orang lain. Sebab kalau ini dilanggar, beban bukan semakin RINGAN, justru semakin BERAT di dunia maupun di akerat, bagi Satinah.

Lihat Juga

ilustrasi (inet)

Mengenal Fiqih Mazhab Zhahiri

Organization