Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Amanah Never Ending

Amanah Never Ending

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Sumber: http://portalintelektualjpans.blogspot.com)
Ilustrasi (Sumber: http://portalintelektualjpans.blogspot.com)

dakwatuna.com Amanah, seringkali datang tanpa kita minta. Pun ia juga seringkali pergi sebelum kita benar-benar usai menjamunya. Dan memang begitulah tabiatnya, ia datang bukan dari kakak angkatan, atau dari pengurus kaderisasi atau dari Murabbi kita. Ia datang langsung dari Allah SWT yang lewat tangan dan lisan manusia kemudian sampai kepada kita. Allah langsung yang memilih kita, maka kenapalah harus menghindar saat ia datang? Dan kenapalah harus mencari saat ia tak ada? Biarkan sajalah Allah yang memilih pundak mana yang mampu memikulnya.

Bagi antum yang akan menyelesaikan suatu amanah,

Maksimalkan setiap moment dan peluang yang masih ada. Untuk meraih derajat “ahsanu ‘amala” sebagai wasilah mendapatkan ridha Allah menuju Surga. Bersiaplah jika setelah ini antum sudah tidak akan menjadi apapun lagi, sudah tidak lagi mempunyai posisi struktural lagi. Karena amal tidak terbatasi oleh amanah struktural. Bersiap saja untuk menjadi apapun lagi, atau bahkan saat tak lagi menjadi apapun di dalam jamaah ini. Tetaplah bekerja!

Bagi antum yang sudah menyelesaikan suatu amanah,

Semoga akhir yang baik dan berbuah kebaikan. Semoga khusnul khatimah di akhir kepengurusan. Tidak perlu mengingat-ngingat apa yang sudah dilakukan. Biar saja Allah yang menjadi saksi, Rasulullah, dan orang-orang beriman juga menjadi saksi atas amal kita sewaktu di dunia ini. Dan Dia pulalah yang nantinya akan memberi ganjaran Firdaus, In syaa Allah. Ataukah masih engkau berharap pujian dan sanjungan saat usai menyampaikan laporan pertanggungjawaban di dunia ini?Bagi antum yang sekiranya ada firasat akan mendapatkan suatu amanah baru,

Bersiaplah untuk bekerja dengan siapapun nantinya, bahkan ketika harus bekerja sendirian, ataupun ketika harus bekerja tidak dengan siapapun. Bekerja sendirian saja siap, maka tak ada alasan lagi untuk males gerak (mager) dan lemah semangat ketika partner kerjanya tidak satu frekuensi denganmu. Bersiaplah pula untuk bekerja sebagai apapun, di medan yang seperti apapun.

Karena setelah ini antum akan benar-benar menerapkan materi tentang kapasitas seorang kader integral yang sering digaungkan dalam materi daurah-daurah yang sering kita ikuti, kader integral, kader yang harus siap bekerja dan beramanah di suatu bidang/peran yang sama sekali bukan bidangnya. Karenanya, kita diminta memenuhi ciri kader integral, yaitu mereka yang berfikir secara global dan bertindak secara spesifik, mengetahui banyak hal dan mempunyai spesifikasi kerja. Ini untuk mempersiapkan diri apabila di kemudian hari harus mengurus suatu hal yang bukan menjadi basic utama kita. Bersiaplah untuk kondisi apapun, karena kemungkinan apapun akan sangat mungkin terjadi. Karena sejatinya, kader itu miliknya jamaah, miliknya ummat. Kemana dia dibutuhkan kesanalah pula ia harus terbang. Tanpa nego. Tuntas!

Bagi antum yang sedang mendapatkan suatu amanah baru,

Fastaqim! Dan kuatkanlah kesabaranmu. Sabar untuk terjaga lebih lama dari biasanya. Sabar untuk berjalan lebih jauh dari sebelumnya. Sabar untuk berbuat lebih banyak dari yang lainnya. Karena bukankah sejatinya amanah tidak akan pernah meminta untuk dipilih, dia datang untuk memilih pada mana pundak yang kokoh untuk menopangnya. Seperti pesan Murabbi di suatu malam saat sedang mempercayakan suatu amanah baru kepada saya,

“… dan bukankah, sebelum ini kita memang sudah terbiasa untuk membelah diri menjadi dua, menjadi tiga, menjadi lima, menjadi sepuluh dan bahkan membelah diri jadi lebih banyak dari itu semua…”

Yang kesemuanya dilakukan dikarenakan begitu banyak yang harus kita urus, tapi ingat untuk memastikan bahwa yang banyak itu produktif dan ikhlas. Ini totalitas!

Ikhwahfillah,

Ucapkan selamat datang kepada amanah yang baru, ucapkan selamat tinggal kepada amanah yang lama, dan jamulah dengan sebaik-baik jamuan kepada amanah yang sedang bertamu. Karena sejatinya tak pernah ada aktifitas kita yang tanpa amanah. Serupa nasihat yang sering didengungkan dalam forum pekanan kita,

“Bukan dakwah yang membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkan dakwah!”

Maka begitupula dengan amanah, ia adalah salah satu perangkat yang akan menjaga kita agar senantiasa mempunyai amal nyata. Sebagai apapun, ataupun tidak sebagai apapun. Dengan siapapun atau bahkan saat tidak dengan siapapun. Seorang kakak angkatan mengingatkan, jika energi mempunyai hukum kekekalan, makapula dengan amanah. Ia tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Datang kepada pundak yang kuat, bukan kepada mulut yang mengiba. Karena amanah tahu kemana ia akan bertamu.

About these ads

Redaktur: Deddy S

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ale Ikhwan Jumali
Mahasiswa tingkat akhir di Universitas Gadjah Mada yang nyambi jadi merbot masjid dan wirausahawan. Suka tantangan dan hal baru.

Lihat Juga

Islamic School (Ilustrasi)

Penanaman Nilai-Nilai Keislaman di Pesantren