Home / Berita / Daerah / Paidi, Rumah Kayu dan Arti Sebuah Kesetiaan

Paidi, Rumah Kayu dan Arti Sebuah Kesetiaan

Pramono dan Paidi - tajuk.co
Pramono dan Paidi – tajuk.co

dakwatuna.com – Jepara. Paidi bukan siapa-siapa. Dia hanya buruh di sebuah toko bangunan di Jepara, Jawa Tengah.

Ia bersama istri dan dua anaknya tinggal menumpang di rumah tetangganya, karena rumahnya hancur tersapu angin puting beliung beberapa bulan lalu. Gajinya sebagai buruh kayu di toko bangunan itu tak cukup untuk mendirikan kembali rumah tinggalnya. Bisa untuk makan saja sudah untung.

Senin (24/3) lalu warga Desa Kerso, Kecamatan Kedung, Jepara ini mendapat cobaan lagi. Ia diberhentikan alias dipecat dari pekerjaannya.

Ia harus kehilangan mata pencariannya hanya  karena tidak mau memenuhi permintaan sang juragan untuk mengkampanyekan sebuah partai politik kepada penduduk desa. Paidi menolak karena ternyata ia sudah punya komitmen lain.

Aneh memang. Di zaman seperti ini masih ada orang yang memaksakan kehendak untuk memilih atau tidak memilih. Mirip zaman kolonial. Mirip juga zaman Orba.

Namun keteguhan Paidi yang tidak mempedulikan risiko yang diterimanya patut diacungi jempol. Sebetulnya dia bisa saja mendua. Berdiri di dua kaki untuk memperoleh keuntungan ekonomi.

Membantu juragannya sambil mengkampanyekan partai lain di mana ia berkomitmen. Sambil menyelam minum susu.

Tetapi itu tidak dilakukannya. Ia memilih setia mengkoordinatori Relawan 33 di Desa Kerso. Relawan 33 adalah tim pemenangan yang dibentuk Pramono, caleg DPRD I PKS Dapil Jawa Tengah 2 yang meliputi Demak, Kudus, dan Jepara.

Sebagai koordinator, Paidi terbilang tangguh. Ia sudah berhasil merekrut 1.470 orang untuk memilih PKS tanggal 9 April nanti. Bukan itu saja, menurut Pramono, Paidi juga berhasil memberikan nuansa putih di desanya.

Berkat kerja Paidi dan timnya, PKS jadi dikenal sampai ke pelosok Desa Kerso. Bendera bulan sabit kembar mengapit batang padi pun berkibar di banyak tempat di sana.

Kini meskipun tanpa rumah, tanpa pekerjaan tetap, Paidi tetap terus berjuang untuk memenangkan PKS.

Ketika ditanya bagaimana ke depan nanti? “Kulo dereng mikir Pak.., sing penting 9 April PKS menang riyen!”

Terjemahannya: “Saya belum mikir Pak…, yang penting 9 April PKS menang dulu!”

Rupanya Paidi sudah ketularan penyakit militan kader-kader PKS. Bahkan boleh jadi lebih militan. Tanpa rumah, tanpa pekerjaan, tetap bekerja untuk PKS.

Pramono sendiri tak tinggal diam melihat keadaan ini. Ia bersama sejumlah kader PKS di sana tengah mencari uang Rp 8 juta untuk biaya membangun kembali rumah Paidi yang hancur karena puting beliung.

Uang Rp 8 juta itu hanya untuk membangun rumah kayu. Agar Paidi tidak menumpang lagi di rumah tetangganya.

Namun memang tak mudah mengumpulkan uang sejumlah itu. “Saat ini baru terkumpul Rp 2,5 juta,” kata Pramono.

Kontan saja kisah heroik Paidi ini langsung mendapat respon dari kader-kader PKS, tanpa ragu-ragu mereka bergerak untuk mengumpulkan dana terbaik bagi pembangunan rumah kayu Paidi. (HAS/tajuk/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 1,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Kisah Empat Petualang Swedia dan Anjing Liar yang Setia