Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Erupsi Kelud dalam Kenangan

Erupsi Kelud dalam Kenangan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Aliya Nurlela, menulis di atas abu vulkanik Kelud. (Foto: Aliya Nurlela)
Aliya Nurlela, menulis di atas abu vulkanik Kelud. (Foto: Aliya Nurlela)

dakwatuna.comMeski telah dua minggu berlalu, namun kejadian itu masih lekat dalam ingatan. Malam itu seperti biasa saya selalu menulis sampai pukul 22.00 WIB dan adakalanya hingga pukul 23.00 WIB. Malam hari cukup nyaman dipakai aktivitas menulis, sebab di malam hari tidak terlalu banyak kegiatan yang kita lakukan. Usai salat isya, menemani anak belajar, dan setelah itu bebas tanpa kegiatan lagi. Berbeda dengan siang hari, kesibukan harian terasa lebih padat, meski kita berada di dalam rumah.

Seperti malam itu, kantuk belum juga hilang. Malam Jumat tanggal 13 Februari 2014. Sore harinya saya berencana pulang ke rumah di daerah Kasembon, Malang. Sudah menjadi rutinitas setiap hari saya pulang pergi Malang-Kediri. Siang hari beraktivitas di Kantor FAM Kediri dan sore harinya pulang ke Malang. Tapi entah mengapa sore itu saya sedikit ogah-ogahan untuk pulang ke Malang. Antara pulang atau tidak. Hingga akhirnya memutuskan tidak pulang saja dan menginap di Kantor FAM.

Saya tidak sendiri menginap di kantor, tapi bersama salah seorang karyawan dan anak pertama saya yang perempuan. Sementara suami dan anak kedua berada di rumah (Malang). Menginap di kantor sudah menjadi hal biasa bagi saya, dan keluarga pun mengizinkan, sebab kantor tempat saya beraktivitas memang dirancang seperti rumah. Suasananya sama seperti di rumah. Saya merasa nyaman saja menginap di kantor.

Malam itu seperti biasa saya manfaatkan waktu malam hari untuk menulis dan menyelesaikan tugas-tugas. Belum juga jarum jam menunjuk ke  angka 10, karyawan dan anak pamit untuk tidur lebih awal. Sementara saya sendiri merasa belum mengantuk dan bermaksud melanjutkan menulis hingga pukul 23.00 WIB. Suasana hening membuat saya semakin  keasyikan mengerjakan tugas, mata semakin melek dan ide-ide berlesatan di kepala. Ah, andai tidak berbahaya bagi kesehatan fisik, saya ingin menuntaskan naskah novel malam itu juga. Rasanya tugas-tugas pun masih bejibun dan saya suka sekali menuntaskan tugas yang menumpuk di keheningan malam dalam keadaan sendiri, tak terganggu suara bising dan ah… romantis sekali he he.

Tepat pukul 22.30 WIB saya mendengar sebuah suara “jeduk” di kaca ruangan depan. “Ah, suara angin,” pikir saya tanpa menoleh ke arah suara. Padahal kaca ruangan depan berada tak jauh di sebelah kiri meja saya. “Jeduk.” Suara di kaca itu untuk yang kedua kali. “Ah, suara kaki kucing,” pikir saya tanpa menoleh juga dan masih tetap menatap ke layar laptop tanpa tergerak mengangkat kepala. Tiba-tiba disusul oleh suara ketiga dan keempat. Masih suara yang sama. Mulailah saya curiga dan diliputi rasa takut. Rasa takut yang merayap tiba-tiba itu mendorong saya untuk menoleh ke arah kaca, tapi tidak terlihat apa pun di sana. Hanya ada gorden penutup kaca yang diam membisu. Tak ada tanda-tanda angin bertiup atau ada kucing yang sedang bermain-main. Kalau pun itu kucing, rasanya aneh, suara di kaca itu lebih terdengar seperti ketukan tangan. Tapi tangan siapa? Muka saya mulai memucat dan rasa takut semakin kuat bercokol.

Saya tahu benar, tetangga samping kanan dan kiri tidak ada yang di luar rumah. Suasana rumah mereka sudah sepi sejak pukul 21.00 WIB, lampu-lampu di ruangan tengah mereka pun sudah dimatikan, pertanda penghuni rumah sudah beranjak ke pembaringan. Keanehan itu mau tak mau membuat kaki saya berjingkat dan memindah posisi duduk agar tidak terlihat kaca. Seharusnya saya mengakhiri mengerjakan tugas, tapi merasa tanggung untuk menutupnya. Saya rasa setengah jam lagi masih cukup untuk menyelesaikan tugas di malam itu. Begitulah kalau sudah terlanjur cinta menulis dan tugas, susah sekali berhenti he he.

