Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jangan Tinggalkan Catatan Tanpa Makna

Jangan Tinggalkan Catatan Tanpa Makna

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com“Mbak, saya bukan kader atau simpatisan PKS. Saya juga bukan kader dan simpatisan partai manapun. Saya tidak benci politik. Selama ini saya netral-netral saja terhadap semua partai. Kalau pemilu saya memang gak pernah ikutan, bukan apa-apa… karena saya malas saja datang ke TPS. Mungkin ini yang disebut golput ya, Mbak? Tapi sejak saya berteman sama Mbak di FB, terus suka baca-baca status maupun informasi apa saja tentang PKS yang Mbak sering kirimkan di FB, saya jadi tertarik dan sedikit-sedikit ngerti apa itu PKS. Ternyata PKS gak seburuk yang saya dengar selama ini. Terima kasih, Mbak… karena telah membuat saya melek politik. Insya Allah pemilu besok saya sudah mantap untuk memilih PKS…! Jujur ini keluar dari hati saya yang paling dalam…”

“Saya salut sama Mbak, yang begitu semangatnya membela dan mempromosikan PKS. Kalau saya belum bisa seperti itu…barakallah, Mbak…”

“Kalau semua kader partai seperti Mbak semua, maka “aman”lah partai-partai itu…tapi kayaknya cuma PKS yang punya kader militan seperti ini… hehehe…”

“Silakan kalian cari dan temukan di FB, siapa yang paling garang mengiklankan dan mengkampanyekan PKS di sana…saya cuma nemuin satu orang, yaitu Ibu…”

“Ria, gue memang gak kenal kader PKS lainnya. Gue cuma kenal sama lu doank, dan kita sudah berteman puluhan tahun. Gue tau siapa lu, sebagaimana lu juga tau siapa gue. Tapi biarpun kita sahabat akrab, lu gak pernah maksa gue untuk ngikutin lu. Dari dulu sebetulnya gue gak suka sama politik, gue gak mau mikirin politik…terlalu ribet, bikin gue pusing kepala. Tapi sejak gue liat bagaimana komitmen lu di PKS selama ini, akhirnya gue sadar apa yang harus gue lakukan di pemilu nanti…”

Pembaca yang budiman, itulah beberapa testimoni yang saya dapatkan dari teman-teman saya yang mereka sampaikan ke saya, baik secara langsung maupun tidak. Sungguh, ini bukan rekayasa atau mengada-ada. Mereka menyatakan itu dengan penuh ketulusan, yang membuat saya takjub sekaligus haru. Dan saya cuma bisa mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan apresiasi mereka terhadap segala apa yang sudah saya lakukan, demi Partai Kesayangan Saya (PKS).

Namun “sanjungan” itu tak boleh membuat besar kepala, apalagi bersombong diri. Karena itu memang tidak pantas saya lakukan. Karena yang layak sombong itu hanyalah Allah Robbul’alamin, Tuhan Pemilik seluruh alam. Saya hanya merasa bahwa apa yang sudah saya lakukan, yang kapasitasnya masih sangatlah kecil jika dibandingkan dengan pengorbanan dan perjuangan teman-teman PKS lainnya, ternyata mendapat “tempat” di hati orang lain. Yang  saya sendiri tak pernah mengharapkan balasan apa-apa dari semua itu, kecuali balasan dari Allah saja.

Sebagai kader PKS, saya cuma merasa terpanggil untuk berbuat. Sama halnya dengan teman-teman PKS yang lainnya. Kami cuma ingin berbuat, berbuat dan berbuat. Tak lebih dari itu. Kalaupun kemudian ada yang merasa tertarik, bersimpati dan selanjutnya bergabung bersama kami, sungguh itupun bukan karena kerja keras saya atau kader PKS lainnya. Semua itu semata-mata karena kebaikan dan pertolongan Allah SWT saja. Tak ada yang patut untuk kami banggakan, apalagi sombongkan. Terlalu naïf rasanya jika kami sampai mempunyai perasaan seperti itu, dan semoga Allah menjauhkan kami dari sifat yang demikian.

Catatan Itu Selalu Kubawa

Jika boleh jujur, saya bukanlah siapa-siapa di dalam partai (PKS) ini. Saya hanyalah salah satu titik dari sekian juta titik yang ada dalam jamaah ini. Tak berarti apa-apa memang, tanpa dukungan dan kerja sama dengan teman-teman lainnya. Ketika bergabung ke sini sekitar 21 tahun yang lalu, motivasi saya pun cuma satu, yaitu ingin menjadi lebih baik dan takut mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah. Paling tidak saya bisa memperbaiki kuantitas serta kualitas dari ibadah shalat saya yang sebelumnya memang masih amburadul.

