Home / Berita / Silaturahim / Media dalam Huru-Hara Akhir Zaman

Media dalam Huru-Hara Akhir Zaman

Kajian keislaman SPP kerja sama SPP dan LDK UMJ (SPP)
Kajian keislaman SPP kerja sama SPP dan LDK UMJ (SSP)

dakwatuna.com SEBI Solidarity for Palestine (SSP) berkesempatan mengunjungi UMJ, Senin (25/03), dalam acara Kajian Huru Hara Akhir Zaman. Acara ini deselenggarakan oleh SSP bekerja sama dengan LDK Ulil Albab Universitas Muhamadiyah Jakarta (UMJ). Dalam program SSP road to campus kali ini pemateri adalah Muhammad Fadhilah Zein, seorang dosen di Universitas Ibnu Khaldun, dan mantan kru news production salah satu stasiun TV swasta.

Game seru mengawali kajian kali ini yang dipimpin oleh MC, dilanjutkan lantunan indah ayat Al-Qur’an Surat Al-Qiyamah oleh Saiful Anwar Al-Hafidz. Ketua LDK Ulil Albab, Ridho Riyanto, menyampaikan sambutan tentang kondisi  negara muslim Timur Tengah seperti Suriah yang sampai saat ini pasokan makanan masih terbatas. Sementara Ketua SSP, Abdul Ghani, dalam sambutannya menyampaikan bahwa di akhir zaman ini umat muslim hendaklah lebih dekat dengan Al-Qur’an. Allah telah menunjukkan misteri akhir zaman dalam beberapa surat dalam Al Quran seperti Al-Qiyamah, Al-Ghasyiyah,dan  Al-Qurays.

Materi yang diangkat oleh narasumber adalah perspektif akhir zaman dalam kaca mata media. Salah satu kutipan dalam buku Ust. Fadhilah disampaikan, “Kita hidup di era yg sangat rentan dengan huru hara, revolusi media tidak akan terjadi di media massa arus utama. Dia lahir di pinggir dan dilakukan oleh sekelompok orang yang dianggap tidak ada.” Revolusi huru hara media tidak akan terjadi di media masa yang dominan saat ini, namun dari media beberapa pihak marjinal yang menandingi dengan kebenaran.

Dimulai dengan revolusi industri di Inggris berubahlah pola hidup warga bumi. Manusia mulai mengenal mesin uap yang memudahkan aktifitas baik dalam hal transportasi maupun produksi. Mobilisasi manusia ke tempat-tempat yang jauh semakin mungkin. Hal ini pula yang mendorong para penjelajah untuk memperluas daerah kekuasaan dengan penjajahan, perang pun tak terelakkan.

Revolusi kedua adalah informasi, dengan platform internet semua hal dilakukan lewat internet. Pemuda Islam harus siap menghadapi zaman ini, harus mampu menguasai bidang ini. Perang-perang besar dimulai dengan perang gagasan. Beberapa kasus di media massa yang menuding beberapa kelompok muslim sebagai teroris adalah wujud antipati media terhadap Islam. Jika kasus ini dibiarkan akan muncul beberapa kelompok radikal baru.

Begitu telanjangnya kezaliman-kezaliman yang terjadi di dunia yang diusung oleh kelompok dominan. Era komunikasi saat ini memunculkan benih-benih kezaliman terhadap Islam. (SSP/rem/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Rio Erismen

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Rio Erismen
Alumnus Universitas Al-Azhar Cairo dan Institut Riset dan Studi Arab Cairo.

Lihat Juga

AIK FT UMJ Gelar Seminar “MUSIK”, Muslim Itu Keren