Home / Berita / Opini / Menyegarkan Kembali Komitmen kita untuk Mendukung Palestina

Menyegarkan Kembali Komitmen kita untuk Mendukung Palestina

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Kompleks Masjid Al-Aqsha, Al-Quds, Palestina. (Foto: inet)
Ilustrasi – Kompleks Masjid Al-Aqsha, Al-Quds, Palestina. (Foto: inet)

dakwatuna.com Tergulingnya Presiden Mesir, DR. Mursi hafizhahullaah, yang terpilih secara demokratis berdampak luar biasa bagi penduduk Palestina, terutama yang berada di penjara terbuka terbesar di dunia, Jalur Gaza. Seketika itu juga perbatasan Rafah ditutup, terowongan-terowongan yang menjadi urat nadi kehidupan penduduk Gaza dihancurkan, BBM dan material bahan bangunan menjadi langka, harga bahan makanan melangit, penduduk Gaza semakin menderita. Yang membuat miris adalah pihak militer Mesir yang notabene (mengaku) Islam yang melakukan tindakan zalim nan kejam tersebut, bukan Zionis Israel musuh abadi umat Islam.

Ditambah lagi Suriah, yang merupakan salah satu gerbang utama pembebasan Palestina selain Mesir, sampai saat ini pemerintahnya yang lalim dan haus darah, Bashar al-Assad belum juga berhasil ditumbangkan. Terjadinya fitnah dan perselisihan antara satu faksi mujahidin dengan faksi mujahidin lainnya makin memperparah kondisi ini. Pemerintah Qatar yang pernah memberikan bantuan secara langsung kepada penduduk Gaza juga ditinggalkan dan dimusuhi oleh trio Arab Saudi, Bahrain dan UEA. Hal itu terjadi tersebab Qatar yang mendukung pemerintahan Mursi dan menolak mendeportasi syaikh DR. Yusuf Qaradhawi hafizhahullaah yang sangat vokal membela umat Islam. Selain itu juga stasiun al-Jazeera, yang gencar meliput aksi tentara Zionis saat menyerang Gaza dan demonstrasi pro Mursi masih berada di bawah perlindungan pemerintah Qatar. Perdana menteri Turki, Erdogan, yang juga sangat vokal membela Gaza, yang pernah mempecundangi perdana menteri Israel pada acara World Economic Forum tahun 2009 di Davos, mulai digoyang dan difitnah oleh beberapa kalangan dari dalam dan juga luar negri. Indonesia bagaimana, jangan ditanya?

Pihak-pihak yang sangat loyal dan vokal mendukung dan membela Palestina, terutama yang terdekat secara geografis dan ideologis dengan negeri tersebut, pasti akan dijadikan common enemy (musuh bersama) oleh koalisi musuh Islam, dan sudah selayaknya digoyang, dikudeta, dihancurkan bahkan dicap sebagai teroris seperti yang dilakukan oleh raja Arab Saudi dan Mesir terhadap organisasi Ikhwanul Muslimin.

Progres pembebasan Palestina yang sepertinya mundur sangat jauh lagi ke belakang apakah akan turut melemahkan kita? Apakah suara kita yang dulu vokal. semangat kita yang dulu total, dukungan kita yang dulu loyal, untuk Palestina akan menurun dan menghilang tanpa bekas? Apakah kita akan terus membiarkan kezaliman yang dipertontonkan tiap saat dan kita meresponnya dengan semangat yang telah pudar dan buyar? Apa pun yang terjadi kita sebagai umat Islam, terlebih sebagai aktivis dakwah, sudah selayaknya menempatkan Palestina di hati kita yang terdalam, mencintai dan menghormatinya, memimpikan untuk syahid di tanahnya yang suci, serta mencurahkan jiwa dan harta untuk membebaskannya.

Optimisme wajib kita tanamkan dalam diri, bahwasanya atas izin Allah, suatu saat Palestina pasti akan terbebas. Allah SWT berfirman: “…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapatkan pelajaran)….” (QS. Ali Imran: 140)

Dulu tak ada yang pernah mengira, imperium Romawi dan Persia yang gagah perkasa bisa ditaklukkan. Dulu tak ada yang pernah menduga, kota Konstantinopel yang kokoh bisa direbut. Dulu tak ada yang pernah menyangka, imperium kolonial Inggris, imperium komunis Uni Sovyet dan imperium Nazi Jerman yang kuat serta memiliki persenjataan yang modern bisa rapuh dan runtuh. Kita harus percaya pada sunnatullah, bahwasanya suatu saat rezim zalim Zionis dan pihak-pihak yang menyokongnya habis-habisan juga akan collapse dan hancur lebur. Mari kita buang jauh-jauh sikap ketergesa-gesaan dalam meraih kemenangan. Seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW kepada Khabab RA yang mengadukan penderitaan tiada henti yang dialami umat Islam di Mekkah, mereka dicambuk, disiksa, ditindih dengan batu, dibakar dan Khabab “mempertanyakan” kapan pertolongan Allah akan datang, dengan kalimat yang panjang dan ditutup dengan, “Akan tetapi kalian terlalu tergesa-gesa..”

Kita ingin Palestina segera merdeka dan shalat di Masjid Al-Aqsha’, tapi Allah SWT berkehendak lain. Ada banyak hikmah yang tidak terkuak dan tersingkap oleh kita dari lamanya penjajahan Zionis terhadap Palestina ini. Allah SWT memiliki tujuan tertentu untuk menguji hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah SWT juga ingin menguji kita, para aktivis yang mengklaim mencintai Palestina, apakah akan terus istiqamah dan sabar dalam jalan yang penuh onak dan duri ini.

