Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Detik-Detik Terakhir

Detik-Detik Terakhir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”

Perintah Allah untuk mengerjakan qiyamul lail dalam Surat Al Israa’ ayat 79 ini diikuti perintah dalam ayat berikutnya untuk mengucapkan:

“رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا”

“جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا”

Sebuah doa yang sarat makna, “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”

Doa pada detik-detik terakhir menjelang fajar, pada momen-momen di mana maknanya sangat terasa, menjelang sebuah pertempuran yang menentukan.

Mengharap datangnya sebuah kekuasaan yang menolong, sebuah karunia dari sisi-Nya, atas ketidakberdayaan seorang hamba dalam pergulatan antara yang haq dan bathil.

Menjalani takdir di jalan perjuangan ini…

Kejayaan din ini adalah janji dan ketetapan-Nya yang telah pasti. Namun tidak semua kita yang berlaga akan berjumpa dengan kemenangan, adakalanya berakhir dalam kekalahan, bahkan kesyahidan. Di antara kemenangan dan kekalahan ini Allah hendak menguji siapa yang terbaik amalnya di antara kita.

Jika laju perjuangan ini terhenti dalam kekalahan atau syahid, sedikit pun tidak akan mengurangi keagungan kerajaan-Nya dan  kemuliaan umat ini. Kesyahidan sedikit pun jua tidak akan mengurangi kegembiraan orang-orang yang mendapatkannya. Kemenangan Ashabul Kahfi dan kebinasaan Ashabul Ukhdud adalah sama-sama kemenangan bagi Allah dan kekalahan bagi musuh-musuhNya. Kemenangan dan kekalahan tidak menambah manfaat atau mudharat-Nya sedikit pun, bahkan Dialah yang sebenarnya kuasa menetapkan sepenuhnya.

Kami yakin, apa yang Engkau tetapkan pada kami, adalah pilihan yang terbaik menurut ilmu-Mu. Jika Engkau tidak memberikan kemenangan kepada kami, mudah-mudahan pilihan ini adalah yang terbaik bagi kami. Jika Engkau hentikan langkah kami ketika ketawadhuan kami masih utuh, lebih baik daripada Engkau mengizinkan kami terus menapaki kemenangan-kemenangan sementara langkah kami kian berbalut noda. Syahid dalam izzah adalah lebih baik daripada menang sebagai pecundang.

Kami ikhlas jika sekedar menjadi sebuah legenda yang menjadi ibrah generasi-generasi sesudah kami, atau menjadi batu pijakan di jalan panjang menuju puncak kemenangan kelak hingga penerus-penerus kami menjadikannya sebagai tumpuan dalam berjalan, atau pun jika hanya menjadi sebutir debu di jalan perjuangan ini yang tidak dikenali orang sedikit pun. Yang terpenting bagi kami adalah agar Engkau senantiasa menjaga menolong kami dengan sebaik-baik pertolongan, agar kami dikuatkan untuk sebaik-baik amal.

Meski di satu sisi kadang kami memberanikan diri untuk berharap agar Engkau memberikan kemenangan kepada kami. Betapa pun terkadang kami merasa tak pantas menggenggam cita tentang pembuka pintu kemenangan, menjadi asatidzul alam, sementara masih banyak kekurangan kami miliki. Dan jika Engkau meletakkan panji kemenangan itu di tangan saudara kami yang lain, bukan kepada kami, jadikan kami ikhlas menerimanya, bisa bersikap husnuzhan bahwa mereka lebih pantas menerimanya, Islam ini akan lebih tegak di tangan mereka.

Namun Jika Engkau memberikan panji kemenangan itu di kepada kami, kami merasa tiada lain hanyalah merupakan anugerah dan karunia-Mu sebagai hadiah terbaik bagi kami. Kami hanya mengharapkan kemenangan yang Engkau ridhai.

Ya Allah, semoga tipu daya dan kezhaliman yang menimpa kami menjadi tambahan pertolongan bagi kami, menutup kekurangan kami, dan mendekatkan kami kepada apa yang Engkau janjikan, yang senantiasa menjadi pelipur di antara duka dan kekalahan kami, tegaknya din ini di semua tempat yang ada timur dan baratnya.

Ya Allah, begitu dahsyat yang sekian lama menimpa kami, sedang kami hanya hamba-hamba yang lemah semata. Jika saat ini kami belum binasa, hanyalah karena pertolongan-Mu semata, bukan kehebatan kami. Jika saat ini kami belum binasa, mudah-mudahan terus berlanjut kepada kemenangan yang sebenarnya. Ya Allah berikan keteguhan kepada orang-orang yang memiliki azzam untuk tegaknya din ini secara kafah.

Kuatkan kami agar agar tidak menyia-nyiakan bekal ini ya Rabb,

“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk’.”

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Ilustrasi. (helenfrost.com.au)

Akhir Dari Sebuah Awal

Organization