Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Umat Islam, Kalian Bagaikan Bus

Umat Islam, Kalian Bagaikan Bus

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: archive.4plebs.org)
Ilustrasi. (Foto: archive.4plebs.org)

dakwatuna.com“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah, bahwa umat islam itu satu tubuh. perbedaan medang juang, mazhab , dll tidak membuatnya menjadi tubuh yang berbeda.

Begitu juga musuh-musuh Islam. mereka tetap menganggap kita adalah satu. walaupun musuh-musuh Islam kerap menggolongkan umat islam menjadi golongan tradisional dan fundamental. tetap saja mereka mencurigai kesemuanya. karena selama ia menyuarakan Islam baik melalui dakwah, politik ataupun jihad musuh-musuh islam akan terus mencurigai dan mendiskriminasi perjuangannya. berpihak pada golongan tradisionalis, kemudian mengadu domba mereka dengan fundamentalis hanyalah pilihan. namun sejatinya kedua belah pihak tetap diwaspadai dan dicurigai.

Seperti yang diceritakan oleh Abu Musha’ab As-suri dalam bukunya Perjalanan gerakan Jihad (1930-2002):

Di Amman, Ibukota Yordania, salah satu pemimpin jamaah tabligh dan dakwah berteriak kepada seorang penyidik dan berkata, “Kami tidak aktif dalam jihad, politik ataupun melawan kalian. Kami hanya berdakwah di masjid-masjid kami, memperbaiki masyarakat, dan menyelamatkan mereka dari kerusakan, mabuk-mabukan, dan tindak kriminal…”

Penyidik pun menjawab, “itu masalahnya. Kalian bagaikan bus. Kalian mengangkut orang-orang dari jalan ke masjid, lalu Ikhwanul Muslimun datang dan membawa mereka dari masjid ke dunia politik. Setelah itu, ekstrimis-ekstrimis Islam datang dan mengambil kaum muda mereka untuk berjihad dan berbuat radikal. Kami ingin memupus setiap jalan tersebut dari akar-akarnya. Kami ingin menghentikan laju bus kalian!” [1]

Ya musuh-musuh Islam tidak pernah melihat kita sebagai tubuh yang berbeda. Kita bagaikan bus yang saling menyambungkan perjalanan seorang muslim. Berkhianat terhadap sesama muslim untuk mendapatkan keamanan dari musuh-musuh islam adalah tindakan bodoh. Sejarah membuktikan kisah para pengkhianat yang pada akhirnya tetap binasa bersama rasa aman yang fana.

Catatan Kaki:

[1] Abu Musha’ab As-suri, Perjalanan gerakan Jihad (1930-2002)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Founder & CEO Penaaksi[dot]com

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini

Organization