Kita harus terus proaktif mengangkat masalah krisis di Palestina ini kepada siapapun, dan mencoba mempengaruhi opini publik di tingkat lokal, nasional dan internasional agar turut serta membicarakan dan mencari solusi untuk Palestina. Kita juga bisa membuat terobosan baru dan mencari ide kreatif untuk mengajak orang lain tersebut, bisa dengan puisi, tulisan, video, nasyid, game, diskusi, poster dan lain-lain.

Sesama umat Muslim juga sudah selayaknya menjaga persatuan dan kesatuan, serta menghindari terjadinya perpecahan. Rasulullah SAW menyampaikan khutbah pada haji wada’, “Sesungguhnya setiap muslim adalah saudara bagi setiap muslim lainnya, dan sesungguhnya kaum muslimin adalah saudara.” (HR. al-Hakim). Jika kalangan musuh Islam dari berbagai agama, isme, golongan dan kelompok, bersatu padu untuk memusuhi kita, mengapa kita yang memiliki Tuhan, Rasul dan Kitab yang sama malah bermusuhan hanya karena suatu hal yang sepele. Bagaimana mau mengalahkan Zionis kalau umat Muslim tidak bersatu?

Kita juga harus bergabung dengan kelompok yang suka berbuat kebajikan dan peduli terhadap permasalahan Palestina. Peran kelompok ini adalah mengumpulkan dana, mendiskusikan mengenai sejarah dan konspirasi yang menimpa Palestina, dan menempa ruhiyah, fikriyah dan jasadiyah anggotanya agar siap bekerja dan berdakwah bahkan terjun langsung membebaskan Palestina.

Dan semua proyek dan aksi yang kita lakukan untuk membebaskan Palestina tak akan mungkin bisa berdampak besar dan massif jika kita tidak melibatkan Allah SWT. Kita lakukan ini dengan niat tulus dan ikhlas karena Allah SWT. Kita juga bersama-bersama berupaya meningkatkan amal ibadah kita kepada Allah, bertaubat dari semua dosa, dan memimpikan surga dalam pikiran dan benak kita. Mustahil kita yang hina dan lemah ini bisa mengalahkan Zionis tanpa bantuan Allah yang Maha Gagah dan Perkasa. Abdullah bin Rawwahah RA, ketika membakar semangat kaum Muslimin untuk berjihad dalam Perang Mu’tah melawan Romawi dengan perkataan, “Hai saudara-saudara, kalian tidak menyukai mati syahid padahal itu adalah tujuan kita berangkat ke medan perang ini! Kita berperang tidak mengandalkan jumlah pasukan atau besarnya kekuatan, tetapi semata-mata tersebabkan karunia dari Allah berupa agama yang menjadikan kita mulia.

Pembebasan negeri Palestina bukanlah kewajiban bangsa Palestina dan bangsa Arab saja. Pembebasannya adalah tanggung jawab kita semua. Dulu ketika Al-Quds dijajah oleh pasukan Salib, muslim non-Arab-lah yang membebaskannya, mereka adalah Nuruddin Zanki yang berasal dari Turki dan Shalahuddin al-Ayyubi asli suku Kurdi. Dan bukan tidak mungkin kita sebagai Bangsa Indonesia dengan jumayang akan membebaskannya di masa mendatang.

Saat panggilan untuk membebaskan Palestina terus menggema apakah kita akan menjawabnya dengan jawaban pesimis dan pengecut seperti yang pernah dilontarkan oleh Bani Israil ketika diajak oleh Nabi Musa as untuk menduduki Palestina, “Pergilah engkau sendiri bersama Rabbmu lalu berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami ingin duduk menanti di sini saja.

Atau kita menjawab seruan panggilan itu, dengan jawaban optimis dan berapi-api seperti yang pernah diucapkan oleh sahabat al-Miqdad bin Amr ra ketika Muhajirin dan Anshar diajak untuk berperang oleh Nabi Muhammad SAW, “Pergilah engkau bersama Rabbmu lalu berperanglah kalian berdua, dan sesungguhnya kami akan berperang bersama kalian berdua. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andaikata Anda pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap maka kami pun siap bertempur bersama Anda hingga Anda mencapat tempat itu.

Atau kita menjawab dengan statement yang pernah diucapkan oleh pejuang Afrika Selatan yang berhasil membebaskan negerinya dari paham apartheid yang rasis, “now I announce that I retire from retirement..” Beliau yang mendukung Palestina ini mengumumkan bahwasanya beliau pensiun dari kepensiunan dalam melawan kezaliman. Jadi apa jawaban kita? Cukup jawab dalam hati saja.

Hasbunallaahu wa ni’ma al-wakil

Referensi:

  • DR. Raghib As-Sirjani. 2010. Palestina, Kewajiban yang Terlupakan. Bandung: Sygma Pustaka
  • DR. Saiful Bahri, M.A. 2013. The Forbidden Country, Negeri Terlarang bagi Para Pecundang. Jakarta: ASPAC for Palestine
  • DR. Yusuf al-Qaradhawi & Abu Ubaidah Hasan Salman. 2009. Pro & Kontra Jihad di Palestina. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar
  • Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri. 2012. Ar-Rahiq Al-Makhtum. Jakarta: Ummul Qura

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Fais al-Fatih
Sedang menuntut ilmu di Pascasarjana STEI Institut Teknologi Bandung, Jurusan Informatika Opsi Sistem Informasi. Juga seorang traineer di Lembaga Spirit Tarbiyah Center (STAR-C). Ikut serta dalam sebuah organisasi Kelompok Studi Palestina, berharap bisa terlibat dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina dari cengkraman Zionis, bermimpi untuk bisa melaksanakan ibadah shalat di Masjidil Aqsha.

Lihat Juga

Sebelum Lengser, Obama Diminta Mantan Presiden AS Ini Akui Negara Palestina