Home / Narasi Islam / Sosial / Aktualisasi Diri Menjadi Pribadi Anti Korupsi

Aktualisasi Diri Menjadi Pribadi Anti Korupsi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: dop2p.com)
Ilustrasi. (Foto: dop2p.com)

dakwatuna.comDi tengah marak dan semrawutnya negeri ini dengan berbagai kasus korupsi, menjadi cambuk hebat bagi siapa saja yang menghendaki hidup damai dan sejahtera di bawah naungan sistem pemerintahan yang bersih dari berbagai penyelewengan para penegak hukum dan aparat pemerintahan.

Indonesia, sebuah negara besar, sudah tidak asing lagi dengan belitan para koruptor perampas hak rakyat. Menjadi Negara yang sudah banyak dihuni oleh manusia yang tidak amanah dan bertanggung jawab. Status negeri muslim terbesar tidak menjadikan pelaku koruptor malu dan mawas diri. Mereka berkedok dibalik keislamannya demi harta dan kekuasaan yang semu.

Tentunya wajar bila banyak orang membenci dan memusuhi prilaku bejat ini. Kita boleh memberi label apapun bagi penjahat bangsa dan masyarakat yang sudah tidak peduli tujuan dia mewakili rakyat duduk di kursi kekuasaan.

Manusia adalah makhluk yang tidak akan pernah berpuas diri. Rasulullah shallallahu alaihi wasallama pun 14 abad silam telah mengingatkan akan hal ini. Satu gunung uhud emas yang dimiliki oleh seseorang, terasa kurang. ia akan menginginkan dua gunung emas, sudah memiliki dua gunung emas, masih akan berusaha mendapatkan tiga gunung emas dan begitu seterusnya.

Sifat ini tidak boleh kita tanamkan pada diri kita. Sebab rasa tidak cukup ini menjadi faktor terbesar seseorang melakukan tindak korupsi, di samping faktor kesempatan yang mungkin ia peroleh. Perlu ada kontrol diri untuk menghindarinya. Merasa kekurangan dan tidak mensyukuri karunia yang sudah diberi adalah suatu kesalahan yang menyebabkan seseorang kufur kepada nikmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Alangkah bijak bila kita menyikapinya dimulai dari diri sendiri. Kita jangan dulu memarah-marahi habis-habisan pelaku korupsi sementara perilaku kita sendiri masih tidak terlepas dari perilaku yang juga termasuk korupsi. Misalkan meminjam barang orang lain berupa sandal, kita berjanji akan mengembalikannya dua hari berikutnya namun karena ketidakamanahan diri terlalaikan menjadi empat hari. Nah bukankah tidak amanah ini juga merupakan sifat koruptor? Hanya saja dalam skala yang berbeda dan kecil.

Contoh lain yang masih selalu terjadi di negeri ini adalah kita tidak konsisten dengan waktu. Dalam hal apapun kemungkinan molornya waktu lebih besar daripada tepat waktunya. Karyawan datang telat ke kantor. Dosen telat masuk memberikan perkuliahan. Mahasiswa datang terlambat. Para pejabat yang dielu-elukan pada suatu pertemuan malah memberikan contoh buruk dengan membiarkan para hadirin menunggu lama. Seakan-akan dia bak raja yang apapun dilakukannya tidak bisa disalahkan oleh prajuritnya.

Hal-hal sepele seperti yang disebutkan di atas bisa memupuk prilaku korupsi. Pepatah yang sudah sangat tidak asing di telinga kita adalah “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”. Sekecil apapun kesalahan yang dilakukan bila terus menerus akan berdampak serius bagi perkembangan kepribadian seseorang.

Awalnya seseorang menggunakan hak orang lain dalam skala kecil, lama kelamaan lebih besar hingga akhirnya lepas kendali dan hak rakyat pun dikuras dan dimakan tanpa tanggung jawab.

Miris hati bila kita melihat pada banyaknya ketidakamanahan para pejabat di instansi-instansi perintahan. Semua itu terjadi ketika tidak ada kontrol terhadap mereka. Kita perlu belajar dari salah seorang khalifah besar Islam, Umar bin Khattab setelah di baiat menjadi khalifah, ia berpidato di hadapan kaum Mukminin: “kalau kalian melihat aku berada di jalan Allah dan Rasul-Nya, dukung aku. Apabila kalian dapati aku menyimpang dari jalan Allah dan Rasul-Nya, maka tegurlah aku”.