Tak pernah sekalipun terlintas pikiran, bahwa jamaah yang saya masuki ini suatu saat nanti akan melebur menjadi salah satu partai politik (parpol) dan ikut “bertarung” bersama parpol lainnya dalam meraih kursi parlemen dan pemerintahan. Dan lebih tak terpikirkan lagi adalah, bahwa saya dan kader PKS lainnya akan terlibat langsung di dalamnya. Sungguh, semua itu sangat jauh dari angan-angan atau impian saya. Karena menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya, itulah yang saya kejar. Dan ketika itu saya dapatkan, maka saya harus mensyukurinya.

Keadaan ini terus berlangsung sekian lama. Dan saya pun semakin memantapkan hati untuk tetap berada di sini. Namun sekali lagi, selama dalam perjalanan ini tak banyak kontribusi yang saya berikan kepada jamaah ini. Saya cuma mengikuti saja segala “aturan dan pola” yang telah ditetapkan atau diintruksikan, yang saya yakini itu banyak manfaat dan nilai kebaikannya. Walaupun sekali-sekali saya juga melakukan protes (kritikan) kepada teman-teman, jika ada yang tidak berkenan di mata saya. Dan sesekali pula saya ikut membela jamaah (partai) ini, jika ada yang menjelek-jelekkan atau membully-nya. Namun selebihnya saya cenderung “he-eh” dengan selalu mengedepankan sikap sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami patuh).

Sampai akhirnya tibalah pada satu peristiwa menghebohkan yang menimpa partai dakwah ini. Yakni ketika ditangkapnya (mantan) Presiden PKS, Ustadz Luthfi Hasan Ishaaq oleh KPK dengan tuduhan korupsi kuota impor daging sapi, akhir Januari tahun lalu. Peristiwa yang tak pernah diduga oleh siapa pun ini kontan menimbulkan banyak reaksi dari berbagai pihak, dan sempat menjadi headline news di media massa serta trending topics di social media, sampai berminggu bahkan berbulan lamanya.

Hujatan, kecaman, kritikan pedas serta sumpah serapahpun berhamburan keluar menerpa partai yang kami cintai ini, tanpa kami mampu menghindarinya. Memerahkan telinga dan memanaskan darah kami. Meskipun masih ada yang mau membela, namun jumlahnya sangatlah kecil jika dibandingkan dengan yang mencaci dan membenci. Namun pada saat itu kami seakan tak kuasa untuk melawannya, walau juga tak sepenuhnya pasrah. Sekian banyak telunjuk dan tudingan miring mengarah kepada kami. Seolah-olah kami adalah partai terkorup dan terlaknat yang tak mungkin terampuni dosa-dosanya. Astaghfirullahal ‘adzim…

Dan yang tak bisa dielakkan adalah peristiwa “sapi” ini telah menyebabkan terjadinya keguncangan dan kekalutan di dalam (internal) partai. Banyak di antara kader yang mulai keder alias limbung, tak tahu harus berbuat apa. Tak sedikit pula yang mulai hilang rasa kepercayaan kepada para pemimpin (qiyadah) kami. Sungguh, peristiwa ini telah mampu membuat jutaan mata kader PKS  menangis. Antara sedih, kecewa, marah, malu serta bingung berbaur menjadi satu. Dunia ini serasa runtuh dan seakan kiamat sudah dekat sekali kepada kami. Masing-masing kami pun mencari pegangan diri. Dan di saat-saat seperti ini cuma Allah saja tempat kami bersandar dan berserah diri. Karena memang sudah tak ada lagi daya upaya kami selain mengharapkan perlindungan dan pertolongan dari Allah Yang Maha Kuasa.

Namun syukur Alhamdulillah kegalauan ini rupanya tak berlangsung lama. Perlahan tapi pasti kami mulai bangkit kembali untuk menatap masa depan, seraya menata hati dan memperbaiki diri. Seiring dengan itu pula pucuk kepempinan  kami pun berganti. Di tangan dingin seorang nakhoda baru bernama Anis Matta, perahu besar berbendera PKS inipun berlayar, terus melaju mengarungi samudera luas. Hantaman gelombang dan ombak ganas yang datang selanjutnya tak lagi mampu menggoyahkan perahu kami. Justru dengan adanya badai ini membuat kami menjadi semakin kokoh dan solid. Bahu-membahu kami saling menguatkan satu sama lain. Sungguh, badai memang pasti berlalu…!

