Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Untukmu Mujahid dan Mujahidah di Jalan Dakwah

Untukmu Mujahid dan Mujahidah di Jalan Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: konihospitality.com)
Ilustrasi. (Foto: konihospitality.com)

dakwatuna.comMujahid dan mujahidah yang ana cintai karena Allah

Dakwah ini adalah jalan yang sangat panjang, kita tidak tahu di mana letak ujung dari jalan ini. Satu persatu dari kita mulai menapaki jalan ini. Ada yang berlari, berjalan, ada pula yang merangkak. Dan tidak jarang pula ada yang berhenti dan memutuskan untuk meninggalkan jalan ini. Ya, jalan ini kita ketahui sebagai jalan yang tidak banyak kemudahan, tidak banyak kesenangan tidak pula banyak pujian. Jalan ini adalah jalan untuk menguji keimanan, keikhlasan dan keistiqamahan kita. tidak sedikit yang datang untuk bergabung bersama jalan ini, tidak juga sedikit yang meninggalkan dan berbalik memusuhi jalan ini. Entah kecewa atau apalah.

Mujahid dan mujahidah yang ana cintai karena Allah

Ana menulis kalimat demi kalimat di sini bukanlah sebagai orang yang ‘kuat’ dijalan ini. Dan bukan juga orang yang merasa ‘lemah’ hingga mengambil keputusan meninggalkan jalan ini bahkan memusuhi jalan ini. Ana hanya manusia biasa yang juga punya dua kesempatan yang sama seperti Antum sekalian. Dua kesempatan ini adalah duduk bersama dijalan ini hingga ruh berpisah dari jasad, atau pergi meninggalkan jalan ini karena seribu satu alasan.

Mujahid dan mujahidah yang ana cinta karena Allah

Jamaah ini bukanlah jamaah malaikat, yang tidak pernah melakukan kesalahan. Jamaah ini hanyalah jamaah manusia yang berusaha untuk memperbaiki sedikit demi sedikit wajah manusia. Untuk kembali bersama menuju jalan yang di ridhai Allah. Jika kita mengibaratkan suatu jamaah, ke dalam shalat. Maka kita memiliki imam yang harus kita taati. Ulil amri yang menjadi nahkoda dalam jamaah ini. Sebagai imam, bukan berarti ia senantiasa benar. Adakalanya ia lupa, khilaf. Salah melakukan gerakan, salah dalam mengucapkan ayat-ayat suci Al-Quran. Nah di sinilah fungsi kita sebagai makmum. Untuk mengingatkan apa yang perlu kita ingatkan. Bukan dengan mencaci, menyalahkan atau meninggalkan shalat ini. Ada aturan-aturan yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya agar ia berjalan kembali dengan baik hingga selesai mengucapkan salam. Jika ada yang keberatan dengan perumpamaan shalat dalam jamaah ini. Maka silakan mengumpamakannya dengan yang lain.

Mujahid dan mujahidah yang ana cintai karena Allah

Karena jamaah ini bukan jamaah malaikat. Ana yakin pasti setiap dari kita memiliki keyakinan, keraguan atau kekecewaan yang terkadang tidak kita ungkapkan lewat lisan. Tapi bukan berarti semua itu membuat kita lupa atau pura-pura lupa. Bahwa jamaah inilah yang telah membesarkan kita. jamaah ini pernah mengajarkan kita shalat dengan baik. Jamaah ini pernah mengajarkan kita melafalkan ayat demi ayat hingga kita bisa melafalkan ayat suci Al – Quran dengan benar. Jamaah ini pernah menjadi motivasi kita untuk memperbaiki diri. Ya, jamaah ini pernah berkontribusi pada diri kita untuk memperbaiki diri. Sadar atau tidak sadar, ada sebagian besar atau sebagian kecil kontribusi yang diberikan jamaah ini untuk diri kita belajar memperbaiki diri menuju jannah-Nya. Apakah kontribusi yang telah diberikan itu kita lupakan? Sehingga ketika kita merasa kecewa atas apa yang terjadi di dalam jamaah ini membuat kita berbalik ke belakang. Bukan berusaha untuk memperbaiki menjadi jamaah yang Allah ridhai.

Mujahid dan mujahidah yang ana cintai karena Allah

Coba buka sedikit mata dan hati kita. tinggalkan sedikit ego yang ada pada diri kita. Betapa banyak usaha yang telah dilakukan oleh jamaah ini untuk memperbaiki wajah negeri ini. Jika Antum merasa ada yang salah, coba bicarakan dan sampaikan dengan baik dan benar. Bukankah islam mengajarkan kita untuk tabayyun, mengklarifikasi jika ada berita yang datang kepada kita. bukan langsung menyalahkan atas apa yang terjadi. Bisa jadi, apa yang kita dengar, bukanlah hal yang sebenarnya terjadi. Bisa jadi, itu hanya fitnah belaka agar kita saling mencurigai. Saling tidak percaya lagi, saling berpecah belah. Ingatlah wahai mujahid dan mujahidah yang ana cintai karena Allah. Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang atas kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang sampai kita menyerah dan bergabung bersama-sama dengan mereka. Cobalah sedikit membuang ego yang ada pada diri kita untuk melihat persamaan pada tujuan dari hidup kita yaitu mencari ridha Allah dan menegakkan Islam di muka bumi. Bukan mencari-cari kesalahan dan perbedaan. Karena jika kita melihat dari sisi perbedaan, maka kita tidak akan menemukan di mana letak ujungnya. Tapi jika kita melihat persamaan, maka kita akan menjadikan perbedaan itu menjadi sebuah keindahan. Bukankah pelangi itu diciptakan dari berbagai warna. Tidak satu warna saja, hingga ia terlihat indah dengan ragam warnanya. Begitu juga kita, ada banyak ragam yang Allah ciptakan untuk manusia. Mari kita susun keragaman itu  menjadi warna yang indah. Namun jika berita yang kita dengar itu benar adanya, cobalah untuk berlapang dada. Bukankah kita hanya manusia biasa, yang punya kesempatan untuk melakukan kesalahan. Berusahalah untuk menasihati bukan mencaci. Berusahalah untuk memperbaiki bukan pergi bahkan memusuhi. Selagi jamaah ini masih berpegang pada syariat, apa  salahnya jika kita memperbaiki.

Mujahid dan mujahidah yang ana cintai karena Allah

Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa memperbaharui niat kita, semoga Allah mengistiqamahkan kita di dalam jamaah yang memegang syariat islam sebagai pedoman. Karena dengan berjamaahlah kita lebih mudah, lebih ringan kerjanya, lebih cepat geraknya. Sejak kecil kita tahu bagaimana filosofi lidi. Ia akan membersihkan kotoran atau sampah dengan cepat jika ia menjadi sebuah sapu. Begitu juga berjamaah, akan lebih memudahkan kita untuk menyebarkan Islam dengan cepat karena memiliki visi dan misi yang sama. Hingga kita bisa serentak dalam bergerak. Semoga Allah tetap menjaga ukhuwah kita hingga jannah-Nya. Aamiin Allahumma Aamiin.

Wallahualam, semoga bermanfaat.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Zahratul Afifa
Lahir di Bengkalis Provinsi Riau pada bulan Desember 1990. Mahasiswi semester 1 pada sekolah Pasca sarjana program studi pendidikan dasar di UPI. Memulai belajar menulis, dan menjadi anggota FLP kota Pekanbaru angkatan VIII pada awal tahun 2013.

Lihat Juga

Memperluas Jaringan Lembaga Dakwah