Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ghirah Syuhada

Ghirah Syuhada

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)

dakwatuna.com Islam meninggikan derajat orang yang berilmu. Karena kejayaan peradaban islam sendiri, dibangun oleh kemapanan keilmuan umat islam. Maka tak heran, kota-kota besar seperti Makkah, Madinah, Baghdad, dan Kairo saat ini menjadi pusat studi islam. Ya, itu akumulasi kerja keras para ulama di masa lampau.

Sehingga di Mekkah dapat kita jumpai kuliyat al-shari’a, yang kemudian menjadi fakultas syariah di universitas King Abdul Aziz yang berada di Jeddah. Di Madinah kita juga dapat menjumpai Medina Islamic University dan Thaiba University. Di Baghdad, perguruan tinggi yang terkenal adalah perguruan An-Nizhmiyah yang didirikan oleh Nizamul Mulk (5H) dan perguruan tinggi Muntashir Billah (7H). Tak lupa juga Bayt Al-Hikmah yang menjadi lembaga keilmuan paling penting yang didirikan pada masa khalifah Al-Ma’mun. Di Kairo, pada 988 Masehi didirikan universitas Al-Azhar. Ini merupakan universitas tertua yang masih berfungsi di dunia.

Sekolah-sekolah tersebut, telah melahirkan ratusan bahkan ribuan ulama islam. Merekalah yang menjaga kemurnian islam. Semangat juang mereka pula yang menebarkan kebaikan islam ke dalam setiap desahan nafas. Sadarkah kita, akan pembeda ghirah syuhada dengan ghirah manusia biasa? Ya, Ghirah mereka dibarengi dengan ilmu. Maka tak heran, jika ghirah syuhada penuh dengan kemantapan. Indah untuk diteladani, dan memiliki kebermafaatan yang luar biasa. Ilmu agama sebagai pondasi dasar, tidak akan pernah mengecewakan !

Coba kita perhatikan pula pola perpindahan pusat pemerintahan islam semenjak periode dakwah rasul. Tiga belas tahun pertama rasul berdakwah, beliau berada di Mekkah. Lalu hijrah ke Madinah, sehingga lahirlah perhitungan tahun hijriah. Berlanjut kepada kepemimpinan khalafaur Rasyidin, Ali bin Abi Thalib RA memindahkan pusat pemerintahan ke Kufah. Lalu pusat pemerintahan pindah lagi, memasuki kekhalifahan bani Umayah menuju Damaskus(Suriah). Berlanjut ke kota Baghdad pada kekhalifahan Abbasiyah. Terus menerus melakukan perpindahan pusat pemerintahan, yang diiringi oleh perpindahan pusat peradaban.

Tapi di situlah letak kejayaan umat islam pada abad pertengahan. Mereka mencintai ilmu, karena tahu bahwa ilmu akan menjaganya. Mereka juga menjaga perkembangan ilmunya dengan Ghirah (semangat juang) dan Mujahadah (kesungguhan). Sehingga tak heran, perkembangan islam terus meluas seiring perpindahan pusat pemerintahan. Karena pada masa itu pusat pemerintahan, bisa menjadi pusat peradaban. Dan pusat peradaban juga tidak akan terlepas dari peran keilmuan dan keulamaan.

Ghirah syuhada, bukan hanya untuk mereka yang mati dijalan Allah dengan cara berperang. Tapi ghirah syuhada juga berlaku untuk umat muslim yang menantikan kematiannya dengan semangat perjuangan dan kecintaan terhadap ilmu.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Guna Hadapi Terowongan Bawah Tanah Hamas, Israel Bangun Tembok Rasis di Gaza