Dan di antara sekian banyak kader PKS yang mencoba untuk bangkit kembali itulah, mungkin saya adalah salah satunya. Meski harus saya akui, bahwa peristiwa ini telah mampu menguras emosi dan air mata saya. Sehingga untuk bangkit kembali saya membutuhkan waktu dan energi baru lagi. Dan yang membuat saya agak “payah” adalah ketika saya harus berhadapan dengan para kerabat serta sahabat saya. Di mana mereka bertanya kepada saya apa yang sesungguhnya terjadi dengan partai saya. Dan saya harus mampu menjawabnya. Terlepas dari apakah mereka puas ataupun tidak dengan jawaban-jawaban yang saya berikan. Namun saya sudah bertekad, apapun yang terjadi saya akan tetap berada di sini. Bersama kader PKS lainnya yang juga pasti mengalami perasaan yang sama seperti saya saat itu.

Berbagai cara saya lakukan untuk mengembalikan nama baik partai yang saya cintai ini. Antara lain dengan melakukan diskusi secara langsung dengan keluarga, tetangga, ataupun sahabat. Juga melalui media social (BB, FB, Twitter). Puluhan bahkan ratusan postingan status, foto, video, link atau apa saja yang berhubungan dengan PKS saya kirimkan ke sana. Siang malam saya tak pernah lepas dari membaca dan melihat berita, baik melalui media online maupun televisi. Di samping juga terus berdoa mohon kekuatan dari Allah tentunya.

Dan yang paling membuat saya merasa haru adalah kembalinya dunia saya yang hilang, yaitu dunia jurnalistik (tulis-menulis) yang sekian lama tak pernah lagi saya sentuh. Dan peristiwa “sapi” ini telah memberikan keberkahan bagi saya. Peristiwa ini telah memacu adrenalin saya untuk menulis kembali, menuangkan berbagai ide dan buah pikiran saya yang seakan berloncatan keluar minta diapresiasi dalam bentuk tulisan.

Dan salah satu tulisan yang paling berkesan bagi saya adalah yang berjudul “Jika LHI Terbukti “Bersalah” Apakah Kami Harus Malu?”. Tulisan ini saya buat sebagai bentuk cinta dan takzim saya kepada Ustadz Luthfi yang sedang mendapatkan ujian kala itu dan sampai detik hari ini. Semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi beliau dengan kasih sayang-Nya.

Saya seakan menemukan tempat yang pas untuk mencurahkan segala isi hati saya, sekaligus juga saya ingin agar orang-orang yang membacanya jadi mengerti dan memahami PKS. Mengapa saya melakukan ini semua dan untuk apa? Jawabannya adalah pertama, karena saya sangat mencintai jamaah (partai) ini berikut semua yang ada di dalamnya. Yang kedua, karena saya memang mempunyai misi khusus. Yakni  saya ingin mengubah mindset orang tentang PKS. Membuat mereka yang tadinya tak kenal menjadi kenal, yang tadinya benci menjadi suka. Yang tadinya biasa-biasa saja menjadi cinta, dan yang tadinya sudah cinta menjadi semakin cinta. Sungguh, inilah cara saya untuk mensosialisasikan kebaikan-kebaikan yang ada di PKS kepada orang lain.

Meskipun saya tahu, tak sedikit orang yang sinis juga benci dengan sikap atau cara yang saya pakai ini. Akan tetapi saya tidak peduli. Itu adalah hak mereka untuk menilai saya. Sebagaimana saya juga punya hak untuk berbuat sesuai dengan hati nurani saya.  Prinsip saya adalah selama yang kita yakini itu benar serta tidak menyimpang dari norma agama, maka jangan pernah takut untuk menyerukannya kepada siapa pun. Yang penting caranya harus harus tetap ahsan (baik) dan bijak. Inilah yang saya pegang dan menjadi prinsip hidup saya. Prinsip yang akan selalu saya bawa ke manapun, termasuk juga prinsip saya dalam berpolitik. Dan ini merupakan “catatan” hidup saya yang tak ingin saya tinggalkan, tanpa memberi makna apa-apa…

Wallahu a’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 2,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ria Dahlia
Ibu rumah tangga dengan 5 orang anak.Terus berkarya, baik dalam diam maupun bergerak, tak ada kata berhenti sampai Allah yang menghentikannya, tetap tegar walau badai menghadang.

Lihat Juga

Sandiaga Uni - Mardani Ali Sera.  (PKSFoto/Julianto)

Mardani: Selain Anies, Ada Nama Lain yang Disiapkan

Organization