Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jangan Menyesal Ketika tak Ikut Berperang…

Jangan Menyesal Ketika tak Ikut Berperang…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: inet)
Ilustrasi. (Foto: inet)

dakwatuna.comBelajar dari peristiwa perang Badar, seperti yang sama-sama kita ketahui bahwa kaum muslimin yang dibawa oleh Rasulullah SAW hanya berjumlah 313 orang.

Padahal inilah perang pertama yang dilakukan kaum muslimin. Sekaligus peristiwa paling penting bagi sejarah perkembangan dakwah Islam. Meski dengan kekuatan yang jauh lebih kecil dibanding kekuatan musuh, dengan pertolongan Allah, kaum muslimin berhasil menang menaklukkan pasukan kafir.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyerahkan pimpinan kota Madinah kepada sahabatnya Abdullah bin Ummi Maktum, berangkatlah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama tentara Islam sebanyak 313 orang. Kaum muslimin memang tidak berkumpul dalam jumlah besar dan tidak melakukan persiapan sempurna. mereka hanya memiliki dua ekor kuda, milik Zubair bin Awwam dan Miqdad bin Aswad al-Kindi. Di samping itu mereka hanya membawa tujuh puluh onta yang dikendarai secara bergantian, setiap onta untuk dua atau tiga orang. Rasulullah SAW sendiri bergantian mengendarai onta dengan Ali dan Murtsid bin Abi Murtsid Al-Ghanawi. Bendera Islam saat itu rupanya dibawa oleh sahabat Mush’ab bin Umair, berjalan di muka kendaraan Nabi dan ada dua lagi bendera yang satu dibawa oleh sahabat Ali bin Abi Thalib dan satunya lagi di bawa oleh sahabat Sa’ad bin Muadz.

Sementara jumlah pasukan kafir Quraisy sepuluh kali lipat. Tak kurang seribu tiga ratusan prajurit. Dengan seratus kuda dan enam ratus perisai, serta onta yang jumlahnya tak diketahui secara pasti, dan dipimpin langsung oleh Abu Jahal bin Hisyam. Sedangkan pendanaan perang ditanggung langsung oleh sembilan pemimpin Quraisy.

Awalnya misi operasi badar itu hanya untuk menghadang kafilah dagang lawan yang pulang dari Syam. Akan tetapi niatan untuk mencegat kafilah dagang itu tidak kesampaian. Sebab kafilah dagang tersebut sudah terlanjur mendengar berita kedatangan operasi pencegatan, lalu mereka melarikan diri menjauhi kota Madinah dan Abu Sufyan sebagai pimpinan kafilah berhasil mengirim utusan ke Makkah untuk minta bantuan.

Pimpinan Makkah segera merespon permintaan ini dan langsung mengirim 1.000 orang lebih pasukan, lengkap dengan senjata, perbekalan, harta benda bahkan khamar. Dalam pikiran mereka, inilah kesempatan emas untuk menghabisi semua orang Islam. Maka alih-alih bisa mencegat kafilah dagang, justru para sahabat dibenturkan dengan kenyataan harus berhadapan dengan 1.000 orang lebih pasukan lengkap dari Makkah. Dari segi personil, sangat tidak berimbang, apalagi dari segi perlengkapan dan senjata. Jika diprediksi di atas kertas, 90% kaum muslimin sudah pasti kalah.

Dengan pertolongan Allah, kaum muslimin berhasil menang menaklukkan pasukan kafir Quraisy pada perang tersebut.

Ada sebuah pertanyaan dalam peristiwa ini. Ke manakah para sahabat yang lain? Mengapa mereka tidak ikut berperang? Padahal perang ini yang menjadikan eksistensi peradaban islam hingga saat ini. Dan Allah juga telah menurunkan ayat perintah berperang kepada Rasulullah setelah mendapatkan intimidasi di Mekah dan harus berhijrah ke Madinah.