Tapi karena rasa takut itulah, rencana menyelesaikan tugas hingga setengah jam kemudian pun harus dibatalkan. Hanya 10 menit saja saya bertahan. Buru-buru mematikan laptop dan masuk kamar, tanpa mematikan lampu ruangan depan. Baru 10 menit berbaring dengan mata yang sulit terpejam, tiba-tiba ada telepon.

“Coba lihat ke luar, lihat langit, ada apa di sana.” Suara suami di seberang. Saya terhenyak. Ada apa? Aduh, orang takut koq malah ditakut-takuti?

“Enggak berani, besok saja,” ujarku dengan bulu kuduk yang mulai merinding. Telepon ditutup.

Saya kembali mencoba tidur, tapi tak bisa. Telepon itu berbunyi lagi. Masih suami yang menelepon.

“Coba lihat keluar, lihat langit, tidak usah tidur,” ujarnya.

“Enggak berani,” jawabku masih seperti tadi.

“Coba lihat di langit ada api yang menyala-nyala.”

“Apa? Ada apa sebenarnya?” Saya mulai khawatir.

“Sepertinya Gunung Kelud akan meletus,” ujarnya lagi membuatku kaget, muka pucat dan langsung bangkit dari tempat tidur. Secara refleks langsung membangunkan karyawan dan anak yang sedang tidur lelap. Mereka pun setengah panik. Tanpa dikomando, bertiga langsung mengambil jilbab dan lari membuka pintu ruangan depan, langsung keluar dan menatap langit.

Innalillahi… api menjurai-jurai di langit kota Pare. Lidahnya seperti menjulur dan menyambar ke sana – ke mari diiringi kilat yang menimbulkan suara gemuruh. Suara itu membahana dan menakutkan. Kita meringis menatapnya. Ada takut, cemas, dan berbagai perasaan yang berkecamuk. Di jalanan tampak orang sibuk berlalu lalang dengan kendaraannya. Aneh sekali, biasanya jalanan tak seramai itu di malam hari. Sebagian orang ramai berteriak-teriak menyaksikan keanehan di langit itu. Ya Allah betapa kecilnya kami saat itu. Betapa tak berdayanya kami saat itu. Betapa bimbangnya kami, akan ke mana berlari dan minta pertolongan. Tak ada tempat berlari yang lebih aman, selain mendekat ke arah-Mu, bersimpuh dan menyerahkan seluruh diri pada-Mu. Keselamatan dan penjagaan hanya ada pada-Mu.

Dalam kondisi seperti itu, saya jadi teringat akan hari berakhirnya dunia, hari kiamat. Manusia akan berlarian tak tentu arah, ketakutan, dalam keadaan bingung dan tak tahu mencari perlindungan ke mana. Bencana datang dari mana-mana, dari bawah, atas, depan dan belakang. Langit seperti terbelah dan bumi tergulung. Suasana gelap dan pekat. Sungguh, mengerikan. Ini baru satu bencana saja yang dampaknya bisa menutup pulau Jawa dengan hujan abu. Lalu bagaimana kalau kiamat tiba, di mana semua gunung akan memuntahkan isi perutnya?

Keadaan berubah mencekam ketika batu-batu sebesar jempol tangan orang dewasa menghujani atap dan menimbulkan suara gemeletuk yang memiriskan. Disusul hujan pasir dan abu yang pekat. Jalanan yang tadi ramai mulai lengang, tapi masih terlihat beberapa kendaraan menerobos pekatnya malam dan hujan pasir. Panik, cemas dan takut tentu saja menghantui hati kami. Apa yang akan terjadi setelah ini? Kami tidak tahu. Apakah akan ada semburan awan panas, lahar panas, lahar dingin atau letusan berikutnya yang lebih dahsyat, kami benar-benar cemas. Dalam kondisi seperti itu, hanya bermunajatlah yang bisa kami andalkan sebagai senjata. Bibir kami melantunkan doa-doa memohon keselamatan, sambil terjaga di ruangan depan, gorden dibuka, pintu dibuka, berjaga-jaga kalau harus lari ke luar rumah karena ada gempa misalnya, atau atap yang ambruk akibat hujan batu. Listrik tiba-tiba padam, semakin lengkaplah kecemasan itu. Tak ada sebatang lilin pun di samping kami. Dalam kegelapan, kami merayap dan meraba-raba, siapa tahu kami menemukan lilin-lilin sisa.

