Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pesan Luka untuk Sang Murabbi

Pesan Luka untuk Sang Murabbi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: minkara.carview.co.jp)
Ilustrasi. (Foto: minkara.carview.co.jp)

dakwatuna.com Berbagai rasa berkecamuk membuatnya saat itu  dengan derai air mata ia memencet tombol send pada tombol ponselnya, lalu seketika dia terisak, lama sekali. Inilah jawaban mengapa harus pesan singkat yang dipilihnya, mengapa tak katakan langsung besok saja, karena rasa bersalah dan tidak tega, dirinya yakin sekali pesan yang dikirim itu melukai murabbinya. Pelan-pelan ia membuka kembali isi pesan itu. Sebenarnya dia sendiri pun tak kuasa membaca rangkaian huruf yang tertera pada layar, dan ia kembali terisak ketika sampai pada kalimat…

Afwan kak Ana ingin keluar dari jamaah ini.
Ana takut akan pertanggungjawaban di depan Allah kelak.

Ya, dia seorang kader dakwah. Dikatakan memiliki militansi tinggi tidak, tapi amanah yang sering didapatnya selalu saja pos-pos penting dalam perjalanan dakwah kampus. Dan  dia juga telah cukup lama mengecap makna tarbiyah yang telah banyak memberi perubahan ke arah lebih baik dalam hidupnya, lebih dari setengah dekade lamanya.

Tapi alasannya saat itu bukan main-main, pertanggung jawaban pada Allah. Mungkin ada yang menganggap  kepahamannya kurang, tapi menurutnya semakin dia mencari tahu semakin dia memikirkan semakin buram yang terlihat baginya, sehingga ketakutannya bertambah-tambah  jika tetap berada dalam suatu jamaah meski jauh di dalam sudut hatinya menjerit tidak rela namun pada akhirnya rasa bimbang dan  takut itu memuncak, sehingga ia memilih untuk tetap berjaga-jaga dan pikirnya lebih baik menepi sejenak.

Ini masalah keyakinan, ketika keyakinannya untuk tetap berada dalam jalan cahaya ini runtuh seketika. Berbagai faktor yang sering menyebabkan hal ini terjadi di antaranya: kekecewaan, rasa kurang nyaman, dan rapuhnya hujjah ilmu yang dimiliki ketika menghadapi berbagai cacian dan hujatan. Dalam kasus ini alasannya lebih mengarah pada hujjah, menurutnya hujjah-hujjah yang dipaparkan oleh kalangan anti jamaah ini lebih runut, praktis dan nyata hingga akhirnya timbul prasangka, kebingungan yang semakin lama membuat pemikirannya melanglang buana, pernah pada suatu titik ia berpikir untuk menjalani hidup dengan mengambil kebaikan dari setiap jamaah yang ada dan meninggalkan yang ragu baginya, menurutnya itu lebih aman. Tapi hatinya menangis saat melihat semangat sahabat-sahabat seperjuangannya dulu yang dengan gagahnya mengajak pada yang makruf mencegah pada yang mungkar, menebar kebaikan pada dunia.

Lalu kajian keislaman dalam berbagai jamaah mulai diikutinya dengan penuh semangat tanpa menyadari bahwa waktu terus saja berlalu menggerogoti usianya, ia masih saja asyik dalam pencarian kebenaran membandingkan berbagai pergerakan dakwah sampai ia lupa dengan hakikat tugas dakwah yang sebenarnya dan pada suatu titik lainnya dia kembali merasa lelah. Hingga pada akhirnya perlahan dia dapat menyimpulkan semakin jauh perjalanan mereguk telaga ilmu yang dilakukannya semakin ia menyadari bahwa betapa dirinya tidak tahu apa-apa, betapa dha’ifnya dia. Dan untuk berbagai pergerakan dan komunitas dakwah menurut dirinya yang dha’if  itu semuanya punya keunggulan sekaligus kelemahan masing-masing. Semuanya berdalil dan punya pos-pos yang jika saling berpangku tangan dapat menegakkan kembali kalimat Allah di muka bumi. Kecuali yang secara mutlak dinyatakan sesat lagi zhalim terhadap umat islam.

Mungkin akibat berlalunya waktu yang cukup lama telah menggerus semangat juangnya yang dulu, alhasil pun setelah mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya ia merasa posisinya yang bebas dari jamaah manapun sangat nyaman, tidak  membimbangkan benar atau salah, tidak merugikan siapapun juga karena dakwah ini akan berjalan ada atau tidak dirinya, pikirnya polos.

Namun Allahlah yang membolak-balikkan hati manusia, dalam keheningan suatu malam dia merasakan hidupnya di dunia ini tersia-sia tanpa suatu komunitas dakwah dan kembali teringat tekad yang diazzamkannya dulu  setelah mengirim pesan singkat penuh luka itu pada sang murabbi.

“Aku akan kembali lagi,
jika telah menemukan jawaban dari semua kebingungan ini.”

“Barang Siapa tidak ikut peduli dan tidak perhatian terhadap urusan orang Islam maka bukan termasuk golonganku.” (HR Bukhari-Muslim).

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Arissatul Husna
Seorang mahasiswi Fisika, tertarik dalam dunia dakwah dan kepenulisan. Senang mendongeng dan menyimak berbagai kisah hidup untuk mengambil pelajaran didalamnya. Senang berteman, mengamati dan menikmati indahnya beragam karakter manusia ciptaan Sang Maha Kuasa. Pernah mengikuti studi kepenulisan FLP angkatan VI (Fenomena) Pekanbaru. Saat ini sedang merampungkan skripsi, mohon doanya.

Lihat Juga

Bolehkah Aku Menyentuh Lukamu, Ayah?