Home / Narasi Islam / Politik / Wahai Pemimpin, Janganlah Bermaksiat!

Wahai Pemimpin, Janganlah Bermaksiat!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)

dakwatuna.comSudah jelas Allah, sampaikan bahwa manusia adalah khalifah yang menjadi pemimpin di muka bumi. Pemimpin yang berkewajiban untuk menjadikan kesuburan yang Allah berikan di muka bumi, menjadi sebuah kesejahteraan bagi umat yang dipimpin, dan menjadikan adil setiap hukum Allah yang sudah jelas diatur dalam Al Quran, dan telah Rasulullah terapkan selama Daulah Islamiyah tegak di Bumi Madinah

Kehendak Allah dalam Penciptaan Manusia

Manusia adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan sebuah akal dan pikiran yang begitu sempurna. Manusia bukanlah sebuah hewan yang hanya saja memikirkan mengenai nikmat kehidupan, namun manusia adalah sebuah kesempurnaan ciptaan yang kemudian Allah tambahkan tugas dan kewajiban yang lebih, yaitu menjadi pemimpin di muka bumi. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 30, Allah berfirman

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dalam ayat tersebut, seolah nampak, pada awalnya malaikat menanyakan kehendak Allah yang ingin menciptakan manusia yang hanya akan bertumpah darah dan berbuat kerusakan di bumi Allah. Namun kemudian, Allah menegaskan bahwa Allah adalah Dzat yang lebih mengetahui apa yang malaikat tidak ketahui. Sebuah adegan yang Al Quran tunjukkan di sini, seharusnya menjadi sebuah dasar bagi manusia, bahwa Allah menginginkan manusia untuk menjadi makhluk yang mampu memberikan kontribusi besar di bumi Allah dalam membangun sebuah peradaban.

Rasulullah sang Pemimpin Peradaban

Belajar dari sebuah risalah perjuangan dan sirah adalah sebuah keharusan di kalangan pemimpin Islam saat ini. Dalam sirah ataupun risalah tersebut ada sebuah ide besar yang kemudian diceritakan dan menjadi momentum bagi manusia untuk kemudian mengetahui bagaimana pada dasarnya peradaban besar Islam dipimpin dan dijadikannya sebuah hukum yang mampu mengatur keadilan dan kesejahteraan umat di kala itu. Rasulullah adalah seorang Rasul sekaligus pemimpin Daulah Islamiyah yang menjadi sebuah panutan dan contoh bagaimana Islam menjadi agama yang Rahmatan Lil Alamin dan menjadi pelindung serta penegak terhadap adanya kesejahteraan dan keadilan dalam masalah kehidupan dunia.

Sirah telah menjelaskan dan menceritakan sebuah kepemimpinan profetik yang luar biasa telah menjadi panutan zaman saat ini. Rasulullah memimpin dengan konsep masyarakat yang menghargai satu dengan yang lain, dan menjadikan hukum Allah sebagai landasan dasar dalam penyelesaian setiap urusan yang berkaitan dengan kehidupan dunia dan akhirat. Dalam kepemimpinan yang kemudian Rasulullah contohkan, karakteristik yang kemudian tidak pernah ditinggalkan adalah adanya sebuah harmonisasi hubungan antara Allah, manusia, dan alam. Sudahlah jelas, kepemimpinan yang dicontohkan ini telah menjadikan Islam sebagai agama yang kemudian tersebar dari Barat hingga Timur yang sukses menjadikan masyarakatnya sebagai masyarakat yang mampu menjaga harmonisasinya, namun tetap meletakkan dasar dan fondasi keimanan dalam pembangunan masyarakatnya.

Karakter kepemimpinan seperti inilah yang seharusnya menjadi sebuah contoh bagi pemimpin-pemimpin dunia saat ini, pemimpin yang mengusung transformasi pergerakan masyarakat ke arah perubahan yang lebih baik dan menjadikan masyarakatnya lebih memahami ke arah mana seharusnya negeri ini bergerak, ke arah kebaikan atau malah menjadi ke arah keburukan. Pemimpin yang tepat dan bijak, menjadi sebuah navigator dalam membawa negaranya menjadi negara yang baik, atau malah merapatkan negaranya pada keadaan yang jauh lebih baik dan lebih dekat pada problematika yang semakin kompleks. Dalam hal ini, maka perlulah sebuah referensi tentang kepemimpinan dengan menjadikan Rasulullah sebagai sebuah suri tauladan yang telah membawa peradaban Islam jauh dari tempat asalnya, yaitu Madinah.

Pemimpin Islam dan Amanah Beratnya

            Terpikirkan atau tidak, dalam setiap diri seorang muslim tugas sebagai pemimpin adalah sebuah keharusan dan menjadi hal yang sudah melekat sejatinya dia telah menjadi dewasa. Ibarat sebuah stempel, ketika menjadi dewasa, maka kita pun menjadi seorang pemimpin bagi diri kita sendiri. Pemimpin tidaklah harus kemudian berada dalam sebuah struktur jabatan, melainkan pemimpin dapat berada dalam sebuah keadaan kultural. Pernah sebuah hadits disampaikan, bahwa manusia berada dalam empat keadaan ketika keberadaannya di tengah-tengah manusia yang lain. Dalam hadits tersebut, kondisi seseorang bias berada dalam keadaan wajib, sunnah, makruh, bahkan haram.

