Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Khowathir Qur’aniyah, Nazharat fi Ahdafi Suwaril Qur’an (Khowathir Qur’aniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-Surat Al-Qur’an)

Khowathir Qur’aniyah, Nazharat fi Ahdafi Suwaril Qur’an (Khowathir Qur’aniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-Surat Al-Qur’an)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul Asli: Khowathir Qur’aniyah, Nazharat fi Ahdafi Suwaril Qur’an
Terjemahan: Khowathir Qur’aniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Qur’an
Penulis: Amru Khalid
Penerjemah: Khozin Abu Faqih, Lc. dkk
Penerbit: Al-I’tishom – Jakarta
Cetakan: II; Desember 2011
Tebal: 748 Halaman; 24 cm

Cover buku "Khowatir Qur’aniyah, Nazharat fi Ahdafi Suwaril Qur’an  (Khowatir Qur’aniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat al-Qur’an)".
Cover buku “Khowatir Qur’aniyah, Nazharat fi Ahdafi Suwaril Qur’an (Khowatir Qur’aniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat al-Qur’an)”.

dakwatuna.com Al-Quran adalah sumber cahaya kehidupan yang tak akan pernah padam hingga akhir zaman. Karena kesucian dan keasliannya, akan terus dijaga oleh Allah yang telah mewahyukan al-Qur’an kepada Rasulullah melalui malaikat Jibril. Keaslian ini pula yang menjadi salah satu mukjizat dari sekian banyaknya mukjizat Kalamullah ini.

Sehingga, bagi kaum muslimin, kewajiban tidak berhenti hanya pada membacanya. Melainkan terus membaca, menghafal, memahami dan muaranya pada mengejewantahkan apa yang terdapat dalam al-Qur’an pada kehidupan sehari-hari.

Guna memahami makna dari wahyu Allah ini, keberadaan kitab tafsir yang ma’tsur, sangatlah dibutuhkan. Karena, maraknya mal praktek ibadah dengan dalih al-Qur’an, mempunyai dampak yang sangat berbahaya dalam kehidupan kita. Sayangnya, mal praktek ini bukan dilakukan oleh mereka yang buta huruf, tetapi dilakukan oleh mereka yang memang melek informasi dan mempunyai agenda buruk untuk menghancurkan Islam dari dalam.

Beruntungnya, kaum muslimin memiliki stok ulama’ yang mumpuni dalam menjelaskan apa yang terkandung dalam al-Qur’an. Dimulai dari generasi sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, hingga ulama’ sepeninggal mereka. Dalam khazanah kedalaman ilmu tafsir itu, kita mengenal adanya Imam ath-Thabari sang pakar tafsir. Selain beliau, ada juga Imam al-Qurthubi, Imam Ibnu Katsir, dan sebagainya. Seiring berjalannya waktu, kita juga memiliki cendekiawan muslim yang menulis tafsir dengan sangat baik, yakni Sayyid Quthb dengan Fi Dzilalil Qur’an yang fenomenal itu.

Dengan semangat yang sama sebagaimana generasi pendahulu umat ini, Amru Khalid, seorang cendekiawan asal negeri Kinanah yang juga banyak menulis buku, menyuguhkan kepada kita kitab berjudul Khowatir Qur’aniyah ini. Secara ringkas, dalam kitab ini dibahas tentang 114 surat dalam al-Qur’an, agar kaum muslimin memahami maksudnya melalui uraian yang ringkas ini; tidak panjang lebar sebagaimana kitab tafsir pada umumnya.

Al-Quran dimulai dari surah al-Fatihah yang disebut sebagai ummul kitab. Karena al-Qur’an mempunyai 3 pokok bahasan yakni aqidah, ibadah dan manhaj hidup. Dan, ketiga hal itu, terangkum dengan sangat sempurna dalam 7 ayat surat al-Fatihah ini. Di mana ayat ke dua dan ke tiga menjelaskan tentang aqidah, ayat ke lima menjelaskan tentang ibadah dan ayat ke enam dan ke tujuh menjelaskan tentang manhaj hidup. (Hal 3)

Masih tentang surat ini, Khalifah kelima umat Islam, yakni Umar bin Abdul Aziz, memiliki kebiasaan terkait surat ini. Di mana dalam menghayatinya, beliau diam sejenak di sela-sela setiap ayat. Ketika ada yang bertanya mengapa beliau melakukan hal itu, Khalifah yang berhasil menyejahterakan kaum Muslimin hanya dalam 2,5 tahun pemerintahannya ini mengatakan, “Aku ingin menikmati jawaban Tuhanku.”

Setelah tujuh ayat singkat, terdapatlah surat terpanjang dengan 286 ayat. Surat ini memiliki beberapa keutamaan, sebagaimana surat lainnya, di antaranya; bersama surah Ali Imran, surat ini akan memberikan syafa’at kepada orang yang menghafal, mengamalkan dan membacanya  berulang-ulang. Keutamaan yang lain, bahwa rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah ini, tidak akan dimasuki oleh setan. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa setan tidak akan memasuki rumah tersebut dalam 3 hari.

Selanjutnya, masing-masing surat ini akan dijelaskan satu-persatu hingga surat as-Sajdah. Lantas, digabungkanlah 6 surat di juz 22 dan 23 ke dalam satu tema tentang berserah diri (istislam). Keenam surat itu adalah al-Ahzaab, Sabaa’, Fathir, Yasin, Ash-Shaaffaat dan Shad (Hal 524). Penggabungan keenam surat ini, didasarkan pada alasan, bahwa pada surat-surat sebelumnya, telah banyak disebutkan tentang syariat yang berbentuk perintah. Di mana kesemuanya bermaksud baik dan diciptakan oleh Allah Yang maha mengetahui. Sehingga, dalam 6 surat ini, titik tekannya ada pada kewajiban bagi kaum muslimin untuk berserah diri atas semua perintah Allah tersebut.

Banyak sekali hikmah yang didapat ketika diri menyibukkan diri dengan mengkaji al-Qur’an dengan maksud mengamalkannya. Di antaranya, kita bisa mengetahui sebab-sebab yang bisa mengantarkan kita pada penyimpangan sebagaimana dijelaskan dalam surat Qaf. Yakni 3 sebab penyimpangan yang meliputi bisikan jiwa, qarin (setan) dan kelalaian (Hal 629-630).

Dengan demikian, kajian-kajian tentang al-Qur’an ini sangat urgen untuk ditumbuhsuburkan dalam diri masing-masing kaum muslimin, keluarga maupun komunitas. Karena, kemajuan Islam dalam memimpin peradaban, hanya bisa digapai ketika al-Qur’an menjadi akhlak, ketika al-Qur’an dipraktekkan ajarannya. Bukan sekedar penghias bibir atau hanya didengarkan ketika ada yang menikah, menjelang shalat Jumat atau aktivitas-aktivitas ritual lainnya. Ya Allah, sayangilah kami dengan al-Qur’an.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Pasar Merespons Positif Aksi Damai Bela Al-Quran 4 November