Home / Berita / Internasional / Amerika / Masjid Al-Rasyid, Pemersatu Muslim Kanada

Masjid Al-Rasyid, Pemersatu Muslim Kanada

Masjid Al-Rasyid dahulunya merupakan sebuah Gereja - Foto: merdeka.com
Masjid Al-Rasyid dahulunya merupakan sebuah Gereja – Foto: merdeka.com

dakwatuna.com – Edmonton.  Perkembangan Islam di Amerika Utara begitu pesat. Ini juga dialami Kanada.

Survei yang dilakukan Badan Statistik Kanada pada 2013 mencatat populasi Muslim tumbuh melebihi agama lain. Bahkan, menurut Survei Rumah Tangga Nasional, Islam tumbuh melebihi jumlah warga Kanada yang ateis.

Survei menunjukkan populasi Muslim berjumlah lebih dari satu juta dari total 33 juta populasi. Angka tersebut meningkat hampir dua kali lipat selama tiga dekade berturut-turut.

Badan Statistik Kanada memprediksi pada 2017 populasi Muslim akan meningkat 160 persen. Mayoritas Muslim Kanada bekerja di bidang perdagangan dan jasa. Bidang pekerjaan lain yang biasa dilakukan Muslim adalah bisnis, keuangan, administrasi, dan manajemen.

Besarnya populasi Muslim tentu berdampak pada meningkatnya kebutuhan akan tempat ibadah. Serupa dengan saudaranya di Amerika, Muslim Kanada banyak mendirikan masjid atau mushalla di tempat atau bangunan yang sudah tidak terpakai. Ini termasuk gereja.

Di Edmonton, kehadiran Masjid Al-Rasyid menandakan perkembangan pesat dakwah Islam di negeri kaya hasil alam ini. Bangunannya memang tidak menyerupai masjid pada umumnya. Ini karena Masjid Al-Rasyid dahulunya merupakan gereja.

Umat Islam di sana membeli gereja tersebut lantaran terdesak kebutuhan akan tempat ibadah yang representatif. Yang menggembirakan, pengambilalihan gereja itu berlangsung damai. Memang, sempat terjadi kontroversi soal itu.

Masalahnya justru bukan bangunan itu bekas gereja. Melainkan status bangunan itu yang terhitung bersejarah. Namun, komunitas Muslim berkomitmen untuk menjaga kelestarian bangunan itu sehingga tidak ada perubahan bentuk. Pembedanya hanyalah sajadah dan lambang bulan dan bintang.

Bagi yang pertama kali ke Edmonton, mungkin akan terkecoh. Mereka mengira bangunan itu adalah gereja. Tapi itu jadi keuntungan bagi komunitas Muslim. Para pengunjung pada akhirnya tertarik untuk mencari tahu informasi tentang Islam dan Muslim.

Bentuk bangunannya persegi panjang, dengan dua menara berkubah di bagian depan. Bahan utama bangunan berupa bata berwarna coklat. Masuk ke dalam, tidak ada lagi bangku melainkan karpet khas Timur Tengah berusia tua.  Ini yang menjadi keistimewaan Masjid Al-Rasyid.

Masjid ini seolah menunjukkan ekspresi pembauran identitas, penyatuan landscape lokal dengan budaya Islam yang kental. Maklum saja, para pemukim Muslim pertama Kanada umumnya berasal dari Suriah dan Lebanon.

“Mereka memulai awal yang baru namun tidak mengesampingkan budaya lokal. Unsur budaya itu tetap dipertahankan,” ungkap Daood Hamdanio, penulis buku Al Rasyid, seperti dilansir onislam.net, Rabu (26/3). Sebagai contoh saja, kata dia, jamaah laki-laki dan perempuan tidak dipisah. Namun, tetap urutan shaf tidak berubah. Jamaah perempuan tetap di belakang laki-laki.

Daood mengungkap denyut dakwah semakin hidup dengan kepemimpinan dua imam. Imam Nejib Ailley merupakan generasi kedua Muslim Kanada. Ia didampingi Imam Abd Al-Ati yang merupakan asal Mesir. Sinergi keduanya menjadikan dakwah Islam di Masjid Al-Rasyid kian harmoni dan paham perkembangan komunitas Muslim di Barat. (ROL/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Hewan Qurban dari Ahok Ditolak Pengurus Masjid, Ini Kata MUI