Home / Narasi Islam / Sosial / Makna Memberi dan Menahan Diri

Makna Memberi dan Menahan Diri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comSebuah video beredar di YouTube, ‘Video Kisah Inspiratif yang dapat Membuat Anda Menangis’, diangkat dari kisah nyata, tentang keindahan di balik suatu pemberian, bahkan mungkin baru sebagian kecil keindahannya.

Memberikan sesuatu kepada orang lain biasanya diiringi dengan perasaan berat, merasakan suatu kehilangan ketika melepaskannya. Berbeda sekali ketika menerima sesuatu pemberian dari orang lain, meski tak seberapa, biasanya dirasakan sebagai suatu anugerah.

Menerima suatu pemberian bisa membuat luluh sikap acuh, meredam kebencian, hingga menumbuhkan simpati. Sebaliknya, tuntutan memberi sering dianggap sebagai sebuah beban yang ingin dihindari.

Untuk sebuah pemberian yang tak seberapa, banyak orang rela mengantri, berebut, bahkan berdesak-desakan dan terinjak-injak. Banyak orang merasa berhak, memalsukan identitas memiskinkan diri, tanpa memedulikan lagi harga diri dan kehormatan.

Sungguh bahagia dan beruntungkah mereka yang banyak mendapatkan pemberian? Selalu mendapatkan prioritas ketika pembagian bantuan, sering mendapatkan santunan, banyak dikasihani. Setiap ada pembagian zakat, sedekah, hingga BLSM, hampir tak pernah ketinggalan.

Apakah kita ingin menjadi orang seperti mereka? Kecewa dan marah ketika orang lain mendapatkan bantuan sosial, raskin, BLSM, zakat dan sebagainya, sementara kita tidak mendapatkannya padahal merasa lebih berhak, hingga harus melakukan protes dan ribut-ribut.

Untuk  anda atau mungkin untuk anak anda kelak, manakah yang lebih layak menjadi cita-cita, kelak di kehidupannya akan banyak mendapatkan santunan, dikasihani dan diperhatikan banyak orang, tak pernah ketinggalan setiap ada pembagian bantuan, zakat dan sedekah? Ataukah anda memiliki cita-cita bahwa kelak tak mendapat prioritas sama sekali ketika ada pembagian bantuan apa pun, tak terpikirkan lagi untuk disantuni, tak perlu diberi apapun oleh orang lain? Jika demikian yang terjadi apakah anda akan merasa rugi?

Mana yang lebih dipilih, menjadi penerima bantuan-bantuan itu ataukah menjadi mereka yang banyak membantu, memberi, menyantuni dan menolong orang lain?

Ternyata hakikatnya memberi itu lebih indah dari diberi. Tak rugi memiliki cita-cita ingin diberi kemampuan untuk senantiasa bisa memberi, berbagi dan bermanfaat bagi orang lain. Dimudahkan untuk bisa memberi sekalipun dalam keadaan mengalami keterbatasan, dikuatkan menahan diri meski dalam kondisi kekurangan.

Dimudahkan menjadi kemaslahatan bagi manusia, bukan beban. Mengutamakan itsar bukan ego. Saling memberi, membalas kebaikan dengan yang lebih baik. Merasakan nikmatnya rahasia ikhlas, melepaskan dengan tidak ada rasa keterpaksaan, terasa nikmat sebagaimana merasakan nikmat ketika mendapat suatu pemberian, bahkan lebih, sekaligus menjadi simpanan dan bekal untuk kehidupan kelak di akhirat.

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 273)

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al Hasyr: 9)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

(Foto) FOKMA Perak Malaysia Gelar Sanlat Bertema “Mengenali Diri tuk Lebih Dekat dengan Ilahi”