Benar saja, beberapa menit kemudian kami menemukan dua batang lilin yang tidak utuh. Lumayan untuk bisa menerangi kami hingga keesokan hari. Namun masalah belum berakhir, korek api untuk menyalakan lilin tidak ada di tempat, dan memang sudah lama tidak membelinya. Kalau harus menyalakan kompor gas, itu bukan solusi, sebab menuju dapur harus melewati ruangan terbuka yang sedang dihujani batu dan pasir. Untung saja, tetangga sebelah rumah yang satu atap sudah bangun dan berbaik hati menyalakan lilin, setelah itu kembali ke rumahnya dan kami pun bertiga lagi. Duh…

Ruangan depan sudah terang dengan cahaya lilin, tapi muntahan perut gunung belum jua reda, kilatan-kilatan cahaya yang menimbulkan suara menggelegar masih terus terdengar, tak ada rasa kantuk sedikit pun justru perasaan cemaslah yang menyelimuti. Kalau kami tertidur, siapa yang akan membangunkan kami jika terjadi apa-apa? Saya telepon ibu, kakak juga sahabat, mengabarkan keadaan yang mencekam itu. Saya tahu memberi kabar pada jam tidak biasa, apalagi kabar bencana, itu tidak baik. Tapi saya ingin mereka mendoakan keselamatan kami dan warga di sini yang sedang ketakutan. Setidaknya mereka bisa menegarkan dan memberi kekuatan kepada kami lewat doa. Pulsa yang saya miliki ternyata menipis. Hanya tersisa dua ribu rupiah saja. Dengan sisa pulsa yang terbatas itulah, saya kirimkan sms kepada teman-teman mengabarkan keadaan dan memohon doa untuk keselamatan.

Tepat pukul 02.00 WIB, suara-suara menggelegar itu berhenti, hujan pasir reda, atap yang tadi  mengeluarkan suara-suara tak-tuk tiba-tiba sepi. Di luar tampak gelap, di dalam rumah juga gelap, lilin pun memuai dan apinya mati. Tak ada persediaan lilin lagi, tak ada pulsa, tak ada rumah yang buka, akhirnya kami bertiga menyeret kasur tipis ke ruangan depan dan berbaring di sana. Kami berusaha memejamkan mata, meski ketakutan masih menghantui. Kami pun tertidur dan baru terbangun oleh suara panggilan telepon sejak pukul 03.00 WIB. Suara ibu yang cemas di seberang sana, kabarnya beliau tidak tidur karena sangat khawatir. Kami pun bersyukur ketika mendapati tubuh kami dalam keadaan baik, atap rumah baik dan masih bisa dipakai untuk tempat bernaung.

Paginya kami menyaksikan lautan pasir dan abu di jalanan depan rumah. Kantor-kantor dan sekolah diliburkan. Warga lebih banyak disibukkan membersihkan atap rumah, halaman dan jalan yang dilalui dari sisa-sisa letusan.

Kami bernapas lega, mengucap syukur tak henti-henti bahwa Allah telah menyelamatkan kami dan tempat tinggal yang kami tempati. Saya juga bersyukur dengan hadirnya suara ketukan di kaca, meski masih tanda tanya, tapi saya menganggap itu sebuah peringatan agar kami terjaga. Ponsel pun sibuk dengan bunyi panggilan dan pesan pendek yang masuk. Keluarga, saudara, kerabat, sahabat dan teman-teman menanyakan keadaan kami. Subhanallah… bahagia sekali rasanya ketika mengabarkan bahwa kami baik-baik saja.

Sebenarnya di tahun 1982 – saat saya masih kecil – di Ciamis tempat kelahiran saya pernah terkena dampak letusan Gunung Galunggung, dan saya menyaksikan hujan abu lebat yang terjadi beberapa kali. Kejadian itu saja belum hilang dari ingatan. Letusan Kelud menjadi penambah catatan baru. Meletusnya Kelud di malam yang dielu-elukan kaum muda kapitalis sebagai valentine’s day, seakan menjadi teguran dan peringatan agar manusia semakin mendekat kepada-Nya. Sudah bukan rahasia lagi jika di malam valentine day, banyak anak muda yang merayakannya dengan berhura-hura, pesta minuman keras, pesta narkoba dan banyak remaja putri yang melepas kehormatannya demi mengagungkan  hari kasih sayang. Malam valentine day tahun ini yang mereka sambut dengan menyalakan kembang api di malam hari dan pesta kebebasan antara laki-laki dan perempuan, Tuhan menambah kemeriahannya dengan letusan amat dahsyat dan api menyala-nyala melebihi nyala kembang api mereka.

 

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 6,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Aliya Nurlela
Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia lahir di Ciamis dan berdomisili di dua kota (Malang-Kediri). Penulis sejumlah buku fiksi dan nonfiksi. Manager FAM Publishing.
  • gustimenik

    Like this mbak… boleh share ya? *salam kenal sesama org kasembon* maaf, share dulu baru ijin

Lihat Juga

Penyaluran bantuan untuk pembangunan masjid di Tolikara, Papua.  (BSMI)

BSMI Kembali Salurkan Bantuan Untuk Sinabung Dan Papua

Organization