Home / Pemuda / Suara Rohis-OSIS / Semanis Perjuangan Dakwah Sekolah

Semanis Perjuangan Dakwah Sekolah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Mentoring keislaman di sebuah masjid sekolah. (flickr.com/array064)
Ilustrasi – Mentoring keislaman di sebuah masjid sekolah. (flickr.com/array064)

dakwatuna.com Dakwah Sekolah atau yang biasa dikenal dengan sebutan Tunas Bangsa merupakan aset berharga bagi kebangkitan Islam. Berdakwah di dalamnya menjadi sebuah perjuangan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Di sisi lain seringkali muncul sebuah pertanyaan: mengapa perlu berdakwah kepada pelajar? Tentu. Pelajar mempunyai andil besar dalam menyumbangkan pemikiran dan pergerakan di lapangan. Mereka adalah generasi muda yang ikut andil dalam menyusun batu bata – batu bata demi sebuah bangunan yang kokoh, di mana tujuan akhirnya adalah perwujudan khairu ummah. Di usia mereka yang masih belia, berdakwah pada pelajar dapat menggiring mereka untuk lebih produktif dan kritis dalam mengembangkan ide-ide segarnya. Jumlahnya yang sangat massif akan semakin bermanfaat ketika arah kerja mereka didukung dengan manhaj dakwah sekolah yang ideal.

Menjadi seorang ikhwah yang telah ditempuh tarbiyah bertahun-tahun sejatinya mampu membuka pandangan kita tentang syumuliyatul Islam, kesempurnaan Islam dalam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia begitu jelas, sejak dari masalah aqidah, kehidupan sehari-hari, hingga aspek ekonomi dan politik. Pemahaman akan Syumuliyatul Islam ini akan lebih terhujam pada diri seseorang salah satunya melalui pendinian tarbiyah. Inilah alasan mengapa pembinaan tarbiyah menjadi esensial di ranah dakwah sekolah. Harapannya mereka yang  telah menempu pendinian tarbiyah sejak SMP, SMA atau bahkan SD kelak dapat melanjutkan dakwah mereka di berbagai ranah yang ada, dan ketika menjadi mahasiswa mereka akan lebih kuat dalam menghadapi berbagai ideologi yang menyerang di ranah kampus.

Dalam membina para tunas bangsa, ibaratkan mereka adalah benih-benih segar yang sangat berkualitas, meski begitu kemampuan memahami dan berintima’ pada suatu ideologi masing-masing mempunyai kadar yang tidak sama. Sehingga penting adanya sebuah stakeholder dan pengarah yang berperan aktif sebagai organisator serta membuat konsep-konsep dakwah di sekolah bagi tunas bangsa yang mudah dipahami dan mendukung tujuan besar kita yaitu Ustadziatul Alam.

Seperti halnya dakwah kampus, dakwah sekolah pun terlahir dari rahim perjuangan, di mana jumlah para murabbi dan binaan yang harus diampu sering tidak seimbang, problema yang mereka hadapi pun tidak ringan, pelajar seringkali dekat dengan tawuran, narkoba, korban perang pemikiran dan berbagai pihak dari luar yang menentang adanya pembinaan kepada pelajar. Para binaan yang diampu pun tidak hanya mereka yang masih berstatus siswa, namun juga para alumni yang masih membina tetap di dakwah sekolah.

Menjadi sebuah keniscayaan ketika jumlah para kader dakwah sekolah semakin menipis, banyak dari kader yang terbina memilih untuk melanjutkan estafet dakwahnya di ranah kampus, yang menjadi evaluasi ketika banyak aktivis dakwah kampus sudah enggan menggarap sekolah, padahal jarak dan waktu masih memungkinkan. Pernah suatu ketika mendengar cerita bahwa seorang aktivis enggan menggarap sekolah karena karier mereka dapat lebih mumpuni kala di kampus, letaknya yang strategis dan dekat dengan eksistensi diri, ujian adanya nama besar ditakutkan akan melemahkan fitrah makna dakwah itu sendiri. Wallahu a’lam. Tentu ini tidak bisa digeneralisasikan, karena bagaimanapun dakwah kampus dan dakwah sekolah adalah satu ikatan tujuan.

Para aktivis di dakwah sekolah memang masih jauh dari sempurna, tetapi kerelaan mereka untuk tetap membina jundi-jundi muda dengan jumlah murabbi yang terbatas di tengah aktivitas mereka yang jauh dari dunia sekolah menjadi renungan tersendiri bagi kita bahwa dakwah sekolah perlu diperjuangkan. Ya, sampai sekarang aktivis di dalamnya masih terus mengekspansi berbagai sekolah agar terus berkembang dan terbina secara berkesinambungan. Harapannya semakin banyak generasi muda yang terbina dan tumbuh kuat dari sisi tarbawi maupun haraki hingga  para simpatisan yang aktif dalam kegiatan jamahiri.

Pada akhirnya, setiap kader yang terlahir dari rahim perjuangan dakwah sekolah sepatutnya bersyukur karena diberi kesempatan oleh Allah untuk melanjutkan estafet dakwah ini, menyusun batu bata yang baik hingga menjadi pondasi-pondasi yang kokoh. Insya Allah. Wahai saudaraku  tetaplah bersemangat meski kau lelah mencari pembina ke sana-sini, meski waktu, jarak bahkan materi seringkali menjadi hambatanmu dalam berjuang. Pun bila kau ditanya tentang semangat, jawablah bahwa bara itu masih tersemat dalam dadamu, api itu masih bersemayam dalam dirimu, dan ingatilah bahwa janji-janji-Nya adalah yang kita tuju.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 8,27 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Penulis pemula di Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah DIY, redaktur koran Bela Rakyat, tim pengelola MedSos ADS, tim training APM (Asosiasi Pengelola Mentoring) Jogja. Pernah aktif di LDS Kota Yogyakarta, beberapa kelompok studi ilmiah dan di LPIM (Lembaga Pendidikan Mujahidin UNY).
  • abi fahmida

    Justru dari dakwah sekolah bisa terjadi percepatan roda dakwah di kampus.Untuk itu amunisi di sekolah terus disiapkan dan penuh perhatian.

Lihat Juga

(Foto: Abdul Hakim)

Buktikan Kualitas, Sekolah Islam Terpadu Dominasi Pemenang Lomba Nasional Budaya Mutu SD