Home / Berita / Daerah / Nenek ini Mengemis Demi Anak dan Cucunya yang Sakit

Nenek ini Mengemis Demi Anak dan Cucunya yang Sakit

Nenek pengemis beserta anak dan cucu - detik.com
Nenek pengemis beserta anak dan cucu – detik.com

dakwatuna.com – Cirebon.  Seorang nenek berusia 60 tahun terpaksa mengemis untuk menghidupi anaknya yang sakit mental dan cucunya yang sakit ISPA di Cirebon, Jawa Barat. Nenek yang belum diketahui namanya ini telah menjalani kehidupan yang tak mengenakkan selama 3 tahun.

“Awalnya saya bersama teman sering lewat dan lihat keluarga itu. Kasihan juga. Mereka mengaku berasal dari Kuningan Jabar,” ujar salah satu warga Cirebon bernama Iweng saat dihubungi detikcom, Minggu (30/3/2014).

Iweng berkisah, si nenek bersama anak perempuan dan cucu perempuannya bernama Yuli (3) terpaksa keluar dari rumah menantunya di Kuningan. Menantunya yang tulang punggung keluarga meninggal tiga tahun lalu karena sakit paru-paru.

“Kelihatannya ada masalah keluarga, akhirnya keluarga besar suaminya mungkin mengusir mereka. Tapi ternyata ibunya yang sakit skizofrenia itu hamil Yuli setelah suaminya meninggal,” ujar Iweng.

Nenek, ibu, dan Yuli tiap malam tidur di pelataran Asrama Haji Cirebon hanya beralaskan kain atau kardus. Sehingga angin malam membuat Yuli menderita gangguan pernapasan atau ISPA.

“Cucunya tidur ngemper seadanya di alas kardus atau tikar. Ya udara dingin atau keanginan itu yang memperparah ISPA-nya. Kemarin-kemarin kondisinya sempat drop, tapi setelah diperiksa dokter dan diberikan obat ya lumayan. Dia sudah bisa duduk, sebelumnya hanya tiduran saja,” ujar Iweng.

Adalah Iweng dan rekannya Awang yang berinisiatif untuk mendatangkan dokter memeriksa Yuli beberapa hari lalu. Namun sang nenek tampak gelisah, beberapa kali ia menarik Yuli ke dalam pelukannya saat stetoskop hendak ditempelkan ke dada Yuli.

“Pas diperiksa itu juga agak sulit karena neneknya ketakutan. Khawatir Yuli mau dibawa. Dokter bilang penyakit Yuli harus diperiksa di rumah sakit. Sebetulnya si nenek ini merasa kalau cucunya dibawa itu, darah dagingnya, nggak tahu siapa yang ambil, carinya nanti di mana,” ujar Iweng.

Sang ibu yang menderita gangguan mental tampak sulit diajak berkomunikasi, namun ketika si nenek berbicara kepadanya, ibunda Yuli ini mampu berkomunikasi. Walau begitu, si ibu kerap terlihat bengong sendirian.

“Ibunya hanya duduk-duduk saja, melamun. Tapi kalau diajak ngobrol neneknya nyambung, kalau sama kita cuma nyengir-nyengir nggak jelas. Kalau sama si nenek dia jawab,” ujar Iweng.

“Yuli ini diurusnya sama neneknya. Kalau untuk makan, neneknya keliling mengemis. Terpaksa anaknya bersama ibunya itu, dipegangin agar tak jauh-jauh, sepertinya naluri keibuannya masih ada sama anaknya sendiri,” ujar Iweng menambahkan.

Kini satu-satunya tulang punggung keluarga kecil ini adalah si nenek yang saban hari mengemis hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Mereka tidak memiliki rumah, ibu dan anaknya sakit, dan harta mereka hanya pakaian yang mereka kenakan itu.

“Anak kecil itu sebenarnya diminta tetangganya, banyak yang mau merawat. Tapi si nenek nggak mau cucunya dipelihara orang lain, ya dia memilih ke arah mengemis itu,” tutup Iweng. (detik/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 6,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Google Plus)

Memukul Anak Dalam Perspektif Pendidikan Islam

Organization