Home / Berita / Internasional / Afrika / ACT akan Kirim Tim Kemanusiaan ke Republik Afrika Tengah, Suriah dan Myanmar

ACT akan Kirim Tim Kemanusiaan ke Republik Afrika Tengah, Suriah dan Myanmar

Logo Aksi Cepat Tanggap (ACT)
Logo Aksi Cepat Tanggap (ACT)

dakwatuna.comJakarta.  Krisis kemanusiaan global khususnya di negara-negara muslim mengundang banyak keprihatinan. Badan dunia termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amnesti Internasional merespon tragedi di berbagai belahan dunia seperti Mesir, Suriah, Myanmar, Palestina dan yang terakhir adalah tragedi genosida di Republik Afrika Tengah.

Sebagai bangsa berpenduduk muslim terbesar, Indonesia wajib peduli atas krisis kemanusiaan ini. Tak ada lagi kata diplomasi kosong untuk menghentikan tragedi kemanusiaan ini. Karena faktanya, 10 besar peringkat bangsa-bangsa yang teraniaya adalah negara muslim.

Untuk itu, sebagai lembaga kemanusiaan independen, Aksi Cepat Tanggap akan mengirimkan tim kemanusiaan ke Republik Afrika Tengah, Suriah dan Myanmar menunaikan mandat kampanye dengan tema “Solidaritas Kemanusiaan Dunia Islam”. Pelepasan tim kemanusiaan ini akan dilakukan di Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jumat (14/3) pukul 13.00.

Direktur Komunikasi ACT, Iqbal Setyarso mengatakan, pelepasan tim ini membuktikan bahwa Indonesia menjadi bangsa besar. Terlebih, bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar bersama kemanusiaan. Dalam arti, ketika Indonesia tertindas, banyak bangsa di muka bumi ini yang ikut menyuarakan penderitaan rakyat Indonesia sampai bisa memproklamirkan kemerdekaan.

“Segerakan dukungan moril dan materil sehingga tim dapat mendistribusikan bantuan ke negara muslim yang terpapar bencana. Amanah ini mudah-mudahan dicatat Allah karena memuliakan manusia adalah memanusiakan kita sendiri,”kata Iqbal.

Iqbal mengatakan, bangsa Indonesia pun harusnya lebih bersyukur. Mungkin masih banyak orang Indonesia yang hidup dalam kemiskinan, kelaparan dan ketakutan. Namun, ini adalah hal yang insidental yang bisa diatasi dengan kebijakan pemerintah dan kepedulian rakyat Indonesia. Berbeda halnya dengan negara-negara yang muslimnya teraniaya ini.

“Ketakutan mereka seolah tak ada ujung, kelaparan mereka hanya menunggu kematian dan kemiskinan mereka seolah permanen. Dengan  menyelamatkan satu jiwa itu berarti menyelamatkan seluruh jiwa,” kata dia.

Kalau ACT menyebut ‘dunia Islam’, kata Iqbal, bukan atas dasar sektarian, tapi fakta kemanusiaan hari ini, umat Islam di berbagai belahan dunia dalam kondisi teraniaya. Kami panggil sesama muslim peduli, sekaligus dunia juga peduli kepada muslim teraniaya di dunia ini, karena tak seorangpun bisa seenaknya dihapus dari muka bumi karena berbeda agama.

Tim kemanusiaan ini akan disebar ke Republik Afrika Tengah, Myanmar dan Suriah. Tim ini juga membawa tema besar Solidaritas Kemanusiaan Dunia Islam yang diusung ACT. Untuk tim di Republik Afrika Tengah, payung besar adalah dalam proses emergency seperti penyediaan pangan dan obat-obatan. Yusnirsyah Sirin, Ketua Tim #saveCAR mengatakan, kebutuhan utama para pengungsi adalah pangan, sandang dan kesehatan.

“Sebagian besar dari pengungsi adalah anak-anak dan perempuan, di mana banyak dari mereka yang terpisah dari keluarga. Diprediksi sebanyak 28.000 anak-anak akan mengalami malnutrisi akut parah dan 75.500 anak-anak mengalami malnutrisi akut menengah,” kata dia.

Adapun untuk tim yang dikirim ke Myanmar terutama membantu membawa payung besar untuk membangun infrastruktur pendidikan atau shelter sekolah untuk pengungsi di Sittwe. Tim juga akan tetap mendistribusikan bantuan pangan dan obat-obatan. Anggota tim kemanusiaan Rohingya, Sudayat Kosasih mengungkapkan, infrastruktur sekolah saat ini diperlukan meskipun shelter rumah pun tak kalah pentingnya.

“Tim kali ini untuk melanjutkan program-program yang sudah dijalankan di Rohingya,” kata dia.

Adapun pengiriman kembali tim ke Suriah untuk membawa misi #Food4Syiria. Tim akan mengutamakan bantuan pangan meski tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan pembangunan pabrik roti di Suriah sampai kondisi aman.

“Meski begitu, semua mata hati akan bicara, rakyat Suriah tidak hanya memerlukan makanan. Jauh lebih mendasar, semua mengharapkan kedamaian. Perdebatan para pemimpin negara yang berseberangan dalam menyikapi krisis Suriah, alih-alih membangun ketenteraman justru kepanikan massif,” kata Yusnirsyah.

Melalui pengiriman tim ini ACT berharap: Pertama, rakyat Indonesia tidak mati nurani, sadar untuk berpartisipasi konkret membantu sesama masyarakat sipil di belahan dunia lainnya demi peradaban yang berperikemanusiaan. Kedua, Pemerintah Indonesia segera menunaikan mandat kemanusiaan mendorong perdamaian di negara-negara muslim yang teraniaya. Ketiga, Rakyat Indonesia maupun institusi kemanusiaan di Indonesia bersatu bersama elemen dunia mendorong perdamaian di negara-negara tersebut. (ACT/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Media Relations Directorate Aksi Cepat Tanggap

Lihat Juga

Ilustrasi - Peta Suriah (inet)

Membaca Masa Depan Perang Suriah