Allah berfirman melalui surat Al Hajj: 39-40

 أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ، الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ  ( الحج: 39-40 )

“Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh Allah Maha kuasa menolong mereka itu. (yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami adalah Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, sinagog-sinagog dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut asma Allah. Dan sungguh Allah akan menolong orang yang mau menolong (agama)Nya, sesungguhnya Allah itu Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hajj: 39 – 40)

Memang benar bahwa pada awalnya misi operasi badar itu hanya untuk menghadang kafilah dagang lawan yang pulang dari Syam. Akan tetapi, karena itulah banyak para Sahabat yang tidak ikut serta peperangan dikarenakan mereka berpikir hanya untuk menghadang kafilah dagang.

Para Sahabat yang tidak mengikuti perang tersebut sangat menyesal karena tidak ikut serta bersama Rasulullah. Sebab mereka tidak tahu bahwa kaum muslimin yang dipimpin Rasulullah akan menghadapi kekuatan terbaik dari kaum kafir Quraisy.

Menyesal? Ya, sudah pasti para sahabat yang tidak ikut berperang memiliki penyesalan yang mendalam karena tidak terlibat langsung bersama Rasulullah dalam perang yang maha dahsyat itu. Mereka tidak menjadi bagian dalam kemenangan dakwah bersama Rasulullah. Mereka hanya mendapatkan kabar bahwa Rasulullah dan para sahabatnya memenangi pertempuran melawan pasukan terbaik kafir Quraisy walaupun hanya berjumlah sedikit.

Akan tetapi, jika Allah memiliki takdir yang lain. Andai kaum muslimin kalah pada perang tersebut, saat Rasulullah beserta kaum muslimin dihabisi oleh pasukan kafir Quraisy. Sementara sahabat yang lain tidak terlibat, bahkan akhirnya kaum muslimin mengalami kekalahan. Bagaimana para sahabat yang tidak ikut berperang menghadapi kenyataan itu?

Tentu hal itu lebih menyedihkan. Penyesalan yang berlipat ganda akan dialami sahabat yang tidak ikut berperang lantaran hanya diam saja saat kaum muslimin dihabisi pasukan kafir Quraisy.

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari peristiwa tersebut. Tentu peristiwa “peperangan” yang akan dihelat oleh bangsa Indonesia menjadi momentum kebangkitan gerakan islam di Indonesia. Sebab yang kita lawan dalam perang tersebut bukan hanya orang-orang kafir yang ambisius menjadi pemimpin, tetapi kita juga akan berhadapan dengan orang-orang munafik dari JIL dan Syi’ah.

Apakah kita terlibat atau tidak terkait peperangan kali ini? Hanya kita yang bisa menjawabnya. Sejauh mana kita memahami perang kali ini. Mungkin kita hanya bisa menerima hasilnya nanti setelah peperangan selesai. Tetapi di manakah peran kita? Apakah kita rela bangsa ini dipimpin oleh orang-orang kafir dan munafiq?

Jangan sampai kita menyesal tidak ikut serta seperti para sahabat yang “absen” saat perang badar. Jangan sampai kita menyesal jika bangsa ini dipimpin oleh orang-orang yang tidak amanah karena kita tidak ikut serta untuk berperang.

Sejatinya kemenangan dakwah yang paling hakiki diperoleh bagi orang yang berjuang dengan harta dan jiwanya diiringi dengan kesabaran dan keikhlasan. Semua yang diperbuat diharapkannya hanya ridha Allah semata hingga kelelahan menjadi kenikmatan jiwanya.

Jangan sampai kita gagal “menikmati” peperangan ini, karena bahagia itu bukan merasakan kemenangan, akan tetapi ikut merasakan proses perjuangan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 8,42 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

~ittaqillah~ The greatest privilege of man is talk to God..

Lihat Juga

Negara militer Korea Utara (aljazeera.net)

Korea Utara Siap Perang dengan AS dan Sekutunya