Dalam setiap diri seorang muslim, maka haruslah menjadi manusia yang keadaannya menjadi wajib atau sunnah. Keadaan yang dirasakan manfaatnya bukan malah menjadi manusia yang tidak diharapkan kehadirannya. Begitu pula seorang pemimpin, menjadi wajib kehadirannya ketika ia tidak ditemui di tengah-tengah jamaah yang dipimpinnya.

Orang Islam yang menjadi pemimpin, begitu berat amanah yang harus ditanggungnya. Umar Ibnu Khattab, yang kala itu secara tidak sengaja menjadi pemimpin shalat tatkala menggantikan Abu Bakar Ash Siddiq, yang kala itu Rasulullah sedang sakit, menyampaikan bahwa amanah yang diberikan ketika memimpin shalat bagaikan memikul Gunung Uhud di pundaknya. Bagaimana dengan seorang pemimpin muslim yang harus membawa amanah besar menjadi pemimpin umat dari sebuah negara yang mayoritas penduduknya Muslim? Maka jelaslah begitu berat amanah yang harus ditanggung dan ketika amanah tersebut salah dipergunakan maka jelaslah hukumannya, Neraka Jahannam.

Pesan Cinta Allah bagi Pemimpin Negeri

            Seorang pemimpin yang telah diamanahi oleh rakyat negeri ini harusnya menjadi pemimpin yang adil, arif, bijaksana, adil, dan mengusahakan kesejahteraan yang maksimal bagi rakyat di negeri ini. Begitu beratnya amanah yang dipikulnya haruslah menjadi pengingat dan tertanam kuat bahwa setiap apa yang dia lakukan akan mendapatkan pertanggungjawaban di depan sang khalik. Selain itu, pemimpin yang sadar akan kewajiban dirinya, haruslah meningkatkan kapasitas transedental dalam dirinya, agar pada akhirnya mampu mendapatkan kekuatan ruhiyah yang baik dan memiliki kejernihan dalam berpikir dan memimpin serta dalam setiap keputusan yang diambilnya.

Alkisah, ada sebuah pesan yang begitu mendalam yang diperoleh dari sebuah kisah ketika fulan bertemu dengan Ibrahim bin Adham. Dalam kisah tersebut diceritakan, fulan meminta nasihat kepada Ibrahim yang mana, fulan adalah seorang yang banyak melakukan perbuatan dosa. Dalam kisah tersebut, terjadilah sebuah percakapan antara Ibrahim dan Fulan. Dalam percakapan tersebut, Ibrahim memesankan lima perkara bagi fulan tersebut.

  1. Jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah, maka janganlah makan dari rizki-Nya
  2. Jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah, maka janganlah kamu tinggal di bumi-Nya
  3. Jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah, maka carilah tempat di mana Allah tidak dapat melihatmu
  4. Jika malaikat maut datang untuk mengambil ruhmu, maka mohonlah kepadanya,’berilah aku waktu untuk aku dapat bertobat dan beramal shalih’
  5. Jika di hari Kiamat nanti, malaikat penjaga neraka datang untuk mengirimmu ke neraka, maka janganlah kamu menurutinya

Pada percakapan tersebut, dari lima pesan yang disampaikan oleh Ibrahim, fulan tidak mampu untuk menjawab dan berkelit, maka seketika itu pula ia menyampaikan,”cukuplah hal ini bagiku. Sungguh aku memohon ampun kepada Allah, dan bertaubat kepada-Nya.”

Inilah nasihat yang kemudian harus selalu diingat oleh para pemimpin negeri ini. Lima perkara yang tidak akan begitu mudah untuk dilakukan, dan memaksa dirinya untuk terus mengingat dan meningkatkan kapasitas transedental serta mengikat dirinya pada Allah, sebagai sebuah bentuk peningkatan kapasitas dirinya ketika menjadi seorang pemimpin. Sesungguhnya Allah begitu sayang bagi para pemimpin-pemimpin di negeri ini. Begitu sayangnya Allah, hingga kemudian Allah menjadikan begitu banyak rambu-rambu agar para pemimpin berhati-hati dan mencegah dirinya dari perbuatan maksiat. Inilah pesan cinta Allah yang seharusnya selalu diingat oleh pemimpin negeri ini. Maka marilah diri kita untuk cerdas dalam memilih dan menjadikan pemimpin dalam negeri ini.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Abrory Agus Cahya Pramana
Mahasiswa S1 Fakultas Biologi, Ketua Kelompok Studi Herpetologi Fak. Biologi UGM, Santri PPSDMS Nurul Fikri Regional 3 Yogyakarta, Anggota Jamaah Mahasiswa Muslim Biologi. Tertarik dengan dakwah dan penyebaran Islam melalui spreading knowledge.

Lihat Juga

Kepemimpinan Karismatik