Home / Berita / Nasional / PPP Intensif Garap NU Kultural

PPP Intensif Garap NU Kultural

Istri Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid hadir dalam Haul ke-4 Gusdur yang digerar PPP, Selasa 14/1/14 (Foto: okezone.com)
Istri Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid hadir dalam Haul ke-4 Gusdur yang digerar PPP, Selasa 14/1/14 (Foto: okezone.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Partai Persatuan Pembangunan (PPP) belakangan intens menggarap kantung suara NU kultural. Selain menjalin hubungan erat dengan keluarga Gus Dur, PPP juga mulai menggarap kalangan perempuan NU.

PPP berbeda dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Itu setidaknya dalam langkah pendekatan dengan kalangan ormas Nahdlatul Ulama (NU). Bila PKB menggandeng Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj dalam iklan politik serta serangkaian acara yang melibatkan banyak massa, PPP justru menggarap kalangan NU kultural. Sebutan yang merujuk kalangan yang tidak berada di jajaran pengurus PBNU.

Lihat saja serangkaian gerakan PPP yang dirajut belakangan ini. Pendekatan ke kalangan pondok pesantren di Jawa dan luar Jawa yang begitu massif hingga melakukan pendekatan kepada keluarga mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid. Sinta Nuriyah Wahid, istri almarhum Gus Dur, turut serta menjadi bintang iklan milik partai berlambang kabah itu.

Kini, PPP justru melakukan pendekatan dengan kalangan perempuan NU. Melalui lembaga Muslimat NU, PPP secara terbuka melakukan pendekatan. Itu yang terjadi pada Selasa (18/3/2014). Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali didampingi Sekjen DPP PPP M Romahurmuziy dan Menpera Djan Faridz berkunjung ke kediaman Khofifah Indarparawansa.

Dalam pertemuan tersebut, Suryadharma mengaku PPP dan Muslimat NU sudah lama saling kenal. Karena itu, tak salah jika banyak kader muslimat yang berada di PPP. “Muslimat dan PPP bukanlah asing. Sudah lama saling kenal. Saya nitip PPP ya bu,” kata Suryadharma.

Hubungan Suryadharma dengan Ketua Umum Muslimat Khofifah, juga telah lama saling kenal. Perkenalan itu terjadi sejak mereka masih aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Apalagi Khofifah mengawali karir politiknya juga di PPP. “Jadi Bu Khofifah ini adinda saya di PMII,” terang mantan Ketua Umum PB PMII ini.

Upaya PPP menggarap kantung NU berbasis kultural menarik untuk dicermati. Ini mengingatkan gaya politik Gus Dur. Mantan Ketua PBNU itu pernah mempopulerkan gerakan kiai kampung. sebagai upaya menggerakkan kiai kultural yang berbasiskan umat. Mereka tidak masuk dalam struktur kepengurusan NU seperti PCNU, PWNU dan PBNU. Kiai-kiai ini hidup di tengah-tengah masyarakat.

Kondisi mutakhir bila disandingkan antara PKB dan PPP dalam melakukan pendekatan di kalangan komunitas NU jelas kontras satu sama lain. PKB secara maksimal berusaha membawa struktur NU dalam politik praktis. Namun sebaliknya, PPP menjauh dari struktur dengan menggandeng kalangan kultural NU.

Apapun gerakan partai politik yang merapat ke NU sebenarnya harus tetap menghormati AD/ART NU. Secara tegas organisasi yang berbasiskan pesantren ini sudah meneguhkan diri sebagai gerakan kemasyarakatan dengan memegang komitmen Khittah 1926. Berarti NU bebas dari partai politik manapun. Jika gerakan partai politik membawa NU ke politik praktis, sama saja partai politik mengkhianati komitmen para ulama NU. (mdr/inilah/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Politisi PKS, Fahri Hamzah (fahrihamzah.com)

Fahri Hamzah: PPP dan Golkar Masih di KMP