Home / Berita / Internasional / Asia / Masjid Faisal Islamabad, Keindahan di Kaki Himalaya

Masjid Faisal Islamabad, Keindahan di Kaki Himalaya

dakwatuna.comTerletak di ujung utara Faisal Avenue, Masjid Faisal seakan merepresentasikan kemegahan arsitektur Asia Selatan yang jenius, modernitas dan sekaligus ego sang arsitek yang berasal dari Turki. Hadir tanpa bangunan kubah atau dome seperti lazimnya masjid tradisional, masjid terbesar di Pakistan ini memilih hadir garis-garis modern kontemporer bercampur dengan tenda tradisional khas Beduin.

Kemegahannya makin lengkap karena posisinya yang khas: ia terletak di ujung paling utara kota itu dan di kaki Bukit Margalla, kaki bukitan yang paling barat dari Pegunungan Himalaya. Di ketinggian dan berlatar belakang Bukit Margalla yang indah, lokasi yang seakan menegaskan pentingnya masjid ini: ia bisa terlihat dari kejauhan, baik siang maupun malam.

Desain yang tak lazim itu berangkat dari sejarah panjang arsitektur Islam di Asia Selatan, bercampur dengan garis-garis kontemporer dengan wajah lebih tradisional dari tenda Beduin Arab. Semua dituangkan dalam ruang shalat yang luas berbentuk segitiga dengan empat menara. Tak seperti desain masjid tradisional, masjid ini tanpa lindungan kubah. Minaret meminjam desain bentuk mereka dari tradisi Turki. Minaret yang kurus dan mirip pensil.

Terbesar di Pakistan 
Masjid Faisal adalah masjid terbesar di Pakistan. Letaknya di Islamabad, ibu kota negara itu. Islamabad. Masjid ini dianggap sebagai Masjid Nasional Pakistan. Namanya menyandang almarhum Raja Faisal bin Abdul-Aziz dari Arab Saudi, yang mendukung dan mendanai proyek pembangunannya. Masjid Faisal berdiri di tanah seluas 5.000 m2. Bisa menampung 10 ribu jamaah dalam ruang shalat, 24 ribu di portico, 40 ribu di halaman, dan 200 ribu dalam halamannya

Masjid terluas di Asia Selatan ini adalah masjid terluas di dunia pada kurun 1986 hingga 1993. Kedudukan itu kemudian diambil alih oleh masjid yang baru rampung saat itu, Masjid Hassan II di Casablanca, Maroko. Perluasan selanjutnya Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah pada 1990-an. Peringkat Masjid Faisal langsung merosot di posisi keempat dalam kategori ukuran.

Dorongan membangun masjid ini dimulai pada 1966. Yakni, ketika almarhum Raja Faisal bin Abdul Aziz mendukung inisiatif Pemerintah Pakistan untuk membangun sebuah masjid nasional di Islamabad saat kunjungan resmi sang raja ke Pakistan.

Untuk mewujudkan masjid itu, maka diadakanlah sebuah kompetisi internasional pada 1969. Para arsitek dari 17 negara menyerahkan 43 proposal. Karya Vedat Dalokay dari Turkilah yang terpilih. Konstruksi masjid ini dimulai pada 1976 didanai Pemerintah Arab Saudi dengan biaya lebih dari 130 juta riyal Saudi sekitar 120 juta dolar AS sekarang.

Lantaran peran penting Raja Faisal dalam pendanaan itu, baik masjid dan jalan yang menuju ke sana menggunakan namanya. Penamaan itu diberikan setelah pembunuhan terhadap sang raja terjadi pada 1975. Masjid itu rampung pada 1986, digunakan menjadi markas International Islamic University.

Pada awalnya, banyak kalangan Muslim konservatif mengkritik rancangan masjid ini. Sebab, desainnya yang tidak konvensional dan tak ada struktur kubah tradisional. Tapi, kecaman itu sebagian besar berakhir ketika masjid itu terwujud dan penempatannya di depan Bukit Margalla.

Masjid Faisal adalah karya arsitek Vedat Dalokay yang memenangkan penghargaan Aga Khan untuk bidang arsitektur. Arsitektur masjid ini modern dan unik, tanpa kubah tradisional dan lengkungan yang ada di sebagian besar masjid di seluruh penjuru dunia.

Desain yang tak lazim itu berangkat dari sejarah panjang arsitektur Islam di Asia Selatan, bercampur dengan garis-garis kontemporer dengan penampilan lebih tradisional dari tenda Beduin Arab, dengan ruang shalat segitiga yang luas dan empat menara. Kendati begitu, tak seperti desain masjid tradisional, ini tanpa dome. Minaret meminjam desain mereka dari tradisi Turki dan kurus dan mirip pensil. Masingmasing empat minaret adalah 80 m tingginya, menara tertinggi di Asia Selatan dan berukuran 10 x 10 m.

Dalokay mengajak untuk membayangkan puncak masing-masing empat minaret sebagai sudut tertinggi Ka’bah. Maka akan terbentuk Ka’bah imajiner ditampilkan oleh empat minaret pada empat sudut dari ketinggian hingga dasarnya. Masjid Faisal menyesuaikan diri dengan bentuk Ka’bah secara proporsional. ‘’Saya berusaha menangkap spirit, proporsi, dan geometri Ka’bah dalam bentuk abstraknya,’’ komentar sang arsitek.

Kini bila Anda mengikuti puncak tiap minaret hingga dasar minaret secara diagonal, garis ini bisa membentuk empat sisi piramida di dasar Ka’bah imajiner. Piramida yang posisinya lebih rendah diperlakukan sebagai tubuh yang solid, yakni desain tenda itu. Sementara itu, empat menara dalam puncak mereka melengkapi kubus Ka’bah imajiner.

Masuk dari timur, taman dengan portico menjadi perantara menuju ruang shalat. International Islamic University dipindahkan pada bagian utama, tapi belakangan lembaga itu ditempatkan ke sebuah kampus baru. Perpustakaan hingga kini masih berada di masjid itu. Begitu pula ruang kuliah, museum, dan kafe.

Interior ruang utama ditutupi dengan lantai marmer putih dan dihiasi dengan mosaik dan kaligrafi oleh seniman Pakistan, Sadeqain, dan lampu gantung khas Turki. Pola mosaik memperindah dinding barat. Kaligrafi ayat ditulis lebih dulu di dinding barat dan ayat lain tertulis dalam tulisan kufi awal diulang dalam pola gambar cermin. Keindahan dari rancangan sederhana yang terpilih. (RepublikaPenerbit/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. (Islammemo.cc)

Erdogan Buktikan Eropa Mendukung Teroris