Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Dosaku, Telah Abaikanmu Ibu…

Dosaku, Telah Abaikanmu Ibu…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: Afifah Nusaibah)
Ilustrasi. (Foto: Afifah Nusaibah)

dakwatuna.comSeketika itu juga aku menangis. Rasanya ingin sekali aku mengejarnya dan memeluk erat dirinya. Sudah sekian bulan aku tak menatap wajah teduhnya. Tapi, kenapa di balik kerinduanku yang mendalam masih saja aku sering mengabaikannya?

Ummi, bukanlah seorang ibu rumah tangga yang gaul dan uptodate. Ummi hanya seorang guru di sebuah desa, hanya seorang caleg dari pesisir kota, bukan siapa-siapa di mata dunia, tapi ummi adalah ibu yang paling besar jasanya dan paling aku cinta di dunia.

Rasa berdosa kian menggelayuti hati ini. Entah mengapa bisa aku abaikan sms darinya. Ah ummi, pukullah anakmu yang tak tahu diri ini.

Sudah kubilang, ibuku bukan seperti ibu-ibu lain yang aktif di dunia maya. Ibuku, bahkan HP-nya masih buatan Tiongkok. Ibuku kerap kali bertanya, bagaimana menggunakan Facebook? Nak, bisa tidak kamu cari pengguna Facebook dengan nama ini? Nak, bagaimana cara buka Facebook melalui seluler? Nak, ummi pengen ganti foto Facebook, caranya gimana? Nak, carikan pertemanan sama orang-orang desa ya? Biar ummi bisa posting tentang PKS dan sosialisasi juga lewat Facebook. Naak…??

Dan berbagai pertanyaan lainnya.

Ah ummi, 2 hari lalu engkau menghadiri Kampanye akbar PKS di kota kita. Aku yang jauh di ibukota hanya dapat mendengar cerita lewat media. Dan hari itu akupun disibukkan dengan beberapa agenda. Pasca kampanye, sempat aku mendapat sms darimu ummi, “Nak, ummi mau masukin foto kampanye ke Facebook, tapi kok nggak bisa ya? Caranya gimana?” dan aku, yang sedang disibukkan dengan agenda organisasi kampusku saat itu hanya membalas singkat “Maaf ummi, aku lagi ada agenda.” Astaghfirullah, mengingat ini rasanya hatiku terpukul! Kelu! Betapa aku meremehkan seorang yang telah mencurahkan segenap cintanya padaku sekian lama. Padahal, ummiku sangat ingin memamerkan kemewahan kampanye yang ia hadiri hari itu. Padahal ummi hanya ingin berbagi ekspresi bahagia lewat akun Facebooknya. Padahal, ummi ingin akrab dengan Facebook hanya karena alasan ingin turut serta meramaikan nama partai dakwah ini di sosial media. Bukan sekedar berstatus ria.

Ummi tak pandai bermain Twitter, hanya Facebook yang ia punya. Dan aku? Aku telah mengabaikannya. Sampai pagi ini air mata berderai menyusuri pipi ini, membaca sebuah postingan di Facebook, ya! Itulah akun ummiku, yang sudah berhasil memamerkan pesona kampanye akbar PKS di hari lalu. Sepele memang, hal ini sepele bagi kita yang sudah ahli berfacebook ria dan bertwitter ria. Tapi bagi ummi, ini adalah hal asing yang harus ia pelajari secara perlahan. Ah ummi, betapa aku bersalah telah abaikan tanya mu. Maafkanlah aku ummi. Maafkan aku…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi LIPIA Jakarta | Garuda Keadilan | Gkreatip | KAMMI

Lihat Juga

Mudik dan Lezatnya Masakan Ibu