Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bahasa Cinta

Bahasa Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: kartinki2008.ru)
Ilustrasi. (Foto: kartinki2008.ru)

dakwatuna.com Muhammad Said Ramadhan Al Buthy di dalam buku Al Hubb Fil Quran wa Daurul Hubb fi Hayatil Insan telah memberikan penjelasan tentang cinta. Menurutnya, cinta ialah sebuah kebergantungan hati kepada sesuatu sehingga menyebabkan kenyamanan di hati saat berada di dekatnya atau perasaan gelisah saat berada jauh darinya. Di dalam Al Quran, Allah membahasakan cinta dengan kata ‘hubb’ dan disebutkan sebanyak 83 kali, sedangkan lawan katanya, yaitu ‘bugd-bagda’ atau benci sebanyak lima kali. Kata yang berdekatan dengan ‘bugd’ yaitu ‘sukht’ atau sengsara terulang sebanyak empat kali. Sedangkan lawan kata dari ‘sukht’ yaitu ‘ridha’ disebutkan 73 kali. Betapa bahasa cinta Allah lebih banyak disebutkan sekalipun itu sekedar kata di dalam Al Quran. Hal ini menjadi satu bukti sekaligus penegas bahwa besarnya rahmat Allah melebihi siksa-Nya. Sebuah ungkapan cinta Sang Pemilik Cinta yang mulia.

Sedangkan bahasa cinta sesama manusia, Al Quran memberikan istilahnya berupa ‘mawaddah, rahmah’ di dalam surat Ar-Rum ayat 31, pada surat Yusuf ayat 30 disebutkan dengan kata ‘syaghafa’. Hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa istilah yang berbeda-beda tersebut dipaparkan di dalam Al Quran sebagai penanda kedalaman, keragaman dan kerumitan cinta itu sendiri dalam dimensi manusia. Ia memiliki makna yang sangat luas dengan berbagai macam karakteristik dan gejala-gejala yang ditimbulkan olehnya. Namun, Rasulullah di dalam untai nasihat yang menyejukkan pernah bersabda, “Cintailah untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu, maka engkau menjadi seorang yang beriman.” (HR. Tirmidzi)

Sebuah titik tekan yang memberikan hubungan yang eratnya hubungan antara cinta dan keimanan seseorang. Iman adalah koridor batasan seseorang mendefinisikan sekaligus mengekspresikan cinta. Bahkan ketika itu, Muadz bin Jabal pernah melayangkan pertanyaan kepada Rasulullah berkaitan dengan keutamaan iman. Rasulullah dengan indah menjawab, “Iman yang paling utama adalah engkau mencintai karena Allah, membenci karena Allah, engkau menggerakkan lidah untuk berdzikir kepada Allah.” Ketidakpuasan Muadz menuntunnya untuk bertanya lebih dalam, “Selanjutnya apa, ya Rasulullah?” Beliau salallahu alayhi wassalam memaparkan, “Engkau mencintai manusia apa yang kau cintai untuk dirimu, membenci untuk mereka apa yang kau benci untuk dirimu, dan engkau bicara atau diam.”

Tidak sempurna iman seorang, kecuali ia membangun cinta dan hubungan yang baik terhadap sesama manusia. Kiranya begitulah inti dari apa yang ingin Rasulullah sampaikan kepada Muadz ketika itu. Seorang muslim belum sempurna jihadnya manakala ia tidak hanya mempunyai perasaan untuk terus mencintai Allah, ia butuh menyediakan ruang cinta bagi sesama dan seluruh makhluk-Nya. Karena hal tersebut adalah wujud keshalihan yang paripurna dan sempurna.

Cinta menjadi sumber ilham bagi para pujangga, filosof hingga orang biasa. Sejarah dan kehadirannya tidak akan pernah usang, walau berjuta obrolan telah membahas maknanya dan beribu puisi telah dibuat karena terinspirasi olehnya. Rasulullah sudah memberikan garis batas penegasan bahwa cinta dan iman merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan. Cinta dan iman merupakan satu definisi khusus tentang sebab akibat. Sebagaimana Allah subhanahu wa taala Berfirman:

Maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu niscaya kamu menjadi segolongan orang yang merugi” (Al-Baqarah: 64)

Kerugian ini beraneka raga. Mungkin berupa sempitnya hati, perasaan sengsara, kehinaan dan mungkin ketidaktenangan dalam menjalani kehidupan. Betapa beruntung orang-orang yang dapat mengubah segala macam bentuk kepapaan menjadi cinta yang menyejukkan. Kemampuan inilah yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang yang telah menghimpun keimanan dan cinta di dalam satu ruang yang sama. Tidak akan ada bahasa yang dikeluarkan olehnya kecuali bahasa cinta.

Lihatlah bagaimana Rasulullah bersikap ketika mendapati orang-orang Thaif menghardik bahkan memusuhi dakwah beliau. Padahal beliau datang dengan santun dan terhormat. Mengajak mereka untuk menuju jalan tauhid dengan cara yang mulia. Ternyata keinginan beliau yang membuncah untuk mengajak mereka berislam harus dibalas dengan cacian dan lemparan batu. Sehingga menyebabkan darah yang keluar dari luka di tubuh beliau mengalir membasahi terompahnya. Namun apa yang terjadi? Ternyata sesuatu yang keluar dari lisan beliau adalah doa.

Masa terberat Rasulullah dalam berdakwah bukanlah massa ketika raga ini terhunus pedang atau terhujam panah ketika beliau berperang menegakkan panji Allah. Bukan pula umpatan dan fitnah yang deras menghujani dirinya ketika ia melaksanakan perintah Allah untuk berdakwah. Namun, masa yang terberat adalah ketika otoritas keputusan dan tanggung jawab diserakahkan penuh kepadanya terhadap orang-orang yang menentang dakwah beliau. Sebuah fase hidup yang dilematis ketika ia dihadapkan pada cinta yang begitu besar kepada umatnya, sementara ia harus memutuskan untuk memberikan keputusan yang seadil-adilnya terhadap orang-orang yang zhalim terhadap dirinya dan umat Islam. Mungkin isak tangis beliau ketika diperdengarkan ayat:

Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (An-Nisa: 41)

Abdullah Ibnu Mas’ud memaparkan betapa air mata Rasulullah meleleh ketika sampai pada ayat tersebut. Ini adalah sebuah bahasa cinta yang begitu mendalam dan tersirat menjelaskan bahwa ia sungguh-sungguh mencintai umatnya. Bahasa yang meluluhkan perihnya luka yang dialaminya selama beliau berjuang di jalan dakwah. Semoga dengan bahasa cinta, kita dapat diistiqamahkan…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saif Fatan
Penulis sekaligus ketua Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah D.I. Yogyakarta dan Trainer Pelatihan Manajemen Lembaga Dakwah Kampus FSLDK DIY. Buku yang sudah ditulis dan diterbitkan yaitu Muslim Engineer (2011) dan Goresan Tinta untuk Indonesia (2013). Organisasi yang pernah diikuti Keluarga Muslim Teknik UGM (KMT UGM), Forum Silaturahim Keluarga Mahasiswa Muslim UGM (FORSALAMM) dan LDK Jamaah Shalahuddin.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI

Organization