Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Kita Memutuskan untuk Berhenti

Ketika Kita Memutuskan untuk Berhenti

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: footage.shutterstock.com)
Ilustrasi. (Foto: footage.shutterstock.com)

dakwatuna.com Banyak hal dalam hidup ini yang dapat kita jadikan alasan untuk terus bergerak. Entah itu karena mimpi yang belum terwujud atau karena lingkungan yang mengharuskannya. Bergerak juga menyimpan berbagai kebaikan yang tentunya sangat bermanfaat bagi kita dan juga orang lain. Bergerak juga selalu diidentikkan untuk terus maju ke depan. Air yang mengalir sering kali menjadi simbol ungkapan untuk menggambarkan betapa pentingnya untuk terus bergerak. Bergerak juga sering dikaitkan dengan sebuah keoptimisan dalam hidup.

Kita tidak mungkin untuk terus berada dalam sebuah keadaan yang sama dalam waktu yang lama. Kita juga tidak mungkin selamanya menikmati saat-saat yang sama untuk selamanya. Ada kesenangan. Ada juga kesedihan. Ada pagi. Juga ada malam. Kehidupan juga terus meneriakkan keharusan kita untuk tetap bergerak. Agaknya hanya pada putaran waktulah yang pantas kita ambil sebagai sebuah contoh dari pergerakan sejati. Terus berputar. Tidak mungkin untuk kembali.

Lalu bagaimana ketika kita memutuskan untuk berhenti? Apa yang terjadi saat kita memutuskan untuk tidak bergerak? Apakah di saat kita berhenti untuk bergerak maka kehidupan ini juga ikut berhenti? Ataukah hidup ini justru makin bermakna ketika memutuskan untuk berhenti?

Terkadang keputusan kita untuk berhenti tidaklah selalu salah. Ya. Kita bisa saja berhenti untuk suatu hal dan terus bergerak untuk hal yang lain. Kita bisa saja berhenti untuk menyalahkan diri sendiri karena sebuah keputusan yang tidak baik. Ya. Kita bisa saja berhenti untuk terus berada dalam pikiran yang pesimis. Banyak hal yang menjadi alasan tepat bagi kita untuk berhenti.

Banyak orang yang terus bergerak mengejar cita-citanya. Tidak sedikit juga di antara kita yang tetap dalam keadaan dinamis dikarenakan tuntutan keadaan. Namun sangat sedikit sekali kita menyadari betapa pentingnya untuk berhenti. Kita jarang sekali untuk sejenak berhenti dan memperhatikan sekeliling kita. Tidak banyak di antara kita yang berhenti untuk terus berbuat bagi dirinya sendiri.

Saya, anda dan kita semua. Mungkin terlalu sibuk untuk terus bergerak sehingga lupa di samping kita banyak orang yang kehilangan kesempatan karena himpitan kehidupan. Kita juga hampir-hampir tidak punya waktu untuk berbuat bagi orang lain. Seakan-akan kita hanya mengejar keinginan sendiri. Tanpa peduli tangan-tangan yang membutuhkan bantuan untuk terus berusaha menggapai mimpinya.

Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk kita berhenti. Dan mulai untuk membangun hidup ini bersama. Mungkin ini justru waktu yang ideal bagi kita untuk berhenti. Dan bersegera membantu saudara kita yang kesulitan. Ketika kita memutuskan untuk berhenti, sesungguhnya kita membantu lebih banyak lagi orang untuk terus bergerak. Bergerak dalam satu rangkaian hidup yang harmoni.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 6,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.

Lihat Juga

(Foto) Gelar Gerakan Menutup Aurat, IMTEK FPTK UPI Bagikan Hijab ke Sivitas Akademika UPI