Home / Berita / Internasional / Eropa / Noor Aubi: Di tengah Keputusasaan, Islam Telah Menemukan Saya

Noor Aubi: Di tengah Keputusasaan, Islam Telah Menemukan Saya

Mualaf (ilustrasi) - Foto: ROL
Mualaf (ilustrasi) – Foto: ROL

dakwatuna.comNoor Aubie di awal keputusannya menjadi Muslim memiliki harapan. Salah satu harapan itu adalah, menjadi Muslim yang kaaffah.

Di awal perjalanan itu, Noor merasa masih berdiri dengan satu kaki. Ia merasakan sulit untuk mendalami ajaran Islam. Belum lagi fakta menyakitkan yang ia dapat bahwa sebagian Muslim belum memahami ajaran Islam dengan baik dan benar.

“Saya melihat umat Islam dalam masalah besar. Sementara saya seseorang yang butuh bantuan mereka,” ungkap dia seperti dilansir onislam.net, Jumat (21/3).

Namun, kesedihan Noor berangsur menghilang. Ini karena, Noor bertemu dengan Hamid Slimi, salah seorang pengurus International Muslim Organization di Toronto, Kanada. Bagi Noor, Hamid merupakan seorang guru yang baik dan brilliant.

“Dia membantu saya memahami ajaran Islam yang kompleks,” ucapnya.

Modal dasar Noor menuju Muslim yang kaaffah sebenarnya sudah dimulai sejak Kecil. Saat itu, ia sudah mengagumi Keesaan Tuhan. Hal yang menurut Noor membuat orang tuanya heran. Fondasi itu terpatri mendalam dalam hati dan pikiran Noor.

Memasuki usia remaja, Noor mulai kehilangan arah. Hidupnya mulai terpengaruh obat-obatan dan minuman keras. Kedua hal ini merupakan pelarian Noor yang kadung frustasi dengan masalah keluarganya. “Masa-masa itu, saya pikir Tuhan tidak mengenal saya,” kata dia.

Beranjak dewasa, rasa frustasi itu memuncak. Ia terpikir untuk bunuh diri. “Aku sudah menyerah. Aku menyerah, saya merasakan tekanan yang luar biasa,” kenang dia.

Momentum inilah yang membuatnya kembali ke gereja, hal yang sudah lama ia tinggalkan. Di lingkungan tempat ia ingin menyembuhkan diri, Noor mulai berinteraksi dengan Muslim. Sepengetahuannya, Muslim adalah teroris. Pandangan itu berubah, ketika ia intens berinteraksi dengan mereka.

“Jujur saya terkejut dengan tragedi 9/11. Tapi teman-teman saya yang Muslim banyak membantu saya menjelaskan apa yang terjadi,” kata dia.

Satu waktu, Noor bertanya kepada mereka, mengapa dunia Islam begitu membenci Barat. Noor merasa ada alasan dibalik itu, yang mungkin tidak disadari dunia Barat. “Mengetahui jawaban dari teman, saya jadi paham, banyak kejahatan yang dilakukan Barat terhadap dunia Islam,” kata dia.

Rasa simpati dengan apa yang dialami umat Islam mengiring Noor mencari tahu tentang Islam dan Muslim. Banyak literatur Keislaman di lahap habis Noor. Kemudian, seseorang memberinya Al-quran terjemahan bahasa Inggris. Hati dan pikiran Noor terguncang, ia pun kagum.

Ketika ia mendengar Adzan pertama kali, Noor menangis dan menangis. Semua yang ia baca meremas hatinya. Ada kegembiraan dan kesedihan. “Islam telah menemukan saya,” kata dia.

Noor pun memutuskan menjadi Muslim, ketika ia berada di Damaskus, Suriah. Satu tempat dimana Islam pernah meletakkan peradaban modern dunia. Di sini, ia begitu merasa bahagia. Disisi lain, ia mulai mendapatkan ancaman, diskriminasi, caci-maki, kehilangan teman dan diasingkan keluarganya.

“Saya ingin tetap berada di jalan yang lurus dan saya selalu merasa rendah hati di hadapan Pencipta,” ucapnya. (ROL/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 6,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini