Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Zuhud: Gaya Hidup Keluarga Islami

Zuhud: Gaya Hidup Keluarga Islami

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: pickywallpapers.com)
Ilustrasi. (Foto: pickywallpapers.com)

dakwatuna.com Kemajuan teknologi yang diiringi kemajuan ekonomi kapitalis telah mendorong orang-orang untuk mengeluarkan harta mereka di luar batas kemampuan mereka. Boros dan bermegah-megahan telah menjadi hal biasa. Sesungguhnya sifat tersebut sama sekali tidak menunjukkan sifat kepedulian terhadap sesama, tetapi lebih kepada sifat kesombongan. Allah berfirman:

Dan, berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar pada Tuhannya.” (Al-Israa’: 26-27)

Keluarga islami tentu harus memiliki gaya hidup yang Islami. Islam mensyariatkan umatnya untuk zuhud. Zuhud dalam artian meninggalkan keinginan terhadap sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat, yaitu berlebih-lebihan dalam hal-hal mubah. Jika seseorang menyibukkan diri dengan hal-hal yang mubah, berarti ia telah  bermaksiat kepada Allah. Di sinilah tanggung jawab orang tua terhadap penanaman nilai-nilai zuhud dan kesederhanaan dalam diri anak-anak mereka. Nilai-nilai yang diajarkan dan dicontohkan oleh orang tua akan melekat di diri anak-anak mereka.

Banyak orang tua yang sibuk dengan tipu daya dunia. Mereka berlomba-lomba mengumpulkan harta, menyembah dunia, memenuhi segala keinginan duniawi istri dan anaknya dengan pakaian mahal nan indah, menghambur-hamburkan uang hanya untuk mengikuti gaya hidup orang lain supaya terlihat kaya dan tidak ketinggalan jaman. Allah tidak lagi dijadikan alasan utama untuk mencari nafkah. Mereka telah menjadi hamba dunia dengan alih-alih memberikan yang terbaik untuk keluarga besar, anak-anak dan pasangan mereka. Memang benar ungkapan yang mengatakan bahwa “Seseorang akan merasa merdeka selagi ia qanaah dan orang merdeka akan menjadi budak selagi ia tamak.”

Orang tua hendaklah menanamkan nilai-nilai yang bermanfaat untuk kehidupan akhirat anaknya. Zuhud yang baik adalah beribadah kepada Allah dan menaati Rasul-Nya, menjadikan setiap amalan yang dilakukan sebagai ibadah yang dilakukan karena Allah. Insya Allah, ketika setiap keluarga muslim menanamkan sifat zuhud dalam keluarganya, akan membawa kebaikan yang luar biasa, baik untuk dunia maupun akhirat keluarga tersebut.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,91 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ibu rumah tangga, pemerhati media digital, pendidikan anak dan keluarga.

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini