Home / Pemuda / Essay / Mau Tampil Beda?? Jangan Salah Langkah Yak…

Mau Tampil Beda?? Jangan Salah Langkah Yak…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Dokumentasi pribadi pada saat relawan mengadakan rihlah di Gunung Sibayak. (Foto: Trioki Ningsih).
Dokumentasi pribadi pada saat relawan mengadakan rihlah di Gunung Sibayak. (Foto: Trioki Ningsih).

dakwatuna.comAlhamdulilllahirabbil’alamin. Tiada berkah yang lebih indah selain berkah untuk berbagi, salah satunya dengan menulis cerita singkat ini. Yang Insya Allah memiliki pelajaran yang dapat dikutip. Terima kasih ya Allah, karena Engkau-lah, saya mendapatkan banyak pelajaran dalam kehidupan saya dan mendapatkan kesempatan untuk berbagi kisah lewat cerita ini.

Bicara tentang berbagi, perasaan senang pasti ada di hati kita. Sadar ngga sih, kalau sebenarnya berbagi itu sederhana? Berbagi itu simple banget. Kita bisa berbagi senyuman kita kepada saudara-saudara kita, berbagi ilmu, berbagi pengalaman, wahh… masih banyak lagi deh yang dapat kita bagikan untuk saudara-saudara kita demi mengukir senyum di bibir mereka.

Memang dalam menjalani kehidupan ini sering kali segala sesuatunya sudah terprogram. Bangun pagi, lalu pergi ke kampus, belajar, shalat 5 waktu, bermain, pulang, lalu tidur. Rutinitas sama setiap harinya. Segalanya pun kita upayakan untuk menjalankannya dengan baik. Dan tentu saja tidak ada yang salah dengan hal itu. Tanpa sadar waktu terus berjalan hingga akhirnya waktu yang kita miliki tidak tersisa lagi. Kalau begini, apa bedanya kita dengan yang diciptakan oleh manusia yaitu robot? Nah, apa bedanya kita dengan robot? Robot dapat mengerjakan segala sesuatu dengan baik, sebagaimana ia diprogram dan diminta untuk bekerja, dapat menghasilkan hingga akhirnya mesin robot pun kadaluwarsa dan tidak mampu lagi untuk menghasilkan sesuatu. Proses pun terhenti.

Again, selama bertahun-tahun, baik sadar ataupun tidak sadar, saya mencoba melakukan berbagai hal untuk menjadi yang lebih baik. Berusaha untuk menjalani segala sesuatu dengan segenap kemampuan terbaik untuk teraihnya suatu mimpi. Sampai suatu saat saya berpikir, “sampai kapan saya terus begini? Akankah harus saya menjalankan perjalanan hidup saya dengan keadaan seperti ini saja?” Kehidupan saya memang belum berubah sangat signifikan. Tapi suatu saat nanti saya ingin memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Dengan melakukan hal-hal yang lebih baik dan bermanfaat dari sebelumnya. Semua ini berlangsung dengan proses pendewasaan diri saya, yang membuat saya mulai memahami bahwa bukan hanya hasil yang terbaik yang saya inginkan. Tapi, lebih dari itu, saya ingin mendapatkan makna dari setiap yang saya kerjakan. Dan makna itu bisa dicapai ketika saya membayangkan bahwa apa yang saya kerjakan seolah-olah sebagai aktivitas terakhir dalam hidup saya, seolah-olah hari ini adalah hari terakhir dalam hidup saya. My last day. Seperti yang saya kerjakan sekarang. Seolah-olah hari ini adalah hari terakhir saya dapat menulis sepenggal kisah ini. Dan juga di setiap saya berada di tengah-tengah saudara saya seolah-olah hari itu adalah hari terakhir saya dapat bergabung dengan saudara-saudara saya sebagai Relawan Rumah Zakat. Perasaan senang dan bersyukur pun tidak pernah saya lupakan. Saya merasa senang ketika apa yang saya kerjakan bisa membuat orang lain, khususnya saudara-saudara saya yang saya sayangi bisa senang. Dan setiap kesalahan yang terjadi dalam proses kehidupan, saya anggap bukan sebagai sebuah petaka, melainkan sebuah pembelajaran.

Nah, saya sudah ngebahas tentang berbagi, rutinitas yang sama setiap hari, mimpi, dan menganggap hari ini adalah my last day sehingga saya bisa memaknai hari yang saya jalani. Penggalan cerita di atas merupakan suatu proses menjadi seorang yang dapat lebih bermanfaat. Beda halnya dengan yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di luar sana. Sungguh ironis kalau melihat situasi dan keadaan yang mereka lakukan. Kasus narkoba, aksi tawuran, kekerasan di mana-mana, free sex, dan masih banyak lagi contoh yang lainnya. Sungguh semakin miris kalau kita mengetahui fakta-faktanya. Semua hal yang mereka lakukan hanya gara-gara ingin mendapatkan label “berbeda dari yang lain”. Sebenarnya jika ingin menjadi seseorang yang “berbeda dari yang lain”, kita tidak mesti melakukan hal-hal yang ekstrim seperti di atas.

Contoh anak muda yang berani tampil beda adalah saudara-saudara saya, para Relawan Rumah Zakat. Bukan hanya Relawan yang ada di Medan, akan tetapi yang ada di seluruh Indonesia. Bagi saya, mereka berani unjuk diri untuk tampil berbeda dibandingkan kebanyakan anak muda yang lainnya dan membawa inspirasi bagi banyak umat di Indonesia.

Seperti halnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para relawan Medan. Dari program Masjidku Bersih dan Hijau, Jum’at Berbagi, pembagian kornet, pembagian daging kurban, menolong bencana yang dialami oleh saudara kita, dan masih banyak lagi kegiatan para relawan Medan yang dilakukan.

Hmmm, Masjidku Bersih dan Hijau merupakan salah satu program yang dijalani setiap 1 bulan sekali. Dan dilakukan di masjid-masjid yang kurang dilirik oleh warga. Kenapa harus?? Agar memancing warga untuk peduli terhadap kebersihan dan keindahan masjid di sekitar rumah kita. Sangat miris jika ada suatu masjid yang sama sekali tidak terawat. Bagaimana kita bisa nyaman untuk beribadah di tempat kotor dan tidak terawat. Dalam menjalani program Masjidku Bersih dan Hijau, banyak pengalaman yang dialami oleh para relawan. Dulu, ada Masjid yang hampir beralih tangan gara-gara tidak ada yang merawatnya, tidak ada yang menjadi nazir masjid di masjid tersebut. Dan ketika para relawan kembali untuk menjalankan aksinya, Alhamdulillah masjid tersebut sekarang tidak jadi diambil alih. Karena sudah ada nazir masjid tersebut yaitu tukang es yang sering berjualan di depan masjid tersebut. Dan ada kisah lainnya, yaitu masjid yang selama ini telah dikunjungi dua kali oleh relawan. Masjid ini sebenarnya lumayan besar, malah tidak bisa jika kita bilang bahwa masjid ini tidak terawat. Karena faktanya masjid ini bersih dan terdapat pepohonan di sekitarnya, walau hanya beberapa. Tapi yang anehnya, kenapa ada seseorang yang menganggap bahwa masjid tersebut merupakan miliknya? Hal ini kami ketahui ketika seorang ibu bertanya terhadap salah satu relawan. Apa sebenarnya yang terjadi di balik ini semua? Apakah masjid ini dahulunya merupakan tanah wakaf, tapi prosesnya setengah-setengah? Akhirnya banyak pertanyaan pun terlintas di pikiran kami. Apapun yang terjadi, semoga masjid ini tidak beralih tangan ataupun dihancurkan.

Kalau ngebahas tentang berbagi, berbagi, dan berbagi. Tidak hanya contoh program Masjidku Bersih dan Hijau saja yang dapat dilakukan, selain berbagi tenaga kita juga bisa berbagi waktu. Banyak hal yang dapat dibagi oleh para relawan untuk kebahagiaan umat. Contohnya “Jumat berbagi” yang terprogram setiap hari Jumat yang digerakkan oleh relawan kita, kak Dhika dan kawan-kawan relawan yang lain. Syukur Alhamdulillah program ini berjalan lancar. Berkat kedermawanan para donatur dan kesediaan menyisihkan waktu para relawan pun gesit melaksanakan program ini. Terima kasih buat semuanya, berkat kerja saudara-saudara semua, maka terukirlah kebahagiaan yang mengademkan hati umat manusia. Maaf, saya memang belum termasuk di salah satunya. Baik sebagai donatur ataupun sebagai relawan yang ikut dalam menjalankan program “Jumat berbagi”. Tapi, suatu saat nanti, Insya Allah saya bisa seperti kalian wahai saudaraku…

Luar biasa bukan yang telah dilakukan oleh para relawan kita. Saya yakin di luar sana juga banyak sekali anak muda yang melakukan hal yang sama dan menjadi beda dengan anak muda lainnya. Saya juga yakin bahwa nantinya kelak kita akan memiliki perjalanan karier yang lebih gemilang dibandingkan yang lainnya. Karena perbedaan tersebut membawa kita pada suatu kualitas hidup yang baru, yang tidak dimiliki oleh anak muda yang lainnya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Trioki Ningsih
Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Negeri Medan dan Relawan RZ Medan. Dengan tulisan saya bisa menangkap moment-moment selayak Fotografer menangkap moment tersebut juga.. :)
  • kyo

    tetap semangat bahagiakan ummat… Allahuakbar!!!!

Lihat Juga

Ilustrasi (RoL)

Qiyadah yang Tak Malu Mengaku Salah

Organization