Home / Berita / Internasional / Asia / Suriah Akan Kembali Normal

Suriah Akan Kembali Normal

Bom "Barel Maut" setiap harinya dijatuhkan untuk menghancurkan Suriah (eldorar.com)
Bom “Barel Maut” setiap harinya dijatuhkan untuk menghancurkan Suriah (eldorar.com)

dakwatuna.com – Damaskus. Apa yang dilakukan oleh negara-negara pendukung kudeta di Mesir bagaikan mendayung melawan arus. Lama-kelamaan pasti akan menyerah dan kalah dengan derasnya arus itu. Kehendak rakyat pasti akan bisa memaksa segelintir elit militer yang berkuasa untuk turun, untuk kemudian rakyat turut mengelola negara. Hal ini seperti ditulis Yasir Zaatira di aljazeera.net, Rabu (19/3/2014) hari ini.

Zaatirah membuktikan keyakinannya di atas dengan kasus Afrika Tengah. Komunitas Muslim hanya 25% dari seluruh penduduk Afrika Tengah. Mayoritas penduduknya adalah Kristen. Oleh karena itu, ketika minoritas berusaha untuk berkuasa, dia hanya bertahan beberapa saat saja lalu jatuh, bahkan kemudian terjadi genosida yang menghabisi kelompok yang sudah minoritas ini. Walaupun pembantaian juga bukanlah hal yang wajar. Yang seharusnya terjadi di Afrika Tengah adalah pembagian kekuasaan, bukan pemerintahan dan kekuasaan etnis menindas etnis yang lain.

Tentang kasus Suriah, Zaatirah menyebutkan bahwa saat ini pihak-pihak tertentu, yaitu Rusia dan Iran, ingin memaksakan kelompok minoritas berkuasa dan memimpin mayoritas di Suriah. Minoritas penguasa ini, Syiah Alawiyah, hanya sekitar 10% dari jumlah penduduk. Mayoritas penduduknya adalah Sunni. Syiah bisa berkuasa karena mendapatkannya dari penjajah. Penjajah tentu senang jika minoritas yang berkuasa, karena akan selalu tergantung dengan dukungan kekuatan asing (penjajah). Tentunya ini adalah sesuatu yang tidak normal. Waktu pasti akan mengembalikan kondisi kepada normal kembali. Iran tidak akan selamanya bisa membiayai perang di Suriah ini.

Perang pasti akan berhenti dengan beberapa kemungkinan. Misalnya pemecahan Suriah untuk dibagi kepada kelompok yang ada, namun rakyat Suriah pun tentu tidak akan menerima solusi ini. Oleh karena itu, kalau minoritas bersikeras tetap berkuasa, maka dia akan melakukan genosida seperti saat ini untuk mengurangi komposisi pihak yang saat ini mayoritas sehingga seimbang dengan pihak yang saat ini menoritas. Ini pun tidak mudah, karena kelompok mayoritas tentu akan terus melakukan perlawanan. Oleh karena itu, mau tidak mau kondisi harus kembali kepada yang normal, yaitu kekuasaan dibagi sesuai dengan persentase penduduknya, seperti prinsip demokrasi. (msa/dakwatuna/aljazeera)

 

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir
  • Wila Salam

    ccciiiaahhh ternyata penulis artikel ini pendukung Demokrasi tulen.
    DEMOKRASI mah basi bung!!! Telah terbukti, bahwa demokrasi tidak menghasilkan kebaikan. Berikan contoh satu saja negara Demokrasi yang rakyatnya sentosa. TIDAK ADA!!!! Sebab Demokrasi menyuburkan penistaan terhadap kemanusiaan.
    DEMOKRASI tidak akan pernah bisa menjadi Rahmatan Lil ‘Alamin.

Lihat Juga

4.200 Pengajar Dikerahkan Untuk Mengajar Bahasa Turki Kepada Pengungsi Suriah