Home / Narasi Islam / Humaniora / Di Sekolah yang Baru, Pembayun Lebih Fokus Menghafal Al-Quran

Di Sekolah yang Baru, Pembayun Lebih Fokus Menghafal Al-Quran

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Foto: Badan Wakaf Al-Quran)
(Foto: Badan Wakaf Al-Quran)

dakwatuna.com Pembayun Senoaji Prayoga (14 tahun) merasa senang dapat sekolah di SMP Islam Ibnu Abbas, Serang, Banten, karena bisa lebih fokus menghafal ayat suci Al-Quran. Sehingga meski baru empat bulan nyantren di sekolah barunya ini, ia sudah hafal 2 juz Al-Quran.

“Seru, enggak bosen, enggak tertekan beban PR, lebih santai karena lebih fokus untuk ke tahfizh,” ungkapnya kepada wakafquran.org, Rabu (26/2/2014).

Sebelumnya siswa kelas 8 ini sekolah di salah satu SMP di Solo. Ibunda Rosi Susana memindahkan Pembayun dengan alasan agar akidah Islam anak pertamanya itu lebih tertanam serta dapat lebih mandiri karena pelajaran di sekolah ini menitik beratkan pada akidah dan tahfizh dengan sistem boarding school (mondok).

Prestasi remaja kelahiran Palembang, 9 Agustus 1999 tersebut juga cukup menonjol. SD pernah Juara 2 Olimpidae MIPA tingkat kabupaten, Juara 2 Cerdas Cermat tingkat kecamatan, Juara 3 Pidato sekabupaten. Sedangkan di SMP —yang dulu— Juara 3 Presentasi sesekolah juga mengikuti OSN namun hanya mendapat peringkat 8 dari 61 siswa. “Dan waktu itu pertama kalinya sekolah kita mengikuti event nasional,” ujar bocah yang hobi sepak bola dan senang pelajaran biologi tersebut.

Meski masih remaja, pemikiran Pembayun nampak lebih dewasa dari umurnya. Salah satunya terlihat ketika ditanya mengapa hobi main bola dan senang pelajaran biologi. “Sepakbola salah satu kebutuhan agar selalu sehat, bugar, untuk melaksanakan kewajiban yang lain,” ungkapnya.

Sedangkan pelajaran biologi, “seru karena dapat melihat dan mempelajari tanda-tanda kebesaran Allah.”

Ketika sudah besar nanti, ia pun bercita-cita menjadi pengusaha yang bertakwa. “Karena lebih terjamin dan bisa investasi dunia akhirat,” tekadnya.

Karena melihat potensi dan kecerdasan anaknya itulah, Rosi memindahkan Pembayun ke sekolah tahfizh Quran. Namun biaya bulanan di sekolah terpadu itu cukup mahal. Maklumlah ayahanda Sumedi Sumari yang bekerja sebagai buruh penghasilannya hanya Rp 500.000,- per bulan. Sedangkan Rosi tidak dapat membantu mencari nafkah karena sudah disibukkan mendidik dan mengasuh adik Pembayun yang masih kecil.

Rosi nekad menyekolahkan anaknya di SMP Islam terpadu tersebut walau penghasilan suaminya tidak memungkinkan untuk membiayainya lantaran program tahfizh Qur’annya yang cukup bagus. Di tambah lagi Pembayun kerasan dan lebih fokus menghafal di sekolah barunya itu.

Untuk mengurangi beban keluarga Pembayun, Badan Wakaf Al-Quran (BWA) melalui program Indonesia Belajar (IB) ini mengajak kaum Muslim mendonasikan sebagian hartanya agar dapat menutupi biaya bulanan sekolah Pembayun hingga cita-citanya tercapai.

Dan semoga urusan kita semua di dunia dan akhirat dimudahkan Allah SWT, karena telah memudahkan urusan sesamanya di dunia. Dari Abu Hurairah RA, nabi SAW, bersabda: “…Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat… (HR. Muslim).

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Badan Wakaf Al-Quran
Badan Wakaf Al Qur'an (BWA) adalah organisasi nirlaba (non-profit organization), berbentuk Lembaga Swadaya Masyarakat.
  • rukyah

    Semoga alloh memudahkan rizki orang tuanya aamiin

Lihat Juga

Pasar Merespons Positif Aksi Damai Bela Al-Quran 4 November