Dalam bahasa lain Umar ingin mengatakan, “Wahai kaum Mukminin, tolong kontrol aku, jangan kalian biarkan aku berjalan sendiri”. Bisa kita bayangkan sosok Umar bin Khattab, termasuk  di antara sepuluh sahabat yang dijamin Allah keimanannya, dijamin surga untuknya, masih meminta sahabat lain untuk mengontrol dirinya agar jangan sampai melenceng dari jalan Allah dan Rasulnya.

Muncul pertanyaan, apa saja yang bisa kita jadikan kontrol diri agar terhindar dari perbuatan korupsi dan penyelewengan? Setidak-tidaknya ada empat hal yang bisa kita optimalkan untuk membentengi diri dari perilaku kotor ini.

Pertama, Kontrol Internal. yakni kontrol dari dalam diri kita. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan kontrol internal ini, di antaranya meningkatkan (kualitas) ibadah, berzikir, berpuasa, dan sabar. Sebagaimana tips yang Allah berikan pada kita. Dalam surat Al-Baqarah ayat 153: “ Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. Ada pula yang mengartikan: mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.

Kontrol diri dari perilaku korupsi juga bisa kita lakukan dengan meningkatkan pemahaman tentang korupsi, risiko, dan bahaya-bahayanya. Baik bagi diri, keluarga, maupun orang lain. Kita bisa membuat pagar untuk diri kita sendiri dengan jalan yang mungkin bisa dilakukan, seperti memasang kata-kata anti korupsi di meja kerja kita, menempel stiker anti korupsi di kamar, atau memunculkannya di kata pembuka ponsel yang selalu kita bawa.

Usahakan selalu mempertahankan pandangan negatif kita terhadap korupsi. Tanamkan selalu pikiran bahwa korupsi itu sangat tercela dan harus dijauhi. Jangan sekali-kali membuat pembenaran terhadap perilaku korupsi.

Kedua, Kontrol Sosial. Yaitu kontrol yang muncul dari pergaulan dan hubungan kita dengan orang lain. Ciptakan kontrol sosial yang mampu membatasi kita untuk korupsi. Bila perlu di setiap kesempatan, bicarakan dengan orang lain betapa bejatnya korupsi itu. Tunjukkan pada semua orang bahwa kita benci dengan korupsi. Sehingga kita akan malu bila ternyata prinsip kita tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan.

Kita perlu keterbukaan terhadap orang lain. Ciptakan kondisi yang harmonis dengan siapa saja. Ketika kondisi kondusif, maka kontrol sosial bisa berjalan dengan baik. Untuk terbuka diperlukan jiwa besar, lapang dada dan ikhlas. Siapapun yang mengingatkan kita, baik bawahan, anak, tetangga, teman, murid, atau mungkin orang yang tidak kita kenal sekalipun, maka terimalah nasihat, kritikan dan sarannya. jadikan itu kontrol sosial untuk memagari diri dari perilaku korupsi.

Ketiga, Kontrol Manajerial. Yaitu membuat kontrol manajerial dan pengaturan yang menjadi bagian dari mekanisme kerja. Dalam hal ini kita dituntut untuk terbuka terutama masalah keuangan. Tidak menutup-nutupi bahkan memanipulasi. Baik kepada bawahan maupun atasan. Kita bisa melakukan ini dengan membuat laporan secara berkala walaupun itu tidak pernah diminta. ini sebagai bentuk pertanggung jawaban kita dan kejelasan arah anggaran yang kita gunakan. Sebab bila kita mengeluarkan dana tanpa bisa dipertanggung jawabkan, maka kita akan sulit mengontrol ketika orang lain melakukan hal yang sama.

Bayangkan bila orang lain menduga kita telah melakukan penyimpangan dan manipulasi keuangan karena tidak transparan dan disiplin dalam masalah keuangan. Kita akan mendapat masalah dan kegelisahan yang besar sebab akan jadi gunjingan mereka.

Keempat, Kontrol Transenden. Ini adalah kontrol yang paling tinggi. Merupakan kontrol dari segala kontrol yang telah disebutkan sebelumnya. Suatu kontrol yang lahir dari keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengawasi segala sesuatu yang kita lakukan, sesuatu yang kita rencanakan, baik yang tersembunyi maupun terang-terangan, yang tersirat maupun yang tersurat, bahkan Dia mengetahui apa yang terbersit di hati kita sebelum kita melontarkannya.

Meyakini kalau Allah Mengetahui segala perbuatan dan tingkah laku kita, di manapun serta kapanpun tanpa ada yang tersembunyi, tidak pernah alpa apalagi lupa, merupakan bagian dari tauhid, yaitu Tauhid Rububiyah. Sehingga keimanan yang sampai pada taraf demikian disebut Ihsan.

