Home / Narasi Islam / Sosial / Metamorfosis Bersalaman

Metamorfosis Bersalaman

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Sumber Foto: www.praghina.com)
Ilustrasi (Sumber Foto: www.praghina.com)

dakwatuna.comGlobalisasi banyak mengikis kebudayaan, bahkan menghilangkannya. Banyak ditemui perubahan kebudayaan atau kebiasaan seiring berjalannya waktu, salah satu contohnya adalah tentang salam.

Salam merupakan bentuk penghormatan jika dilakukan oleh orang yang muda kepada orang yang lebih tua atau kepada orang ‘yang dituakan’. Merupakan bentuk kasih sayang dan kecintaan jika dilakukan oleh orang yang tua kepada orang yang lebih muda.

Dalam hal ini ditekankan jabat tangan antar lawan jenis yang bukan marhram, kembali ke tata Islam karena Islam juga menata budaya, bukan sekedar menata hubungan dengan Tuhan.

Dulu, jika bersalaman kepada orang yang lebih tua, kita bersalam kemudian mengecup atau mencium tangan itu atau meletakkannya di kening. Mencium tangan adalah simbol kecintaan dan meletakkan di kening merupakan simbol penghormatan. Itu diajari oleh para orang tua kita sejak dulu.

Tapi bentuk salaman sekarang ini sudah berganti atau mengalami metamorfosis. Sekarang, salaman dilakukan dengan meletakkan tangan di pipi. Entah apa maksud dengan simbol ini. Entah sejak kapan munculnya. Tapi saya sendiri baru menyadari dan menemukannya akhir-akhir ini yaitu saat Ahmad Dhani, yang saat itu sebagai salah satu juri pada acara audisi di salah satu televisi swasta mempertanyakan dan keberatan dengan cara bersalaman para kontestan yang dinilainya sudah berubah dari kebiasaan yang dulu. Saya pun sepakat dengan Ahmad Dhani dalam hal ini.

Ternyata kejadian ini cukup sering ditemukan. Misalnya yang terjadi di sekolah-sekolah atau tempat lainnya. Siswa-siswa salaman pun meletakkan tangan di pipi. Apa ini sekedar ikut-ikutan? Menurut saya memang sebagian besar dari mereka karena mengikuti apa yang mereka lihat. Korban dari TV. Mereka mencontoh dari pemain film atau sinetron TV yang mereka lihat. Mereka meniru tanpa tahu alasannya. Tanpa menyaringnya terlebih dahulu apakah benar atau salah, mereka latah untuk mengikutinya. Parahnya, yang lain ikut-ikutan, seolah-olah kalau tidak ikut-ikutan dianggap kuno.

Padahal, jika ditilik dari makna penempatan salam, jelas lebih tepat jika pada saat bersalaman, tangan dicium atau ditempatkan di kening sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan.

Selain itu, metamorfosis juga terjadi pada isi salam. Dalam ajaran islam, kita dianjurkan untuk mengucapkan salam yang jika dilihat artinya juga merupakan sebuah doa keselamatan. Mengucapkannya atau memjawabnya, akan mendapat pahal. Berbeda dengan salam dalam bahasa Indonesia ‘selamat pagi’ atau bahasa Inggris ‘Good morning..’ yang hanya bentuk sapaan saja, salam dalam Islam memiliki arti “Semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dari Allah dan juga barakah dari Allah untukmu.” Arti yang sangat bagus sekali.

Tapi salam dalam bentuk lain lebih diminati. Lebih-lebih pada generasi muda yang lebih bangga jika berbeda. maka menjamurlah kata sapaan, ‘hai bro…’ atau ‘hey coy, apa kabar’ atau ucapan salam ‘spada….’.

 

About these ads

Redaktur: Deddy S

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 4,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Supadilah, S.Si
Guru di SMP Islam Terpadu Darul Hikmah Pasaman Barat. Menuntut ilmu di Universitas Andalas, Padang.