Dalam sebuah majelis, seorang laki-laki serba putih datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallama, duduk dan meletakkan kedua lututnya di atas lutut Rasulullah kemudian bertanya tentang Iman, Islam dan Ihsan. Kemudian Rasulullah menjelaskannya. Di mana disebutkan bahwa ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, bila engkau tidak mampu melihatnya maka ketahuilah bahwa pasti Ia melihat engkau. Sesungguhnya yang datang itu adalah malaikat Jibril yang ingin mengajarkan para mukminin agama mereka sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya.

Ihsan adalah sikap tertinggi dari keimanan kaum muslimin yang terimplementasi dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Orang yang memiliki ihsan akan merasa selalu dikontrol oleh Allah. Ia tidak akan berani berdusta, berbohong, berkhianat, menipu, merampas, menindas dan korupsi. Bukan karena siapa-siapa, kecuali hanya karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Manusia yang memiliki ihsan dalam dirinya maka dia menjadi manusia yang bisa dipercaya dan tidak perlu diragukan lagi. Sebab apapun yang ia kerjakan dan yang diamanahkan kepadanya pasti akan dilaksanakan dengan baik. Dia tidak akan menyeleweng, memanipulasi, berkhianat dan korupsi. Karena dia tidak memerlukan kontrol manusia. Keyakinan bahwa Allah selalu melihat sudah cukup baginya.

Di antara kisah yang paling menarik tentang hal ini dapat kita lihat dalam sebuah riwayat, ketika Umar bin Khattab berkeliling melihat keadaan kaum muslimin, di sebuah padang rumput ia bertemu dengan seorang gembala kecil yang sedang mengembalakan kambing seorang diri. Saat gembala itu sedang asyik menjaga kambing gembalaannya, Umar datang menghampirinya dan bertanya “ini semua kambingmu?”

“Bukan tuan, ini punya majikan saya”, jawab anak gembala itu. “Majikanmu di mana?” Tanya Umar lagi.“Dia tidak ada di sini, tuan” jawab anak itu polos. “kalau begitu bagaimana kalau kambingmu saya beli satu ekor, uangnya untukmu. Majikanmu tidak akan tahu. Kalau dia bertanya kamu bisa katakan bahwa kambingmu hilang atau mati dimakan serigala,” kata Umar membujuk.

“Saya tidak berani, tuan”. Jawabnya. “Kenapa?” tanya Umar lagi. “saya takut”. “takut sama siapa? Bukankah tuanmu tidak melihat. Takkan ada yang mengetahui kalau kamu menjual kambing ini seekor saja. Hanya kita berdua yang tahu”. Jelas Umar. Anak gembala itupun menjawab dengan keyakinannya “kalau begitu, Tuhan di mana?”

Dari kisah ini dapat kita ambil pelajaran penting dan berharga, di mana anak gembala itu ingin mengatakan bahwa tuannya sebagai pemilik kambing memang tidak akan melihat tetapi Tuhan dari tuannya pasti akan melihat.

Subhanallah, begitulah seharusnya pribadi kita sebagai seorang muslim. Apabila kita digoda untuk melakukan korupsi serta penyelewengan, hendaknya kontrol transenden ini menjadi tembok besar yang menghalanginya. Rakyat atau siapapun memang tidak tahu tetapi Tuhan dari rakyat dan orang lain tersebut pasti Maha Tahu.

Jadi empat kontrol yang perlu kita optimalkan sebagai upaya aktualisasi diri anti korupsi adalah kontrol  dari dalam diri, kontrol sosial, kontrol manajerial dan kontrol transenden. Sehingga bila semuanya mampu membatasi untuk tidak berlaku korupsi maka akan terwujudlah pribadi dan masyarakat yang sejahtera serta bermartabat. Dengan jargon terwujudnya (بلدة طيّبة وربّ غفور) Negeri yang baik, dan Tuhan yang Maha Pengampun.

Allahu a’lam bish-shawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Asadul Elmy
Anak Surau Munai Alumnus Pondok Pesantren Khalid Bin Walid (PPKHW) Pasir Pengaraian Rohul-Riau, Mahasiswa Fakultas Syariah Prodi Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah UIN MALIKI MALANG.

Lihat Juga

Ilustrasi. (kavuitimur.wordpress.com)

Strategi Cerdas Perencanaan Keuangan Pribadi

Organization